Oerip Soemohardjo kecil adalah sosok yang nakal. Keluarganya ingin dia jadi amtenar tapi hatinya memilih tentara. Kelak, dia jadi sosok penting pembentukan tentara Republik Indonesia.
Tayang di Majalah Intisari edisi Februari 1978 dengan judul "Kapan Jendral Oerip Soemohardjo Dilahirkan" -- sebagian besar dari tulisan ini bersumber dari buku yang disusun Ibu Oerip ditambah dengan bahan dari karangan Dr. Nugroho Notosusanto yang dimuat dalam Intisari Nopember 1968.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sebelum meninggal di Semarang, Jawa Tengah, pada 29 Oktober 1977, Ibu Oerip alias Rohmah Soebroto, sempat menulis buku tentang suaminya, dalam bahasa Belanda. Judulnya Oerip Soemohardjo.
Sebagian besar dari tulisan ini bersumber dari buku tersebut ditambah dengan bahan dari karangan Dr. Nugroho Notosusanto yang dimuat dalam Intisari Nopember 1968.
Senin, Kliwon, 22 Februari 1893, di sebuah rumah batu besar Jalan Sindurjan, Purworejo, dilahirkan seorang anak laki-laki. Kehadirannya disambut dengan gembira, karena dia merupakan anak laki-laki pertama dalam keluarga Soemohardjo, jadi ahli waris tertua.
Baru setelah perayaan puputan bayi itu mendapat nama "Muhammad Sidik". Nama yang diperoleh kakek dan nenek pihak ayah setelah berpuasa.
Sementera menurut sejarawan Nugroho Notoracanto dalam daftar stamboek KNIL dari arsip Ministerie van Binnenlandse Zaken, Afdeling Overzeese Pensioenen (Kementerian Dalam Negeri, Bagian Pensiun – Seberang Lautan) di Den Haag, Oerip lahir pada 21 Februari 1893 sedangkan menurut catatan pada Lembaga Sejarah Hankam dan Ibu Oerip tanggal 22 Februari. Ibu Oerip menyebut hari Senin Kliwon, tetapi menurut almanak 200 tahun yang dimuat Intisari Januari 1974 tanggal 22 Februari jatuh pada hari Rabu. Sebetulnya hal itu sangat mengherankan mengingat pentingnya hari kelahiran (weton) di kalangan orang Jawa: orang Jawa yang masih “asli” selalu mengetahui atau diketahui hari dan pasaran kelahirannya.
Nama itu dikirim lewat seorang pesuruh ke Trenggalek untuk mendapat restu dari kakek dari pihak ibunya, R.T. Widjojokoesoemo, waktu itu bupati setempat. Nama itu diterima baik dan di Purworejo maupun Trenggalek diadakan selamatan besar-besaran untuk minta restu bagi Muhammad Sidik, agar dia kelak akan menjadi orang besar.
Sidik kemudian masih mendapat dua adik laki-laki, Iskandar dan Soekirno. Sidik tubuhnya kecil dan hitam, sedangkan adik-adiknya lebih jangkung, langsing dan putih. Tetapi Sidik selalu lebih unggul.
Rumah Sindurjan mempunyai taman luas. Ada pohon sawo, jeruk, kedondong dan banyak pohon buah lain. Pohon kemiri kata orang ada "penghuninya".
Sidik tumbuh dan mulai nakal. Ada-ada saja yang dilakukan sampai ayahnya, kepala sekolah dengan sebutan Mantri Besar sering kewalahan menghadapi anaknya. Setiap hari dari pagi sampai sore kebun Sindurejan penuh anak-anak.
Namun bagi ibunya anak-anak itu tidak menjadi persoalan. Pokoknya asal ada persediaan nasi, ketan atau ketela untuk mengisi perut-perut kecil itu.
Dalam lingkungan bahagia itulah tiga serangkai ini dibesarkan. Semula terus dikuntit oleh emban-nya sendiri-sendiri atau pengasuhnya, dan kemudian oleh pembantu laki-laki yang mengikuti setiap keinginan majikan kecilnya.
Kemudian tiba waktunya mereka masuk sekolah. Di mana lagi kalau tidak di sekolah ayahnya sendiri.
Mereka memang setiap hari masuk, tetapi hal ini tidak akan terjadi tanpa gagang sapu ibunya yang selalu siap untuk dimanfaatkan. Sekolah juga tempat yang cocok untuk membawa orong-orong atau jangkrik yang ditangkap malam sebelumnya.
Kalau bel sekolah berbunyi, tiga serangkai itu yang paling pertama keluar, tetapi paginya, mereka yang paling lambat masuk. PR (pekerjaan rumah) tidak ada.
Tak heran kalau saat pengumuman naik kelas selalu hari yang mendebarkan. Tetapi anehnya mereka selalu naik, biarpun dengan nilai terendah. Hari kenaikan kelas ini menjelang puasa.
