Balon Udara Wonosobo Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia di Festival Internasional Meksiko
rival al manaf August 02, 2026 02:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Komunitas Balon Udara Wonosobo akan dipastikan menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang akan tampil dalam ajang internasional Festival Del Globo Tahmek Yucatan, Meksiko.

Festival tersebut dijadwalkan berlangsung pada 22-23 Agustus 2026 dan diikuti enam negara, yakni Meksiko sebagai tuan rumah, Prancis, Kolombia, El Salvador, Brasil, serta Indonesia yang diwakili Wonosobo.

Ketua Komunitas Balon Udara Wonosobo, Agam Setyobudi, mengatakan keikutsertaan tersebut merupakan kehormatan sekaligus kesempatan memperkenalkan budaya balon udara Wonosobo ke dunia internasional.

"Kebetulan yang Indonesia hanya dari Wonosobo saja," ungkapnya, Minggu (2/8/2026).

Baca juga: Jalan Pertamanan - Kalisalak Kabupaten Batang Diberi Nama Jalan KH Ahmad Rifai

Baca juga: 11 Santri MA NU TBS Kudus Lolos Studi ke Luar Negeri, Mulai dari Mesir Sampai Cina

Agam menjelaskan, keikutsertaan Wonosobo bukan melalui proses pendaftaran, melainkan undangan langsung dari panitia di Meksiko.

Undangan tersebut berawal dari rekomendasi peserta asal Brasil yang pernah mengikuti Festival Mudik Wonosobo pada 2025. 

Dari pertemuan itu, panitia Meksiko akhirnya memilih Indonesia untuk ikut serta dengan menunjuk komunitas balon udara dari Wonosobo.

"Kita dapat undangan dari teman-teman Meksiko," ucapnya.

Dalam festival nanti, Komunitas Balon Udara Wonosobo akan membawa dua balon udara.

Salah satu balon dibuat khusus dengan desain kolaborasi Indonesia dan Meksiko sebagai simbol persahabatan kedua negara. 

Desain tersebut telah dipersiapkan selama proses produksi yang saat ini masih berlangsung.

Menurut Agam, produksi balon kali ini berbeda dibanding sebelumnya karena melibatkan sekitar 20 tim dari berbagai komunitas agar lebih banyak pihak ikut berpartisipasi mendukung Wonosobo di tingkat internasional.

Agam akan bertugas sebagai perwakilan komunitas, sementara satu orang lainnya bertanggung jawab mendokumentasikan seluruh perjalanan mulai keberangkatan, pelaksanaan festival hingga kepulangan.

Meski hanya datang berdua, proses penerbangan balon tidak dilakukan sendiri. Panitia di Meksiko telah menyiapkan kru lokal yang akan membantu seluruh kebutuhan teknis selama festival berlangsung.

"Teman-teman yang ada di sana siap membantu, walaupun kita hanya berangkat berdua," jelasnya.

Agam menjelaskan, festival balon udara di Meksiko memiliki sejumlah perbedaan dibandingkan penyelenggaraan di Wonosobo.

Di Indonesia, balon udara diterbangkan sesuai regulasi dengan sistem ditambatkan demi alasan keselamatan penerbangan. 

Sementara di Meksiko, balon diterbangkan secara bebas menggunakan metode modern.

Selain itu, waktu penerbangannya juga berbeda. Jika di Wonosobo balon diterbangkan pada pagi hari, di Meksiko kegiatan berlangsung menjelang sore hingga malam.

"Perbedaan tersebut dipengaruhi aturan dan kondisi cuaca di masing-masing negara," lanjutnya.

Persiapan menuju festival internasional juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Agam mengungkapkan satu balon membutuhkan biaya produksi sekitar Rp10 juta.

Biaya tersebut dipengaruhi desain yang cukup rumit serta penggunaan berbagai warna kertas khusus yang tidak tersedia di Wonosobo sehingga harus dipesan terlebih dahulu.

Selain biaya produksi, perjalanan menuju Meksiko juga menjadi tantangan tersendiri karena waktu tempuh penerbangan mencapai sekitar 38 jam.

Meski menghadapi berbagai tantangan, dukungan dari anggota komunitas terus mengalir.

Mereka bergotong royong menyelesaikan produksi balon sebagai bentuk kebanggaan membawa nama Wonosobo dan Indonesia ke ajang internasional.

Agam berharap keikutsertaan tersebut membuktikan kualitas balon udara Wonosobo mampu bersaing dengan negara lain.

Selain tampil di luar negeri, Wonosobo juga memiliki agenda tahunan yang menjadi daya tarik wisata.

Festival pertama adalah Festival Mudik, yang digelar pada momentum Syawalan selama lebih dari satu pekan di lebih dari 15 lokasi dengan puncak acara berlangsung di Alun-alun Wonosobo. Agenda kedua ialah Java Balloon Attraction yang rutin digelar sekitar Juli hingga Agustus.

Selain dua agenda utama tersebut, berbagai festival balon juga digelar dalam skala desa melalui kegiatan tradisi seperti Merdi Dusun dan peringatan lainnya.

Balon udara Wonosobo kini tidak hanya menjadi tradisi masyarakat, tetapi juga telah memperoleh pengakuan resmi.

"Budaya balon udara Wonosobo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda serta memiliki hak Kekayaan Intelektual Komunal (KIK)," imbuhnya.

Hal tersebut menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya Wonosobo.

Usai mengikuti festival di Meksiko, Komunitas Balon Udara Wonosobo dijadwalkan langsung memenuhi undangan kegiatan balon udara di Gorontalo sebagai bagian dari kerja sama promosi budaya.

"Semoga balon udara mendunia dan tetap diteruskan oleh generasi berikutnya agar bisa memperkenalkan Wonosobo di Indonesia bahkan di dunia," tandasnya. (ima)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.