Tak Pernah Terbayang Sampai Vatikan, Patung Karya Perajin Yogyakarta Diterima Paus Leo XIV
Cristin Adal August 01, 2026 06:42 PM

 

TRIBUNFLORES.COM, YOGYAKARTA - Sebuah patung yang dibuat di sebuah galeri seni di Yogyakarta akhirnya sampai ke Vatikan dan diterima langsung oleh Paus Leo XIV. Bagi Niko Harahap Tanubrata, pemilik Brata Gallery, peristiwa itu menjadi pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Patung St. Yusuf Arimatea tersebut awalnya hanya dibuat berdasarkan permintaan AM Putut Prabantoro, Founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Niko mengaku saat menerima pesanan itu, ia tidak mengetahui bahwa karya tersebut akan dipersembahkan langsung kepada Paus Leo XIV.

“Waktu itu saya gak ngebayangin. Tahunya hanya dibawa ke Vatikan. Kalau akhirnya bisa diterima Paus, ya berkah luar biasa untuk saya,” ujar Niko saat ditemui di Yogyakarta pada Mei 2026.

Menurut Niko, dirinya sempat berpikir patung tersebut hanya akan ditempatkan di museum Vatikan. Ia tidak pernah membayangkan karya yang dibuat oleh tim kecil di Brata Gallery itu mendapat perhatian luas.

“Saya kaget karena tidak mengira patung itu diterima Paus Leo. Saya tahunya cuma mau dibawa ke Vatikan, dan saya pikir mungkin untuk museum. Saya happy banget, patung bisa masuk ke Vatikan dan diterima langsung Paus Leo,” katanya.

Baca juga: Kardinal Suharyo Ungkap 2 Alasan Bahasa Indonesia Digunakan Sebagai Bahasa Resmi Komunikasi Vatikan

Dibuat Tanpa Referensi Patung Sebelumnya

Niko mengatakan pembuatan patung St. Yusuf Arimatea menjadi pengalaman yang berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya.

Selama ini, Brata Gallery lebih banyak membuat patung tokoh-tokoh Kitab Suci seperti Yesus, Bunda Maria, Santo Yusuf, bayi Yesus, dan para santo-santa.

Namun, sosok Yusuf Arimatea menjadi tantangan tersendiri karena belum ada referensi patung yang bisa dijadikan acuan.

“Waktu itu bulan Agustus Pak Putut cuma omong, coba cari patung Yusuf Arimatea. Tapi gak ada referensi,” kata Niko.

Ia kemudian membuat sketsa awal berdasarkan penjelasan Putut Prabantoro mengenai karakter dan ekspresi Yusuf Arimatea.

“Karena itu saya usul langsung eksekusi saja, diterapkan dalam tanah liat. Terus proses, trial dan error. Saya panggil Pak Putut, begini Pak hasilnya. Pak Putut mengkritisi dan saya ubah lagi. Sekitar lima sampai enam kali perubahannya,” ujarnya.

Menurut Niko, proses pembuatan patung tersebut melibatkan tiga pihak, yakni Lambertus Widiantoro yang mendapat vision, Putut Prabantoro sebagai penerjemah pesan tersebut, serta dirinya sebagai pembuat patung.

Baca juga: Siapa Mgr Walter Erbi? Diplomat Asal Italia yang Ditunjuk Paus Leo XIV ke Indonesia

Sosok Yusuf Arimatea dan Perjalanan ke Vatikan

Dalam kisah Injil, Yusuf Arimatea dikenal sebagai tokoh yang memberikan tempat pemakaman bagi Yesus Kristus setelah wafat di kayu salib.

Ia merupakan anggota Majelis Besar Mahkamah Yahudi (Sanhedrin), seorang yang dihormati, kaya raya, sekaligus murid rahasia Yesus.

Patung tersebut kemudian dibawa oleh delapan orang delegasi Indonesia dalam audiensi dengan Paus Leo XIV pada 25 Maret 2026.

Delegasi itu terdiri dari lima anggota PWKI, yakni AM Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Asni Ovier Dengen Paluin, Stanislaus Jumar Sudiyana, dan Bonfilio Mahendra Wahanaputera.

Selain itu terdapat perwakilan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yakni Mgr Agustinus “Didik” Tri Budi Utomo dan Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo, serta Rm Markus Solo Kewuta SVD sebagai pejabat Vatikan asal Indonesia yang mendampingi rombongan.

Brata Gallery Mendapat Pesanan Baru

Setelah kabar patung St. Yusuf Arimatea diterima Paus Leo XIV tersebar, Brata Gallery mendapat pesanan baru yang disebut Niko sebagai pengalaman pertama sepanjang perjalanan galerinya.

Seseorang dari Bandung memesan patung serial Jalan Salib sebanyak 14 stasi dengan tinggi masing-masing 180 sentimeter.

Menariknya, pemesan meminta setiap stasi hanya terdiri atas dua tokoh. Namun, Niko mengusulkan tambahan satu tokoh pada stasi ketiga belas, yakni adegan Pieta ketika Bunda Maria memangku jenazah Yesus.

Menurut Niko, pemesan tersebut ingin membuat karya Jalan Salib untuk rumah pribadi dengan konsep berbeda.

“Dia mau beda, tidak ada Pontius Pilatus. Dan dia sudah membayar DP. Mungkin ini jalan Tuhan,” katanya.

Ingin Melihat Vatikan Secara Langsung

Peristiwa tersebut membuat Niko dan Linda, staf Brata Gallery yang terlibat dalam pembuatan patung, memiliki keinginan untuk berkunjung ke Vatikan.

Niko mengaku ingin melihat langsung tempat di mana karya mereka diterima oleh Paus Leo XIV.

“Saya mau banget ke Vatikan, apalagi ketemu Paus. Waktu Paus Fransiskus ke Jakarta saja kami tidak dapat. Padahal patung Maria Bunda Segala Suku yang ada di dekat altar saat Misa Kudus di GBK itu buatan kami,” ujarnya.

Bagi Niko, perjalanan patung St. Yusuf Arimatea dari Yogyakarta hingga Vatikan menjadi pengalaman spiritual dan profesional yang tidak pernah direncanakannya.

“Kalau akhirnya bisa diterima Paus, ya berkah luar biasa untuk saya,” ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.