TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perkembangan internet, algoritma, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi titik berangkat pameran Broken White Project #32 bertajuk 'No Longer Human' yang berlangsung di Ace House, Langgeng Art Space, Yogyakarta, mulai 31 Juli hingga 4 September 2026.
Menghadirkan karya Agan Harahap, Azizi Al Majid, Eko Nugroho, Popok Tri Wahyudi, dan Rizal Nugraha, pameran ini mengajak pengunjung merefleksikan kembali posisi manusia di tengah dunia digital yang semakin memengaruhi cara berpikir, mengingat, hingga mengambil keputusan.
Penulis pameran, Febrian A. Hasibuan, menjelaskan tema tersebut berangkat dari pertanyaan sederhana, namun mendasar, mengenai apa yang masih tersisa dari manusia ketika sebagian besar aktivitasnya telah diterjemahkan menjadi data.
"Dunia digital bekerja dengan sistem yang mencacah kita, kemudian dirakit menjadi algoritma dan AI. Pertanyaannya, kalau semuanya sudah diserahkan ke sana, apa yang tidak kita serahkan? Atau apa yang masih tersisa untuk disebut manusia?" ujarnya.
Menurut Febrian, pameran ini bukan dimaksudkan sebagai penolakan terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, internet dan AI dipandang sebagai keniscayaan yang perlu terus dibaca secara kritis.
"Saya kira pilihannya bukan suka atau tidak suka terhadap internet, tetapi bagaimana kita melihat dan memosisikannya. Di situlah posisi para seniman bekerja," katanya.
Ia mengatakan kelima seniman dipilih karena praktik berkaryanya memiliki irisan dengan internet maupun perkembangan teknologi digital. Namun, masing masing menghadirkan sudut pandang berbeda dalam merespons perubahan tersebut.
“Benang merahnya karena mereka semua hidup dan bekerja bersentuhan dengan internet. Karya karya mereka menunjukkan berbagai keterbatasan yang muncul ketika manusia berhubungan dengan dunia digital," ujarnya.
Dalam pameran ini, Agan Harahap melihat kemunculan AI justru membuka kemungkinan baru dalam praktik berkesenian. Menurutnya, teknologi tidak menghapus peran seniman, melainkan mengubah cara berpikir dalam berkarya.
"Dengan AI pola berpikir saya berubah. Saya tidak lagi melihatnya sebagai batasan, tetapi sebagai kemungkinan baru," kata Agan.
Meski demikian, ia menilai teknologi tetap hanya berperan sebagai alat bantu. Ide, pengalaman, dan cara pandang manusia tetap menjadi unsur utama dalam proses kreatif.
"AI adalah asisten. Yang menentukan tetap manusia, dengan pemikiran, referensi, dan pengalaman yang dimiliki," ujarnya.
Sementara itu, Eko Nugroho mengaku internet telah menjadi sumber inspirasi penting dalam kesehariannya. Meski demikian, ia tetap memilih mempertahankan pendekatan manual dalam proses berkarya.
"Informasi dari internet banyak membuka wawasan saya. Tetapi output karya saya tetap kembali pada tangan, rasa, dan otak," katanya.
Melalui karya yang ditampilkan, Eko juga menyoroti bagaimana dunia digital kerap membuat manusia hanya menjadi penonton berbagai peristiwa kemanusiaan.
"Kita bisa melihat kehancuran, kesusahan, atau kematian hanya dari layar. Kita memberi simpati lewat komentar atau tanda suka, tetapi ada jarak yang membuat kita mempertanyakan kembali kepedulian itu," ujarnya.
Broken White Project sendiri merupakan program pameran yang diinisiasi Ace House Collective untuk mendampingi proses kreatif seniman melalui kolaborasi, kurasi, dan pengembangan praktik artistik.
Melalui edisi ke 32 bertajuk 'No Longer Human', pameran ini mengajak publik melihat kembali relasi manusia dengan teknologi yang semakin melebur dalam kehidupan sehari hari, bukan untuk mencari jawaban tunggal, melainkan membuka ruang diskusi mengenai makna menjadi manusia di era digital. (nto)