Pada hari puasa pertama, pagi-pagi seluruh keluarga sudah berada di stasiun. Maksudnya untuk pergi ke Trenggalek. Mereka menginap pada keluarga di Kediri. Alangkah nikmatnya untuk setiap kali pergi ke eyang di kabupaten yang besar.
Lingkungan di Trenggalek tidak banyak berbeda dari Purworejo. Eyang kakung dan eyang putri hanya boleh didekati sambil berjongkok dan setelah menyembah.
Namun tiga serangkai ini tahu caranya untuk menghindarinya. Sehari suntuk mereka di istal, atau berburu ayam di kandang.
Baru pada malam hari mereka dicuci bersih sebelum boleh duduk di tikar di pojok ruangan belakang untuk makan malam. Hanya orang yang sudah besar boleh makan di meja.
Malam harinya sebelum tidur, giliran mereka untuk duduk dekat eyang dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Eyang selalu senang karena mereka tahu banyak tentang wayang.
Bahwa kalau dua tokoh bertengkar, yang bajik selalu menang. Semoga kau kelak akan menjadi penggantiku di Trenggalek, katanya.
Pada hari Lebaran, Sidik kecil senang melihat iring-iringan priyayi dalam pakaian kebesaran yang memberi selamat pada eyang. Dan dia tidak lupa untuk makan ketupat dan makanan lain sebanyak-banyaknya.
Sehari setelah Lebaran ialah saatnya mereka kembali ke Purworejo karena tahun sekolah baru sudah akan dimulai. Dan ini berarti ketemu kembali dengan rekan-rekan di kampung Sindurejan.
Mereka rajin mencari jangkrik lagi, menaikkan layang-layang dan pada malam Jumat main setan-setanan. Kalau pulang dari masjid pada malam yang gelap, mereka sering menyembunyikan diri di belakang pohon besar untuk menakut-nakuti orang. Mereka sudah beberapa kali dilarang oleh ayahnya, tetapi percuma.
Ganti nama
Mereka juga tergelitik keinginan untuk bertemu dengan "penghuni" pohon kemiri, sebelah sumur. Ini akan dilakukan pada suatu malam Jumat kalau bulan purnama.
Sebelumnya mereka sudah harus puas dengan menggoda kuda, kerbau dan binatang lain. Padahal itu pun tidak aman, karena selalu ada kemungkinan bertemu ular yang mencari telur.
Akhirnya tiba juga saat yang mendebarkan itu. Kelompok menipis ketika mereka mendekati pohon kemiri.
Akhirnya hanya tinggal lima orang. Sisanya akan menunggu.
Lima manusia kecil di bawah sinar bulan purnama naik ke pohon. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh dekat sumur.
Empat anak kecil lain masih di atas pohon. Secepat kilat mereka turun untuk membantu "ndoro Sidik" yang jatuh.
Ibunya segera memberi kompres dingin dan menggosok dengan ramuan. Baru sejam kemudian mata berandal kecil itu membuka.
Menjelang pagi dia baru minta minum teh. Pagi itu juga dikirim seorang pesuruh ke Trenggalek. Orang itu kembali dengan jawaban dari eyang.
Demi kebaikan cucu sulung yang tercinta, mulai hari itu juga nama Sidik harus diganti menjadi Oerip (oerip, bahasa Jawa, artinya hidup).
Dia memang hidup kembali dalam dunia lain. Tahun sekolah baru dimulai bagi Oerip. Dia harus masuk sekolah Eropah.
Karena bahasa Belandanya belum seperti yang diharapkan, dia dimasukkan ke sekolah Belanda untuk wanita dulu, karena di sana masih ada tempat.
Di sekolah pria kelas-kelas sudah penuh sesak. Lagipula diharapkan bahwa Oerip akan menjadi "anak manis" di antara rekan wanita. Dan memang demikian, tetapi hanya selama jam sekolah.
Orang yang kurang setuju dengan penggantian nama itu adalah Mbah Glondong dari Banyu Urip, kakek dari pihak ayah. Bermalam-malam dia memikirkan hal ini.
Apa yang dimintanya selalu terkabul. Setiap tahun panennya berhasil, dia memiliki ternak terbanyak di karesidenan, uang banyak, istri baik, anak sehat.
Apakah nama Sidik itu tidak cukup baik. Sekarang cucu sulungnya harus disebut Oerip, seperti anak gembala.
Lama kelamaan Mbah Glondong juga bisa menerima fakta. Tetapi kesehatannya menurun sampai akhirnya meninggal dunia. Ini merupakan kehilangan pertama dalam keluarga Soemohardjo.
Bagaimana dengan Oerip? Untuk pertama kali dalam hidupnya dia tahu apa yang dimaksud dengan "memperhatikan".
Setiap hari dia mengeluh lelah setelah datang dari sekolah, karena bahasa Belanda begitu sulit. Lalu ibunya akan memperlihatkan peci yang termasuk dalam pakaian kebesaran ayahnya, bersama kancing perak dengan huruf "W" emas, payung kebesaran, lemari dengan keris dan cinde, pakaian priyayi dan sebagainya.
