Oleh : RP John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Josef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Hari Minggu Biasa Pekan XVIII Thn A-II 2 Agustus 2026 dari RP. John Lewar SVD berjudul “Jangan Hanya Kenyang Perut, Kenyangkanlah Jiwamu”.
Renungan Harian Katolik dari RP. John Lewar SVD merujuk pada Bacaan I : Yesaya 55:1–3; Mazmur 145:8–9, 15–18; Roma 8:35, 37–39;Matius 14:13–21.
Kisah Nyata: “Nasi Bungkus di Tengah Bencana”
Beberapa tahun lalu, ketika terjadi banjir besar di salah satu daerah di Indonesia, seorang relawan muda setiap hari membagikan nasi bungkus kepada para pengungsi.
Suatu hari ia melihat seorang ibu menerima makanan itu sambil meneteskan air mata.
Relawan itu berkata, “Bu, maaf hanya bisa memberi makanan sederhana.” Ibu itu menjawab, “Yang membuat saya terharu bukan nasinya, tetapi karena masih ada orang yang peduli kepada kami.”
Kisah ini menyentuh hati kita: manusia tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuh, tetapi juga kasih, perhatian, dan harapan untuk jiwanya.
Bacaan hari Minggu ini berbicara tentang kelaparan manusia. Nabi Yesaya berseru: “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah… dengarkanlah Aku, maka kamu akan menikmati hidangan yang lezat.” (Yes 55:1–2).
Undangan Allah ini sangat relevan dengan keadaan zaman sekarang. Banyak orang memiliki makanan yang cukup, rumah yang nyaman, bahkan teknologi yang canggih, tetapi hatinya tetap kosong.
Kita melihat begitu banyak orang mengalami stres, kecemasan, kesepian, dan kehilangan makna hidup. Ada 4 pokok permenungan bagi kita pada hari minggu ini.
Pertama, Yesus peduli pada kebutuhan manusia. Dalam Injil Matius, Yesus melihat orang banyak yang mengikuti-Nya ke tempat sunyi.
Mereka lapar dan kelelahan. Murid-murid berkata agar orang banyak disuruh pulang untuk membeli makanan sendiri.
Namun Yesus menjawab: “Kamu harus memberi mereka makan.” Murid-murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Jumlah itu tampak tidak berarti dibandingkan ribuan orang yang hadir.
Tetapi ketika diserahkan kepada Yesus, makanan itu diberkati, dipecah-pecahkan, dan dibagikan hingga semua orang makan sampai kenyang.
Mukjizat ini mengajarkan bahwa kasih yang diserahkan kepada Tuhan tidak pernah menjadi terlalu kecil.
Kedua, Kelaparan yang terjadi saat ini. Kelaparan zaman modern tidak selalu tampak pada perut yang kosong.
Banyak orang sebenarnya sedang lapar akan perhatian dalam keluarga, kasih sayang yang tulus, pengampunan dan penerimaan, kedamaian hati, dan harapan untuk masa depan.
Ada anak yang setiap hari mendapat uang saku, tetapi jarang diajak berbicara oleh orang tuanya. Ada orang tua yang hidup berkecukupan, tetapi merasa kesepian karena anak-anak sibuk dengan dunia masing-masing.
Ada kaum muda yang terus mencari pengakuan melalui media sosial, tetapi semakin merasa tidak berharga.
Kita sering berusaha mengenyangkan hati dengan uang, hiburan, popularitas, atau belanja, padahal jiwa manusia hanya dapat dipuaskan oleh Allah sendiri.
Ketiga, Kasih Kristus tidak pernah habis. Santo Paulus dalam bacaan kedua memberi penghiburan yang luar biasa: “Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus.” (Rm 8:39).
Ketika ekonomi sulit, kesehatan terganggu, atau keluarga menghadapi masalah, kita mudah merasa Tuhan jauh. Namun Sabda Tuhan menegaskan bahwa kasih Kristus tetap tinggal bersama kita, bahkan ketika semua yang lain berubah.
Keempat, Ada Lima Roti dan Dua ikan kita. Yesus tidak meminta muridmurid menciptakan makanan dari ketiadaan. Ia memakai apa yang sudah ada.
Maka hari ini Tuhan juga bertanya kepada kita: Apakah saya mau memberikan waktu untuk keluarga? Apakah saya mau memberikan senyuman dan sapaan kepada orang yang sedang sedih?
Apakah saya mau berbagi rezeki, walaupun tidak banyak? Apakah saya mau memberikan doa dan perhatian bagi mereka yang menderita? Sedikit yang diberikan dengan kasih dapat menjadi berkat besar bagi banyak orang.
Pesan untuk Hidup kita:
Hari Minggu ini Tuhan mengingatkan: Jangan hanya bekerja untuk kenyang hari ini, tetapi carilah juga makanan yang memberi hidup kekal.
Tubuh memang membutuhkan roti, tetapi jiwa membutuhkan Sabda Tuhan, doa, Ekaristi, dan kasih yang dibagikan kepada sesama.
Orang yang dekat dengan Tuhan akan mampu menjadi sumber penghiburan bagi orang lain. Refleksi Pribadi. Apa yang selama ini paling saya kejar dalam hidup? Apakah saya sudah memberi makan jiwa saya dengan doa dan Sabda Tuhan?
Siapa di sekitar saya yang sedang “lapar” akan perhatian dan kasih? Apa “lima roti dan dua ikan” yang bisa saya persembahkan minggu ini?
Doa:
Tuhan Yesus yang penuh belas kasih, Engkau memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan. Kami bersyukur karena Engkau selalu memperhatikan kebutuhan hidup kami.
Sering kali kami lebih sibuk mengejar hal-hal duniawi daripada memelihara kehidupan rohani kami.
Datanglah dan kenyangkanlah hati kami dengan Sabda-Mu dan dengan kasih-Mu.
Ajarlah kami untuk peduli kepada sesama yang lapar, bukan hanya lapar akan makanan, tetapi juga lapar akan perhatian, penghiburan, dan harapan.
Jadikanlah hidup kami roti yang dipecah-pecahkan bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat. Sebab hanya Engkaulah sumber kepenuhan hidup kami, kini dan sepanjang masa. Amin. (*)