TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ada kabar baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut di Indonesia. Kini ada terapi baru yang diprediksi bisa meningkatkan kesembuhan.
Gagal jantung adalah kondisi ketika otot jantung melemah sehingga tidak mampu memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh, yang ditandai dengan gejala utama seperti sesak napas, cepat lelah, dan pembengkakan pada kaki. Kondisi ini tidak berarti jantung berhenti total, melainkan kinerjanya menurun.
Pilihan terapi bertambah dengan hadirnya Left Ventricular Assist Device (LVAD), teknologi pompa jantung mekanis yang membantu kerja jantung ketika kemampuannya memompa darah telah menurun drastis.
Baca juga: Eks Polisi Anton Kurniawan Tewas di Lapas Palangka Raya, Ditjenpas: Gagal Jantung Bukan Akhiri Hidup
Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi pasien yang kondisinya tidak lagi dapat ditangani secara optimal hanya dengan terapi obat.
Pengembangan layanan tersebut menjadi penting mengingat gagal jantung masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat penyakit kardiovaskular.
Berdasarkan Global Burden of Disease (GBD) 2019, prevalensi gagal jantung di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 900–1.000 kasus per 100.000 penduduk, dengan angka kematian sekitar 34,1 persen.
Kepala Departemen Kardiovaskular Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Birry Karim, Sp.PD., Subsp.KV(K), mengatakan pasien gagal jantung stadium lanjut selama ini memiliki pilihan terapi yang relatif terbatas, mulai dari pengobatan, pemasangan alat bantu tertentu, hingga transplantasi jantung yang belum mudah diakses.
Menurutnya, LVAD menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien yang membutuhkan dukungan sirkulasi darah dalam jangka panjang.
Alat ini berupa pompa mekanis yang dipasang melalui operasi untuk membantu ventrikel kiri, ruang utama pemompa jantung, mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
"Pengembangan layanan LVAD merupakan bagian dari transformasi penanganan gagal jantung di Indonesia. Perangkat generasi terbaru yang akan digunakan memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan teknologi sebelumnya sehingga membuka peluang tindakan yang lebih aman dan efektif bagi lebih banyak pasien," ujar Birry di sela penerimaan donasi LVAD di RSCM, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Birry menjelaskan, LVAD tidak menggantikan fungsi jantung sepenuhnya, melainkan membantu kerja ventrikel kiri sehingga beban kerja jantung berkurang.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan penggunaan alat ini dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus memperpanjang harapan hidup pasien yang memenuhi indikasi medis.
Ia menambahkan, LVAD dapat digunakan sebagai terapi sementara bagi pasien yang sedang menunggu transplantasi jantung (bridge-to-transplant) maupun sebagai terapi jangka panjang (destination therapy) bagi pasien yang tidak memungkinkan menjalani transplantasi.
Sebagai tahap awal implementasi, RSCM dijadwalkan melakukan pemasangan LVAD pertama pada seorang pasien perempuan berusia 45 tahun yang memiliki fungsi pompa jantung sekitar 14 persen dan telah berulang kali menjalani perawatan akibat gagal jantung.
Pengembangan layanan LVAD dilakukan melalui kolaborasi RSCM dengan HeartSPAN.ai, divisi layanan heart longevity dari Borderless Healthcare Group (BHG).
Kerja sama tersebut tidak hanya menghadirkan perangkat LVAD, tetapi juga mencakup pelatihan tenaga medis, pengembangan layanan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta transfer pengetahuan dari sejumlah pusat kardiovaskular dunia.
Direktur Utama RSCM, dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap terapi gagal jantung modern di dalam negeri sekaligus memperkuat kapasitas layanan jantung nasional.
"Kami menyambut baik kesempatan untuk menghadirkan solusi penanganan gagal jantung yang lebih maju di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kematian akibat gagal jantung yang masih tinggi, sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi inovatif tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri," ujarnya.
Sebagai bagian dari pengembangan layanan, tim multidisiplin RSCM yang terdiri atas dokter spesialis jantung, dokter bedah jantung, perawat, dan tenaga rehabilitasi telah menjalani pelatihan di Fuwai Hospital, Beijing.
Pelatihan tersebut mencakup seleksi pasien, teknik implantasi LVAD, hingga tata laksana pascaoperasi sesuai standar internasional.
Selain meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, teknologi AI juga akan dimanfaatkan untuk membantu proses seleksi pasien, penyusunan protokol klinis, serta memperkuat konsultasi antara dokter di Indonesia dengan pusat-pusat layanan jantung dunia.