Masa bodoh, pikir Oerip yang lebih suka menutup jalan dengan kerbau-kerbaunya. Sekali ayahnya pernah dipanggil ke kabupaten gara-gara anaknya yang naik kerbau telah memaksa mobil bupati berhenti.
Selama itu ibunya mulai mundur kesehatan. Pada waktu itu Oerip menghadapi ujian Ambtenaar kecil.
Dia duduk bersama dengan pria-pria dewasa berkumis, yang berkat ujian ini dari juru tulis bisa naik pangkat di salah sebuah kantor. Oerip lulus dan di rumah disambut ibunya yang bertongkat.
Selesai musim puasa ibunya mengatur koper dan Oerip dikirim ke Magelang untuk mulai hidup baru dalam sekolah pendidikan untuk ambtenaar pribumi.
Masuk OSVIA membawa pembantu
Untuk bisa masuk sekolah ini ayahnya harus membuat pengeluaran ekstra. Misalnya membeli jas hitam untuk Oerip, yang dimaksudkan untuk peristiwa-peristiwa penting.
Orang bisa memilih antara langenharjan dengan bagian depan putih dan dasi hitam, beskapan, atau jas tutup seperti jas putih untuk sehari-hari. Oerip memilih beskapan.
Bulan-bulan terakhir di sekolah dimanfaatkan Oerip untuk melatih diri dalam melipat ikat kepala. Ini sungguh tidak mudah. Melorot terus.
Namun, ketika dia bersama ayahnya naik kereta api menuju ke Magelang via Yogyakarta ikat kepalanya sudah kencang. Perlu diketahui bahwa waktu itu belum ada blangkon.
Sejak dikhitan, pada liburan kenaikan terakhir di sekolah dasar Belanda, hidupnya terus berubah. Misalnya Bejo, kambingnya, yang mengikutinya dengan setia, tidak boleh masuk rumah lagi.
Dan karena majikan kecilnya sekarang harus ikut les bahasa Belanda, dia juga tidak banyak main sepakbola lagi. Akibatnya Bejo lebih jarang muncul di lapangan dengan mengenakan baju kaos merah putih dan kacamata yang diikat gagangnya ke belakang telinga. Maskot persatuan sepakbola itu tentu merasa kehilangan Oerip.
Di OSVIA kenang-kenangan Oerip tentang rumah di Sindurejan mulai membaur, termasuk Bejo. Oerip mendapat kamar tiga kali empat meter seperti rekan-rekannya. Di situ ada lemari, meja dan kursi, lampu minyak, gantungan pakaian dan dipan. Lain tidak.
"Pelayannya" dari Purworejo mengikutinya untuk mengurus cucian dan mengambil makanan di mana Oerip abonemen makanan. Selain itu tugasnya juga melipat kain dan membereskan tempat tidur.
Gosok sepatu tidak perlu, karena semua cakar ayam. Begitulah ambtenaar jaman dulu di didik.
Liburan puasa tiba, yang pertama di OSVIA. Seperti biasa Oerip masih berhasil naik kelas, biarpun dengan catatan.
Kembali di Sindurjan ternyata beberapa rekannya sudah ikut orang tuanya ke Deli sebagai kuli kontrak. Kegiatan dipusatkan pada sepakbola dan Bejo boleh ikut.
Tetapi ini rupanya pertandingannya terakhir yang dihadiri Bejo. Tak lama kemudian Bejo mati ditabrak satu-satunya mobil setempat, yakni milik bupati.
Gara-gara sepatu
Liburan sudah hampir habis. Ini berarti bapak Soemohardjo harus membeli dua sepeda Simplex baru untuk Iskander dan Soekirno yang harus masuk OSVIA.
Oerip sudah dapat sebuah, dulu waktu masuk. Setelah diadakan pesta perpisahan, Oerip menyarankan untuk ke Magelang bertiga naik sepeda saja. Sarman, pembantunya harus naik kereta ke Magelang dengan bagasi.
Di tengah jalan mereka masih menginap semalam di gardu penjaga wedana Salaman seperti yang juga dilakukan Oerip ketika dia pulang sendiri naik sepeda. Perjalanan itu memang indah.
Tidak ada hujan dan pohon sepanjang jalan. Namun dekat gunung Tidar mereka toh terpaksa berhenti di belakang pohon kenari yang besar untuk ganti celana pendek dan baju, dengan kain dan ikat kepala.
Awas kalau sampai ketahuan guru yang sedang lewat dan disampaikan kepala sekolah. Sampai di sekolah ternyata Sarman sudah sampai.
Pernah terjadi pemberontakan di gedung OSVIA. Murid-murid merasa dirinya bukan kanak-kanak lagi. Mereka bicara tentang hal-hal yang penting. Mereka merasa semua dianggap sama: Inlander.
Antara lain diajukan petisi kepada Pak Gede (kepala sekolah) agar murid Osvia kelak boleh mengenakan terompah atau sandal. Permintaan itu ditolak. Malam itu juga semua murid berjalan di gang pakai bakiak.
