TRIBUNJAMBI.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan pembatalan rencana operasi militer berskala besar terhadap Iran.
Langkah pembatalan gempuran tersebut diambil Trump setelah mengklaim menerima permintaan langsung dari Teheran dan sejumlah negara kawasan untuk menunda aksi militer demi memberi ruang bagi jalur diplomasi.
Pengumuman penting tersebut disampaikan Trump secara langsung melalui unggahan di akun media sosial miliknya, Truth Social, pada Minggu (2/8/2026).
Dalam penjelasannya, Trump mengungkapkan keputusan membekukan serangan militer dibuat karena "batas-batas kesepakatan" awal antara Washington, Teheran, dan jajaran negara Timur Tengah telah disetujui bersama.
Padahal, Donald Trump membeberkan bahwa angkatan bersenjata Amerika Serikat sebenarnya sudah menempati posisi siaga tempur tertinggi dan siap menggempur daratan Iran dengan kekuatan penuh.
Rangkaian operasi militer yang sebelumnya dirancang Pentagon bahkan diklaim bakal menjadi salah satu demonstrasi kekuatan tempur terbesar yang pernah dipersiapkan AS sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Kendati armada tempur telah bersiap melancarkan aksi gempuran masif, Trump menyebut bahwa pihak Iran beserta sejumlah sekutu kawasan memohon agar Washington menahan diri dan menunda serangan, menyusul tercapainya pemahaman bersama terkait kerangka dasar perdamaian.
"Amerika Serikat siap siaga dan siap menyerang Republik Islam Iran, dengan tingkat teror militer, kekuatan, dan kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II. Kendati demikian, Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya baru saja meminta kami untuk menunda serangan apapun karena batasan kesepakatan telah disetujui," tulis Trump dalam peryataannya di Truth Social, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Baca juga: AS-Israel Berencana Gempur Fasilitas Energi Iran, Trump Beri Peringatan
Baca juga: Target Rahasia Jokowi untuk PSI di Pemilu 2029: Bukan Cuma Lolos Senayan
Langkah manuver mendadak ini membajak momentum eskalasi yang sempat memuncak di perairan Teluk, sekaligus membuka kembali kran negosiasi internasional guna mencegah pecahnya perang terbuka berskala global.
Adapun salah satu poin utama yang telah disepakati adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara Teluk ke pasar internasional.
Pembukaan kembali jalur tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran distribusi energi global sekaligus meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak.
Selain itu, Trump juga menyebut kesepakatan awal tersebut mencakup komitmen untuk mengakhiri ancaman program senjata nuklir Iran. Menurutnya, Amerika Serikat tetap berpegang pada tujuan agar Teheran tidak mengembangkan maupun memiliki senjata nuklir.
"Kesepakatan itu mencakup pembukaan segera, lengkap, dan total Selat Hormuz serta mengakhiri ancaman nuklir Iran," tulis Trump.
Trump mengatakan dua poin tersebut menjadi dasar bagi Amerika Serikat untuk menunda operasi militer yang sebelumnya telah dipersiapkan.
Namun, ia menegaskan bahwa pembatalan serangan itu bersifat bersyarat, yakni hanya berlaku apabila proses negosiasi dapat segera menghasilkan kesepakatan final yang dapat diterima semua pihak.
"Berdasarkan permintaan ini, saya telah setuju, demi kepentingan masa depan dunia dan juga demi kelangsungan Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai," ujar Trump.
Trump juga mengklaim bahwa Israel mendukung langkah tersebut dan siap mengikuti upaya penyelesaian melalui jalur diplomasi.
"Israel bergabung dengan saya dalam komitmen ini. Mari kita bekerja sama dan menyelesaikan masalah ini," lanjutnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang membenarkan adanya kesepakatan tersebut maupun mengonfirmasi bahwa Teheran telah meminta Amerika Serikat menunda serangan.
Baca juga: Warga Palestina Skeptis Atas Janji Israel Tarik Pasukan dari Gaza jika Hamas Dilucuti
Baca juga: Jejak Patung St. Yusuf Arimatea di Vatikan dari Yogyakarta, Mukjizat untuk Niko
Pemerintah Iran juga belum memberikan tanggapan terkait klaim Trump mengenai pembukaan Selat Hormuz maupun komitmen menghentikan ancaman program nuklir.
Sebelum Trump mengumumkan pembatalan serangan, Iran telah lebih dulu memperingatkan bahwa tekanan militer Amerika Serikat dapat memicu dampak serius terhadap perekonomian global.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, mengatakan eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas keamanan kawasan sekaligus mengguncang pasar energi dunia.
Menurutnya, apabila tekanan militer terus meningkat, Iran dapat memperketat pengawasan bahkan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Zolghadr menilai gangguan terhadap jalur tersebut akan menghambat distribusi minyak mentah dunia, memicu lonjakan harga energi, serta memperburuk ketidakpastian ekonomi internasional.
Ia juga menegaskan bahwa dampak konflik tidak hanya akan dirasakan negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga pasar energi global hingga masyarakat Amerika Serikat sendiri.
Pernyataan Trump yang membatalkan rencana serangan membuka peluang baru bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi setelah beberapa pekan terakhir ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada rincian resmi mengenai isi "batas-batas kesepakatan" yang disebut Trump telah disetujui, maupun kepastian kapan perundingan akan dimulai.
Dengan belum adanya konfirmasi dari pihak Iran, perkembangan situasi masih terus menjadi perhatian.
Langkah diplomasi yang berhasil tidak hanya berpotensi meredakan konflik di Timur Tengah, tetapi juga mengurangi risiko gangguan terhadap pasokan energi global dan menjaga stabilitas perekonomian dunia.