Harga Pertamax Turun Mulai 1 Agustus 2026, Antrean Pertalite di SPBU Palembang Masih Mengular
tarso romli August 01, 2026 06:27 PM

 

Baca juga: Antrean BBM Subsidi Kian Mengular di Pagar Alam, Dugaan Praktik Pelangsir Jadi Sorotan

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang resmi berlaku per 1 Agustus 2026 ternyata belum berdampak signifikan terhadap pergeseran pola konsumsi masyarakat di Kota Palembang. Di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), antrean panjang kendaraan roda dua maupun roda empat untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite masih tampak mengular sejak pagi hingga siang hari.

Pantauan Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di sejumlah titik SPBU di Palembang, Sabtu (1/8/2026), menunjukkan jalur pengisian Pertalite tetap dipadati kendaraan.

Sebaliknya, jalur pengisian untuk BBM non-subsidi terpantau jauh lebih lengang dibandingkan sebelum adanya kenaikan harga beberapa waktu lalu.

Mulai awal Agustus 2026 ini, PT Pertamina Patra Niaga memang kembali melakukan penyesuaian harga ke bawah untuk sejumlah produk BBM non-subsidi.

Di wilayah Palembang, harga Pertamax (RON 92) turun tipis dari Rp16.650 menjadi Rp16.300 per liter atau terpangkas Rp350.

Penurunan lebih besar terjadi pada jenis BBM non-subsidi lainnya. Harga Pertamax Turbo kini dipatok Rp18.300 per liter dari sebelumnya Rp19.300 per liter.

Sementara itu, Dexlite turun signifikan menjadi Rp20.150 dari harga sebelumnya Rp23.500 per liter, dan Pertamax Dex turun dari Rp25.350 menjadi Rp21.650 per liter.

Adapun harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan sama sekali, di mana Pertalite tetap dijual seharga Rp10.000 per liter dan Bio Solar Rp6.800 per liter.

Belum Berpengaruh Signifikan

Pengawas SPBU 24.302.175 Jakabaring—yang berlokasi tidak jauh dari Mapolrestabes Palembang—Johan, mengungkapkan bahwa penyesuaian harga tersebut belum mendongkrak tingkat konsumsi Pertamax secara berarti pada hari pertama pemberlakuannya.

"Sejauh ini penjualan masih normal. Penurunan harga baru berlaku semalam, jadi kemungkinan masyarakat juga belum banyak mengetahui informasinya," ujar Johan, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Johan, lonjakan harga Pertamax sebelumnya sempat memicu migrasi besar-besaran konsumen ke Pertalite, yang membuat volume penjualan Pertamax di SPBU tersebut merosot hingga 50 persen.

 Jika sebelumnya penjualan Pertamax bisa menyentuh angka 12.000 liter per hari, pascakenaikan harga angkanya anjlok menjadi kisaran 6.000 hingga 7.000 liter per hari.

Sebaliknya, permintaan terhadap Pertalite melonjak tinggi dengan rata-rata penyaluran mencapai 32 kiloliter per hari.

Tingginya permintaan ini membuat stok Pertalite di SPBU yang beroperasi selama 24 jam itu kerap ludes lebih cepat dari biasanya.

"Sekarang sekitar pukul 19.00 sampai 20.00 WIB Pertalite sudah habis karena banyak konsumen yang beralih. Menurut saya, kalau harga Pertamax turun lagi sekitar Rp1.000, kemungkinan baru bisa mengurangi antrean Pertalite," ungkapnya.

Pandangan Konsumen

Penurunan harga sebesar Rp350 juga dinilai belum cukup kuat untuk mengubah keputusan para pelaku usaha.

Andika Saputra (30), seorang pelaku usaha pemasok daging beku di Palembang, mengaku seluruh armada operasional perusahaannya tetap diinstruksikan menggunakan Pertalite guna menekan biaya pengeluaran harian.

"Begitu harga Pertamax naik lebih dari Rp4.000 waktu itu, perusahaan langsung menginstruksikan semua kendaraan memakai Pertalite. Turun Rp350 sekarang belum terlalu berpengaruh bagi kami," kata Andika.

Kendati demikian, ia mengaku antrean sekitar 15 menit di SPBU masih dapat ditoleransi karena distribusi ke rumah makan dan katering umumnya dilakukan pada sore hari.

Di sisi lain, sebagian kecil pengguna kendaraan tetap setia menggunakan BBM non-subsidi atas dasar pertimbangan kualitas mesin.

Dhani, seorang pengemudi ojek online, mengaku tetap memilih Pertamax meski harganya sempat melambung tinggi.

"Dari dulu saya tetap pakai Pertamax. Mesin motor terasa lebih ringan dan enak dipakai. Memang sekarang turun sedikit, tapi kalau bisa kembali di kisaran Rp13 ribuan tentu lebih baik," pungkasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.