Guru yang sedang bertugas (kebetulan bakal mertua Oerip) segera melapor peristiwa itu kepada atasan. Pak Gede muncul dengan lampu besar dan reflektor. Maksudnya agar bisa mengenali siapa yang ikut mengacau.
Mereka langsung disuruh masuk ke kamar dan harus tetap di situ sampai di panggil. Mereka tidak boleh keluar selama tiga hari.
Ketiga kakak beradik itu ikut dalam pemberontakan itu. Alangkah sedihnya ayah dan ibu Soemohardjo ketika mendengar hal itu.
Kesehatan ibu Oerip mundur dan meninggal secara mendadak. Dan ketika telegram kematiannya dikirim ke Trenggalek, diterima balasan bahwa Kanjeng Bupati semalam sebelumnya juga meninggal dunia.
Semua tentu bingung. Untung masih ada seseorang yang ingat untuk mengirim kereta ke Magelang guna memberi tahu ketiga putera almarhumah.
Mereka segera minta izin ke Purworejo. Mereka naik sepeda dan masih sempat mengantarkan ibunya ke makam.
Waktu menyembuhkan semua kesedihan. Namun bukan untuk bapak Soemohardjo dan Oerip.
Anak itu menjadi pendiam. Kehidupan di OSVIA tidak ada artinya lagi setelah ibunya tiada.
Tidak ada yang bisa memaksanya untuk menjadi ambtenaar, tetapi lalu harus ke mana. Yang terbuka bagi seorang Inlander adalah sekolah dokter, sekolah hukum, sekolah dokter hewan, sekolah pertanian di Bogor dan sekolah kebudayaan di Sukabumi.
Namun semuanya tidak menarik perhatiannya. Saat itu ia mulai tertarik pada kompeni.
Di Magelang ada divisi kedua sehingga dia mendapat kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang dunia kemiliteran. Dia juga sudah berteman dengan seorang perwira rendah Belanda yang memberi pelajaran olahraga, termasuk anggar.
Pokoknya dia ingin menjadi militer. Dan umurnya sudah 16 tahun, jadi hampir dewasa.
Puasa tahun 1910 tiba. Oerip naik ke bagian ke dua, Iskander naik ke kelas tiga dan Kirno ke kelas dua bagian pertama.
Saat itu Oerip tidak bisa menyembunyikan niatnya lagi pada saudara-saudaranya. Mereka berdua harus pulang dan Oerip akan ke Batavia (Jakarta) dengan uang yang dikirim ayahnya untuk pengeluaran tak terduga. Tidak heran bahwa sang ayah yang mengharapkan putra sulungnya menjadi bupati atau paling sedikit menjadi patih, jadi sangat kecewa.
Dia menangis sejadi-jadinya. Tak lama kemudian dia minta keluar dari pekerjaannya dan permintaan itu diterima. Lama dia menyendiri dalam kesedihan.
Pada suatu hari tiba sepucuk surat dari Jakarta dari si anak hilang. Dia minta maaf, sambil memberitahu bahwa dia lulus masuk sekolah militer di Meester Cornelis (Jatinegara)!
Pelajaran sudah dimulai, yakni pendidikan menjadi perwira. Apakah bapak berkenan mengirim uang jaminan seribu gulden.
Uang itu dikirim dengan janji akan ditambah sekian lagi, asal Oerip mau kembali ke OSVIA. Namun permintaan itu ditolak.
Surat dari Meester Cornelis, pembicaraan dengan militer di Purworejo tidak bisa menenangkan ayahnya. Baginya tidak jelas apakah anaknya menjadi sama dengan londo putih atau hanya sebagai londo ireng (indo). Dan ketidakpastian itu memakan waktu tiga tahun.
Namun lama kelamaan bapak itu juga merasa bahwa anaknya sekarang sudah bahagia. Karena itu dia berjanji kalau Oerip benar menjadi perwira Eropa, maksudnya perwira penuh, dia akan dibelikan sepeda motor. Oktober 1914, Oerip lulus ujian terakhir dan menempuh ujian tambahan.
Setelah 1½ tahun di Meester Cornelis, Oerip dipindahkan ke luar Jawa. Seminggu dia mendapat perlop pulang.
Pada hari terakhir dia diantarkan ayahnya ke Kutoarjo. Mereka mengira akan bertemu kembali 3 tahun kemudian. Ternyata baru 7 tahun kemudian.

Lim yang misterius
Dia ditunjuk untuk bekerja di Banjarmasin. Hal pertama yang dilakukan adalah menjual Harley Davidson-nya, karena dia pasti tidak memerlukannya di kota air itu.
Hasilnya digunakan untuk membeli seragam tambahan dan membayar utang-utang di soos dan tempat lain. Sepeda Simpleks-nya dijual dengan harga 5 gulden.
