TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Bappenas, Drs. Amich Alhumami, menyoroti pentingnya investasi gizi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama untuk mendukung tumbuh kembang anak pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Amich mengatakan, investasi gizi memiliki dasar akademik dan empiris yang kuat, terutama karena status gizi berhubungan dengan tumbuh kembang otak dan kemampuan anak pada masa mendatang.
"Manfaatnya itu secara akademik, secara empirik, itu nggak ada pertanyaan. Jadi kekeliruannya itu ada pada saat waktu keluar," ujar Amich, dalam Seminar Kebangsaan KAHMI 2026 bertajuk Solusi Pencapaian Empat Tujuan NKRI Melalui Politik yang Berbudaya, yang digelar YAHMI di Graha HMI Cabang Bandung, Jalan Sabang, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, periode 1.000 hari pertama kehidupan sejak pembuahan, merupakan fase kritis yang menentukan tumbuh kembang otak. Karena itu, kondisi gizi ibu hamil hingga bayi perlu mendapat perhatian.
"Tumbuh kembang otak itu tergantung pada stimulasi investasi gizinya. Dan itu periode kritisnya itu adalah 1000 hari pertama kehidupan sejak pembuahan," katanya.
Amich mengatakan, kondisi ibu selama kehamilan juga perlu terus dipantau untuk memastikan kebutuhan gizi bayi terpenuhi.
"Dan mengapa penting kehamilan itu dikontrol terus supaya dicek status bayi di dalam itu apakah cukup apa tidak gizinya," ujarnya.
Amich juga menyoroti persoalan stunting yang dinilainya berkontribusi terhadap rendahnya kecerdasan anak. Menurutnya, prevalensi stunting di sejumlah negara masih tinggi, sementara negara dengan ekonomi maju memiliki angka yang jauh lebih rendah.
"Ini stunting yang menyumbang pada kecerdasan rendah. Dan sebarannya sudah dipetakan Indonesia. Persentase kalau di atas 20 persen itu tinggi sekali. Negara-negara yang ekonomi maju itu di bawah 5 persen," katanya.
Amich juga menyinggung kondisi Jawa Barat yang disebutnya memiliki persentase stunting tinggi, karena jumlah penduduk yang besar.
"Dan Jawa Barat itu tertinggi, persentasenya tinggi, populasinya tinggi, mendekati 900 penderita stunting," ucapnya.
Karena itu, kata Amich, sasaran MBG tidak hanya anak usia sekolah. Ibu hamil, ibu menyusui, dan balita juga menjadi kelompok penting karena berkaitan langsung dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan.
"Sasaran MBG itu adalah ibu hamil, ibu menyusui, balita. Ibu hamil, ibu menyusui karena anak berada dalam 1000 hari pertama kehidupan itu," katanya.
Untuk kelompok anak sekolah, kata Amich, Bappenas merekomendasikan pendekatan kelompok sasaran atau targeted groups, antara lain anak PAUD, SD, MI, dan SMP.
"Dan anak-anak usia sekolah, ini kaitannya nanti Bappenas merekomendasikan targeted groups: anak PAUD dan anak SD, MI, SMP, supaya manageable," ucapnya.
Menurut Amich, penerapan program secara masif dengan cakupan lebih dari 82 juta penerima menjadi tantangan tersendiri. Ia menilai kelompok penerima manfaat perlu diidentifikasi agar pelaksanaan program lebih terarah.
"Targeted groups, tidak masif. Padahal ini obsesinya 82 lebih juta. Nggak manageable gitu," katanya.
Amich mencontohkan hasil studi PISA (Programme for International Student Assessment) yang menunjukkan masih terdapat anak Indonesia yang mengalami persoalan akses terhadap makanan. Ia mengatakan, mayoritas anak yang disurvei menyebut mereka makan ketika pergi ke sekolah.
"Jadi ada anak-anak yang makan terakhir itu mungkin jam 5 kemarin sore, dan begitu pagi mereka pergi ke sekolah. Mengapa tidak itu saja yang disasar? Itu bisa diidentifikasi, bisa dicari. Itu strateginya," ucapnya.
Meski menyoroti persoalan pelaksanaan dan penentuan sasaran, Amich menegaskan bahwa gagasan investasi pembangunan gizi dalam program MBG memiliki dasar yang kuat.
"Dari sisi gagasan, no doubt (tidak diragukan), itu amat sangat meyakinkan menyumbang pada pembangunan gizi," katanya.
Ia juga menyebut pentingnya memanfaatkan infrastruktur sosial yang telah tersedia, seperti Posyandu dan Puskesmas, untuk mendukung pelaksanaan program pembangunan gizi.
Posyandu, kata dia, merupakan salah satu infrastruktur sosial yang masih bertahan dan dapat dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai program kesehatan dan gizi masyarakat.
"Posyandu itu infrastruktur sosial yang bisa jalan sampai sekarang masih ada dan tetap efektif bagian dari warisan paling berharga Orde Baru. Puskesmas kah, Posyandu kah, itu bisa menjadi instrumen untuk melaksanakan program-program tersebut sekarang," katanya.