Baca juga: Petani di OKU Timur Andalkan Gas LPG untuk Pompa Air, Gas Melon Langka, Sawah Terancam Gagal Panen
SRIPOKU.COM, INDRALAYA — Dampak musim kemarau mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Para petani padi di Kecamatan Rantau Panjang mengeluhkan kondisi lahan persawahan mereka yang kini kering kerontang dan dipastikan terancam gagal panen akibat krisis air.
Seorang petani setempat, Harisun, mengungkapkan bahwa intensitas hujan di wilayah tersebut mulai merosot drastis sejak bulan April lalu.
Puncaknya, dalam sebulan terakhir tidak ada satu pun tetesan hujan yang membasahi lahan pertanian mereka.
"Dan satu bulan terakhir tidak ada hujan. Lahan [sawah] kering kerontang," kata Harisun kepada Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (1/8/2026) petang. Ia memperkirakan, jika hujan tak kunjung turun dalam dua pekan ke depan, gelombang kegagalan panen akan semakin meluas melanda para petani.
"Kegagalan panen ini tidak serentak, ya, dia bertahap. Petani tinggal menunggu giliran," ujarnya.
Sebenarnya, wilayah Rantau Panjang memiliki potensi sumber air yang sangat melimpah, yakni Sungai Ogan.
Namun, jarak antara aliran sungai dan lahan persawahan berkisar antara 100 hingga 150 meter, sehingga kelompok tani tidak memiliki kemampuan finansial maupun teknis untuk menyediakan instalasi pengairan mandiri yang memadai, seperti mesin pompa air bertenaga tinggi.
Oleh karena itu, Harisun mewakili para petani meminta jajaran Pemkab Ogan Ilir untuk turun langsung melihat kondisi riil di lapangan.
"Kalau pemerintah lihat langsung lahan sawah yang kering dan retak-retak ini, seharusnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Petani butuh mesin pompa air, syukur-syukur bisa bantu sumur bor," tutur Harisun.
Menurutnya, jika fasilitas sumur bor dan pompa terpenuhi, petani dapat mengantisipasi musim kemarau sehingga tetap bisa memanen padi dua hingga tiga kali dalam setahun.
"Cobalah tinjau langsung ke lahan pertanian ini. Jadi bukan cuma rapat saja," ucapnya menyayangkan.
Respons Pemerintah Daerah
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ogan Ilir, Deddy Setiawan, menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya telah menyalurkan bantuan mesin pompa air kepada para petani di Kecamatan Rantau Panjang sejak April lalu.
"Bantuan terdiri dari enam unit pompa irigasi, enam unit pompa tenaga surya, dan 35 unit pompa portabel guna mengatasi kekeringan lahan," jelas Deddy saat dihubungi terpisah.
Sementara itu, Bupati Ogan Ilir, Panca Wijaya Akbar, menegaskan bahwa pemerintah daerah siap menganggarkan pengadaan mesin pompa air tambahan guna menanggulangi kekeringan lahan pertanian di berbagai titik.
Panca mengaku telah menerima laporan terkait kekeringan sawah di sejumlah wilayah.
"Kami sudah memanggil Dinas Pertanian untuk memetakan lokasi atau titik mana saja yang mengalami kekeringan," kata Panca.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa proses pengadaan barang milik daerah harus melewati mekanisme birokrasi yang berlaku dan tidak bisa instan.
"Dalam pengadaan barang itu memang tidak bisa instan. Setelah pemetaan oleh dinas terkait, nanti agar bisa ditindaklanjuti pada ABT (Anggaran Belanja Tambahan) atau penganggaran berikutnya," pungkas Panca.
Baca juga: Sawah Kekeringan di OKI, Petani Lubuk Seberuk Rogoh Kocek Rp100 Ribu per Hari untuk Kebutuhan Air