Letnan Oerip naik kapal KPM dengan bekal 15 gulden dalam kantong, hanya cukup untuk membeli rokok dan tip. Namun begitu mendarat dia melaporkan diri dan mendapat persekot 3 bulan.
Uang ini bisa dicicil dalam 18 bulan. Dan karena setelah 1 ½ tahun biasanya orang dipindahkan, orang tidak pernah bebas utang.
Dari Banjarmasin Oerip sering patroli naik perahu ke Puruk Cahu dan Muara Teweh. Kalau tidak berpatroli dia berburu celeng. Dari Banjarmasin dia ke Tanah Grogot lalu ke Balikpapan.
Setelah dipindahkan ke Samarinda, dia akhirnya menetap di Malinau. Dalam gubuk.
Memang menarik tinggal dalam gubuk, tetapi yang paling disukainya adalah ketenangan. Oerip di sini juga menjadi penguasa sipil. Dia sering diundang makan di istana Sultan Bulungan.
Dalam perjalanannya di hutan belantara dia bertemu dengan suku-suku Dayak, yang masih mengayan. Tugas militer adalah untuk menghindarkan pengayanan yang kadang-kadang dihadapi pencari damar.
Di situlah letnan ini berkenalan dengan pastor Valenberg. Teman lain adalah seorang Cina muda yang bernama Lim. Namanya seterusnya tidak ada yang tahu.
Dia datang bersama beberapa narapidana dari Jawa. Mereka turun diikat dengan rantai panjang Letnan I Oerip minta supaya mereka segera dilepaskan.
Setelah diberi keterangan panjang lebar, mereka diberitahu akan diajak kalau patroli. Tidak diikat, tetapi kalau mereka mencoba melarikan diri mereka akan dihukum berat, sedangkan kalau kelakuannya baik akan dicoba untuk dimintakan keringanan kepada atasan.
Ternyata di antara mereka setelah diteliti kertas-kertasnya ada dua yang berasal dari Purworejo. Akhirnya tinggal seorang keturunan Cina.
Pada suatu malam dia berhasil mengorek tentang pribadi orang yang satu ini. Ternyata dia mencekik istrinya karena cemburu. Mayatnya kemudian dipotong-potong dengan pisau dapur sambil berteriak-teriak: ‘Khianati aku lagi’.
Tetangga berdatangan dan memanggil polisi. Ternyata Lim bekas kasir sebuah bank besar, seorang pekerja cermat dan pandai berbahasa Belanda.
Lim kemudian diangkat sebagai penulis dan penjaga rumah bersama seorang koki merangkap pembantu, dan dua anjing Sepit dan Plup. Semua berjalan lancar sampai tiba hari naas.
Oerip kembali dari patroli dan dia menemukan rumahnya yang dari gedek dan atap, sudah menjadi abu. Malinau termasuk salah satu tempat di mana orang tidak boleh membawa keluarga.
Bagaimana hal ini terjadi, tidak ada yang bisa mengatakan. Pakaian terbakar, foto-foto dan alatnya masih ada dalam abu yang panas.
Lim masih berhasil menyelamatkan peti dengan kertas-kertas rahasia yang dititipkan kepadanya. Ini merupakan akhir dari mimpi indah di hutan Kalimantan di mana dia tinggal lebih dari tujuh tahun.
Oerip tersenyum sejenak, kemudian perhatiannya terhadap segala sesuatu hilang. Dia menjadi apatis. Untung ada dokter yang mampir sebentar. Dalam sekejap mata dia tahu bahwa Oerip harus pergi dari suasana itu secepat mungkin.
Tidak banyak yang perlu dipak. Langsung dibawa ke Tarakan. Banyak yang mengantarkannya ke kapal, termasuk Plup dan Sepit yang menggonggong lama.
Dia dirawat di rumah sakit Tarakan. Karena keadaannya cepat membaik, dia diperbolehkan kembali ke Jawa.
Sementara dia ditempatkan di Cimahi di mana dia mendapat rumah dinas. Psikis dia juga maju.
Dia mulai membaca dan pikirannya bisa dikonsentrasikan. Sekarang dia harus menerangkan kepada ayahnya bahwa dia dipindahkan secara tiba-tiba dan tidak sempat mampir di Purworejo.
Tentang Malinau dia tidak pernah cerita dan juga apa akibatnya tinggal 7 tahun dalam kesunyian hutan.
Ketemu jodoh
Oerip pulih kembali. Di Purworejo ada tempat yang lowong dan dia dipindahkan ke sana.
Ayahnya seakan-akan ketemu dengan orang asing. Apakah pria serius dengan pakaian seragam putih berbintang dua itu benar anaknya.
Oerip mendapat rumah dinas. Dia terkenal sebagai bujang lapuk yang tidak berhasil merayu gadis. Beberapa temannya dari sekolah militer memang kehilangan pacar karena batal menjadi pegawai priyayi.
Yang paling risau adalah ayahnya. Mengapa Oerip tidak mau menikah? Iskander sudah menjadi duda dan akan menikah lagi dengan putri kedua bupati Kutoarjo.
