BOLASPORT.COM - Casey Stoner dipuji dan disentil saat kisahnya sebagai pembalap penguji Ducati diceritakan kembali. Test rider pabrikan Borgo Panigale saat ini Michele Pirro menjadi penuturnya.
Nuansa ketegangan terasa antara Casey Stoner dan Ducati setelah komentar-komentar yang keluar dari mantan kombinasi pembalap dan motor juara dunia MotoGP ini.
Belum lama ini, Stoner menyinggung kurangnya apresiasi ketika ditanya ucapan terima kasih dari rider Ducati, Francesco Bagnaia, dalam World Ducati Week pada awal Juli lalu.
Stoner telah beberapa kali nongol di garasi Bagnaia, utamanya dalam tes tengah musim di Misano ketika murid Valentino Rossi itu mengalami kesulitan hebat tahun lalu.
"Sebuah kehormatan untuk mendengar Pecco (Bagnaia) berterima kasih dan tidak ada alasan lain bagi saya selain untuk membantunya," ucap Stoner, dikutip dari GPone.com.
"Sayangnya, saya telah melakukannya berkali-kali pada masa lalu dan mereka hanya pergi begitu mendapatkan pengetahuan kita dan mengabaikan kita."
Stoner sendiri menjadi sosok yang disegani di Ducati karena menghadirkan kesuksesan gelar juara dunia yang pertama di MotoGP pada 2007 silam.
Kendati sempat pindah ke Honda (dan menjadi juara lagi di sana), Stoner kembali untuk peran sebagai pembalap penguji pada 2016-2018.
Semasa menjadi test rider, beberapa kali Stoner mencuri perhatian karena catatan waktu yang menyaingi kalau tidak mengungguli para pembalap yang masih aktif.
Namun, di sanalah letak kekurangan The Kuri-Kuri Boy dalam urusan pengembangan seperti dikatakan Michele Pirro dalam siniar MigBabol yang dipandu eks pembalap, Andrea Migno.
"Dia datang untuk uji coba, menyelesaikan 2 atau 3 lap dengan pace luar biasa, dan kemudian sulit untuk melanjutkannya," tukas Pirro.
"Ini dua hal yang berbeda antara melaju beberapa lap dengan tarikan gas penuh dan menyelesaikan 20 lap beruntun atau menuntaskan durasi balapan penuh."
Pirro sendiri menjadi pembalap penguji sebelum Stoner di Ducati dan berlanjut sampai sekarang. Dia mendapat kredit atas keberhasilan Ducati hingga mendominasi kejuaraan.
Menurut Pirro ada perbedaan sudut pandang antara Stoner dan Ducati dalam hal pengembangan motor.
Stoner menghendaki motor yang mampu mengeluarkan seluruh potensinya sekaligus. Dia menerima risiko minimnya kemudahan berkendara yang timbul karenanya.
Pendekatan Stoner menimbulkan masalah ketika tidak ada yang bisa mengikuti setelan motornya saat itu, termasuk pembalap sekaliber Jorge Lorenzo dan Andrea Dovizioso.
"Lorenzo mencoba setelahnya dan langsung kembali ke pit. Saya sendiri hanya menjalani satu putaran dengannya," ungkap Pirro.
Saking di luar nalarnya, umpan balik Stoner sulit dipercaya, termasuk soal bagaimana dia melibas sektor-sektor di sirkuit.
Pirro menambahkan bahwa Stoner tidak berbohong karena kalimatnya sesuai dengan data telemetri yang muncul dari sesi uji cobanya.
Namun, untuk bisa mengeluarkan seluruh performa motor dengan cara Stoner, diperlukan daya tahan fisik yang benar-benar kuat.
"Ducatinya bisa melaju, tetapi untuk satu lap dengan limit absolut, jantung kita harus berdetak 280 per menit dan kedua lengan tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah itu."
"Kami harus mencoba membangun motor yang bisa membantu pembalap mencapai level yang baik dengan mudah dan menambah hal-hal ekstra saat diperlukan," ucapnya.
Di bawah arahan Luigi Dall'Igna, Ducati mempercepat inovasi yang membantu pembalap melalui elektronik, aerodinamika, hingga ride height device alias pengatur ketinggian.
Bagi Stoner, alat-alat semacam ini haram hukumnya. Pembalap asal Australia ini kerap mengutuk arah pengembangan motor MotoGP sekarang.
Di sisi lain, Ducati berhasil mencapai titik dominan ketika semua pembalap mereka di tim pabrikan maupun tim satelit dapat melaju dengan kencang.
"Dia datang untuk membuktikan talenta dan egonya. Dia tidak tertarik dengan tes atau berlomba secara reguler. Dia pikir semua orang inferior. Dia bekerja untuk dirinya sendiri," ucap Pirro.
Terlepas dari kritiknya, Pirro tetap angkat topi terhadap kemampuan natural Stoner untuk membawa motor melewati batasnya.
Sayangnya, era pembalap yang mampu membuat perbedaan seperti Stoner di MotoGP telah berakhir kendati mulai tahun depan peran peranti pembantu hendak dibatasi.
"Dulu di Ducati kami sering bercanda kalau MotoGP digelar dengan undian, ketika pembalap harus berganti motor di setiap balapan, Stoner tetap akan finis di depan," ungkapnya.