Di luar sepengetahuan putranya bapak Soemohardjo berkomplot dengan bibi, paman, kemenakan, untuk membantu Oerip menemukan pasangan yang cocok. Oerip merasa, tetapi dia tidak peduli. Pokoknya dia akan memilih sendiri.
Dua tahun Oerip tinggal di Purworejo. Lalu dia sakit keras.
Demamnya hampir 42 derajat dan tidak mau turun. Dokter merasa perlu untuk memindahkannya ke Magelang. Saat itulah bapaknya pergi ke orang pandai. Jawabnya: Ini semua gara-gara seorang wanita yang ingin memikatnya. Karena tidak berhasil dia balas dendam.
Dengan bantuan Allah setan itu akan hilang. Ternyata kemudian dia tidak perlu dipindahkan ke Magelang setelah mengunyah sirih dan sebagainya.
September 1925 Oerip dipindahkan ke Magelang. Bagi orang tuanya juga menyenangkan bahwa dia tidak dipindahkan terlalu jauh.
Di Pension Lamster, Oerip senang. Banyak rekannya yang masih bujangan juga tinggal di situ.
Tiga kali Oerip ditunjuki rumah, tetapi setiap kali diminta oleh rekan yang akan menikah. Rumah keempat di Voor-kampement No. 10 juga akan diminta orang, andaikata Oerip tidak tiba-tiba mengumumkan: Saya akan menikah. Rekan-rekannya kaget: Dengan siapa?
Beberapa hari kemudian Oerip sudah menghadap di kantor Jenderal Sachse untuk menceritakan maksudnya. Dia akan menikah dengan Rohmah Soebroto, putri bekas guru bahasa Melayu dan Jawa. Minggu itu juga permohonan izin menikah sudah sampai dari Bandung.
Ayah Oerip juga agak kaget mendengar maksud putranya yang begitu tiba-tiba.
Tak lama kemudian diadakan kunjungan antara keluarga Magelang dan Purworejo. 7 Mei 1926 adalah hari pertunangan resmi.
Dan di antara kado-kado yang diterima waktu itu juga termasuk sebuah arloji "Made in Switzerland" yang kemudian selalu ditaruh di bagian atas ranjang pengantitl mereka.
30 Juni 1926 mereka menikah. Semula di depan BS (catatan sipil) dan kemudian di depan penghulu.
Sebagai perwira pribumi waktu itu sudah dibuka kemungkinan untuk tunduk pada hukum dagang dan perdata Eropa. Maksudnya agar kalau suami meninggal dulu, jandanya akan mendapat pensiun. Malam itu juga diadakan resepsi di rumah kediaman keluarga Soebroto.
Permulaan 1927 dia dipindahkan ke Ambarawa untuk menghidupkan kembali batalyon rekrut yang sudah ditutup sebelumnya. Waktu itu dia mendapat bintangnya yang ketiga. Tepatnya 27 September 1927 menjadi kapten dengan gaji f 775 sebulan.
Petani anggrek
Karena kesehatan bapak Soemohardjo cukup baik, maka keluarga Oerip bulan Juli 1928 pergi perlop ke Eropa. Mereka berangkat naik kapal Christiaan Huygens dan kembali dengan Sibayak setahun kemudian.
Dalam perjalanan pulang kebanyakan pegawai negeri di Sabang diberitahu dimana posnya yang baru. Dan kali ini ternyata Oerip ditempatkan di Meester Cornelis (Jatinegara).
Dia sedang ikut latihan di Banten ketika di rumahnya datang kabar bahwa ayahnya telah meninggal di Purworejo. Waktu itu juga terjadi pemberontakan Zeven provincien 1931.
Tiga tahun kemudian dia dipindahkan ke Padang Panjang pantai Barat Sumatra. Waktu itu juga tiba waktunya mempersiapkan diri untuk perlop kedua ke Eropa. Hal ini terjadi bulan Juli 1935.
Sekali lagi mereka berangkat naik Christiaan Huygens dan kembali dengan Sibayak selama cuti itu pak Oerip naik pangkat menjadi mayor. Setelah dua hari tinggal di Batavia mereka terus ke Yogyakarta untuk berkunjung ke mertua dan kemudian ke tempat yang baru Purworejo, di Hotel Van Laar.
Rupanya di kota kelahirannya ini ada orang yang kurang senang sehingga dia mau dipindahkan ke Gombong karena ada perselisihan paham dengan bupati setempat. Segera Pak Oerip menelepon Bandung untuk bertanya apakah pemindahan itu serius.
Ketika jawabannya ya, dia langsung minta keluar mulai 20 Juni 1938. Memang akhir yang tragis untuk karier yang baik, tetapi dia merasa diperlakukan kurang adil. Pak Oerip mendapat pensiun pada usia 45 tahun.
Akibatnya mereka harus cepat-cepat pindah ke Yogya. Barang harus dilelang. Untuk sementara mereka menetap di Yogya.
Bukan masa yang mudah, harus tiba-tiba nganggur. Suatu hobi baru hidup kembali. Pak Oerip membeli suatu partai anggrek bulan dan anggrek lain.
Buku mengenai cara mengembangkan anggrek dari Dackus dipesan dan dengan bantuan buku praktis dan sederhana ini hobby tersebut menjadi pekerjaan yang serius. Segera taman dirasakan terlalu kecil dan dipertimbangkan untuk membeli tanah di luar kota.
Tak lama kemudian mereka pindah ke Gentan, desa antara Yogya dan Pakem. Rumah mereka merupakan vila mini, cukup untuk makan dan tidur.
Sekelilingnya ada tanah 3 ha. dengan kolam renang cukup besar di bagian Utara.
Harganya murah dan ini sudah termasuk "transfer" empat tukang kebun yang setiap bulan mendapat gaji 2 gulden 50 sen. Kemudian ditambah sembilan lagi, jadi total 13 masing-masing dengan gaji seringgit.
Setelah kebun menjadi indah dan rumahnya kelihatan menarik, mereka mulai memikirkan nama untuk rumah tersebut. Dr. Sosrokartono atau oom Sos yang membantu.
Ketika di Bandung pak Oerip bertemu dengan Oom Sos dia mengatakan: Dimas lambangmu tidak bisa lain daripada "Klaarheid en Moed". Dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira kejernihan dan keberanian.
Dari situlah lahir nama Villa "KEM" yang selain penuh dengan anggrek juga ada bunga hortensia dan chrysant. Kolam renangnya sudah diisi dengan ikan mujair, gurame dan karper.
Abby dan perang
Tahun 1940 membawa perubahan di Gentan. Pada suatu hari yang cerah mereka diajak seorang rekan, Ny. ven Riessen, ke Semarang untuk mengunjungi Pro Juventute, asrama untuk anak yatim piatu, anak yang dibuang atau tidak diakui.
Setiba di Semarang mereka langsung ke gedung rumah piatu Protestan di mana Pro Juventute berada. Di situ mereka berkenalan dengan Ny Godefroy dan ketika keliling gedung ada seorang gadis pirang yang memberi salam kepada pak Oerip. Segera dia bertanya apakah anak itu bisa diambil.
Ternyata memang boleh. Kertas-kertasnya diteliti. Ternyata anak seorang emigran yang sudah meninggal.
Jadi anak umur 4 tahun itu sudah sebatang kara di dunia ini. Kemudian diputuskan bahwa dia akan dijemput seminggu kemudian. Maksudnya untuk mempersiapkan Gentan untuk menerima kedatangan seorang penghuni baru.
Abby membawa sang surya dalam rumah keluarga Oerip. Umur 5 tahun dia masuk TKK di Yogyakarta. Dia diantar naik Dodge besar dan pulang penuh dengan cerita cerita tentang sekolah dan rekan-rekan lain.
Berita mengenai penyerbuan Jerman ke Belanda datang bersama koran yang dibawa mobil dari kota. Keputusan cepat diambil. Mobilisasi berlangsung secara otomatis dan Pak Oerip mendaftarkan diri untuk dinas aktif pada Overste Pik, yang pernah bersama berdinas dalam batalyon kedua di Magelang.
Tiga hari kemudian pak Oerip berangkat ke Bandung.
Setelah mendapat rumah sewaan di jalan Frisia, Abby dan istrinya menyusul ke Bandung. Mereka berangkat naik Dodge besar, pengalaman yang menyenangkan bagi Abby.
Atas perintah komandan tentara pak Oerip diminta untuk mendirikan depo batalyon baru, sesuatu yang sudah pernah dilakukan. Perang tambah lama tambah dekat. Sampai akhirnya Jepang masuk.
Tentara pendudukan meminta pak Oerip menjadi komandan kamp interniran di Cimahi. Sebanyak mungkin dia berusaha untuk menghibur rekan-rekan Belandanya, tetapi tidak selalu berhasil.
Uang, kertas-kertas dan barang berharga lain dititipkan kepadanya. Kemudian diumumkan bahwa tentara Indonesia setelah tiga bulan akan dibebaskan. Ini menjadi perpisahan yang berat bagi pak Oerip. Apa yang akan terjadi dengan mereka yang di belakang kawat berduri?
Pada saat dia akan meninggalkan kamp, dia diminta untuk menunggu sebentar, komandan dari Bandung ingin bertemu dengannya. Dan dia benar datang dan menyerahkan pedang kepada Pak Oerip diikuti dengan pidato pendek. Kemudian dia diminta untuk mendirikan Kepolisian. Namun permintaan itu ditolak, karena dia lebih suka kembali ke Gentan.
Sejak itu bunga mawar dan anggrek menempati tempat kedua. Yang lebih penting ialah tanaman yang bisa dimakan.
Di Gentan dan desa-desa sekitarnya mereka menyewa sawah dari hasil perhiasan Bu Oerip yang dijual. Petaninya sendiri mendapat separuh hasilnya. Panennya melimpah.
Namun rupanya di desa itu ada seseorang yang kurang senang dengan mereka. Para tukang kebun dari villa KEM ditakut-takuti untuk keluar, karena konon bisa mengalami kesulitan dengan Jepang, karena majikannya bekas KNIL.
Akibatnya tinggal seorang pembantu dan seorang tukang kebun yang setia pada KEM. Tetapi semua tetap berjalan lancar.
Abby diajar di rumah sendiri. Kadang-kadang juga ada orang Jepang yang datang untuk melihat apa yang dilakukan bekas militer itu.
Tetapi bekas kadet yang pernah diinternir itu kadang-kadang juga berkeliaran di Gentan, sehingga mereka tetap bisa mengikuti keadaan dunia. Sampai pada suatu hari terbetik berita bahwa "Nippon mampus" (Jepang mati). Ternyata Saipan jatuh.
Dan tak lama kemudian Jepang menyerah tanpa syarat. Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.
Indonesia merdeka
“Sistem kolonial tidak boleh kembali. Itulah pikiran yang terkandung dalam setiap orang termasuk mas,” tulis Ibu Oerip.
Mereka pindah ke keluarga di kota, di Bausasran. KEM ditinggalkan pada satu-satunya tukang kebun dan pembantu yang masih ada.
Revolusi meletus. Perintah diberi secara lisan. Berita pun disampaikan dengan cara itu.
Karena itu supaya jangan salah Pak Oerip bersama dengan Soenarmo naik kereta api malam menuju ke Jakarta. Malam itu juga Ibu Oerip menerima telegram dari Dr. Hatta bahwa suaminya harus cepat menghadap kepadanya dan kepada Bung Karno. Semua berjalan cepat.
Di Jakarta Pak Oerip diminta untuk membentuk tentara.
Setelah kembali ke Yogya, Pak Oerip ditawari rumah dinas di Jl. Widara. Terbentuklah keluarga baru yang terdiri dari bekas kadet di Bandung.
Abby tiba-tiba mendapat banyak kakak. Tak jarang dandang harus naik tiga kali sehari. Lagipula bukan soal karena padi dari KEM masih melimpah, tulis Ibu Oerip.
Dengan bekal dukungan dari rekan-rekannya eks-perwira KNIL, Pak Oerip melaksanakan tugasnya, yakni menyusun organisasi TKR. Di Yogya dia membentuk Markas Besar Umum TKR dan kemudian menyelenggarakan Konferensi Besar TKR yang memilih Kolonel Sudirman selaku Panglima Besar TKR/Angkatan Perang dan memilih Pak Oerip selaku Kepala Staf Umum TKR.
Sejak itu Panglima Besar Sudirman dan Kepala Staf Umum Oerip Soemohardjo merupakan dwitunggal TKR yang meletakkan dasar-dasar bagi tradisi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia seluruhnya kelak, tulis Dr. Nugroho Notosusanto dalam Intisari Nopember 1968.
“Sebagai kepala Staf Umum Mas tidak setuju dengan penerimaan perundingan Renville, yakni yang bersangkutan dengan pengunduran diri tentara kita antara lain dari Jawa Barat dan Ujung Wetan, bagian timur dari Jawa Timur. Menurut keyakinannya pemerintah kurang percaya pada kekuatan tentara. Kekecewaan itu telah mendorongnya untuk mengundurkan diri,” tulis Ibu Oerip.
Sebagai bekas kepala staf Pak Oerip ditunjuk oleh presiden sebagai penasehat kepala negara dan kementerian pertahanan. Selain itu dia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Namun setelah turun sebagai kepala staf kesehatannya mundur. Jantungnya yang selama dalam interniran Jepang sudah "kacau" denyutnya tambah lemah. Dia banyak berbaring saja. Dr. Sim Ki Ay setia mengunjunginya setiap hari. Kemudian terjadi peristiwa Madiun.
Tak lama kemudian Tjokronagoro meninggal, disusul oleh Poerbonegoro tiga hari kemudian. Teman-temannya mendahuluinya. Suasana menjadi hening di sekitarnya.
Seminggu setelah Tjokronagoro, Pak Oerip juga menyusul. "Waktu itu pukul lima lewat sedikit tanggal 17 November 1948." tulis Bu Oerip. "Saya keluar untuk mengambil segelas susu yang tidak pernah diminum lagi. Pintu di sisi kiri rumah menutup dengan keras, padahal tidak ada angin. Saya lari ke kamar tidur dan menemukan Mas dengan mata tertutup dan tangan tersilang di atas dada. Puntung rokoknya dalam asbak masih panas".
Pak Oerip dimakarakan tanggal 18 November 1948 di taman pahlawan Semaki.
Januari 1951 juga Abby dipanggil kembali ke pangkuan Tuhan. Dia tiba-tiba meninggal karena malaria Tropika. Ibu Oerip yang lahir bulan Mei 1902 di Bangsri menyusul tanggal 29 Oktober 1977.