TRIBUN-MEDAN.com - Diduga LGBT, pria dan 2 teman laki-lakinya diusir dari kampung.
Nasib istri dan anak disorot usai pria tersebut diusir warga.
Kasus ini terjadi di Desa Tarikolot, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.
Baca juga: Remaja Dikeroyok Pemuda Sok Jago di Skatepark Taman Bunga, Berawal Cekcok karena Bola
Warga yang resah langsung bereaksi.
Mereka mendapati tiga orang pria di dalam sebuah kontrakan yang diduga merupakan LGBT.
Ketiga pria tersebut kemudian langsung diamankan ke balai desa untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Kabar Duka, Legenda PSMS Medan Jampi Hutauruk Meninggal Dunia
Kapolsek Citeureup, Kompol Eddy Santosa mengatakan, persoalan itupun kini kemudian telah diselesaikan.
Menurutnya, kejadian tersebut tidak dibawa ke ranah hukum dan warga memberikan sanksi sosial sebagai efek jera.
"Sanksi sosialnya kasar-kasarnya diusirlah dari warga situ, gak boleh tinggal di situ," ujarnya, Sabtu (1/7/2026).
Ia mengatakan, ketiga orang tersebut terdiri dari pemilik kontrakan yang telah memiliki istri dan tinggal di wilayah tersebut, kemudian dua lainnya merupakan warga luar.
Baca juga: Misteri Tewasnya Sutrimo, Pengamat: Kalau Eks Jampidsus Febrie Tak Diperiksa, Berarti Polisi Diancam
Ketiganya pun langsung angkat kaki dari kampung tersebut dan tidak diperbolehkan untuk kembali.
"Karena istri dan anaknya warga asli situ, dia yang boleh tinggal di situ, kalau suaminya gak boleh. Yang tamu dua itu kan gak tau dari mana, juga udah dipulangin," katanya.
Baca juga: Usai Diperjuangkan Bupati Tapsel, 3 Jalan Menuju Desa Terisolir Kini Masuk Prioritas Kementerian PU
Di dalam rumah tersebut terdapat tiga orang pria yang diduga merupakan kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).
Warga yang nampak telah berkerumun di depan rumah pun nampak geram dan menyoraki orang-orang tersebut ketika dibawa keluar.
Dikonfirmasi terpisah Kapolsek Citeureup, Kompol Eddy Santosa membenarkan adanya kejadian tersebut.
Aksi penggerebekan tersebut dilakukan karena warga merasa curiga dan resah dengan perbuatan penyimpangan seksual.
Baca juga: Misteri Tewasnya Sutrimo, Pengamat: Kalau Eks Jampidsus Febrie Tak Diperiksa, Berarti Polisi Diancam
"Diduga LGBT, dari masyarakat kan udah pada resah kayak gitu," ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Eddy Santosa mengatakan, salah satu dari tiga orang tersebut merupakan pemilik kontrakan yang menjadi lokasi penggerebekan.
Pemilik kontrakan tersebut pun telah memiliki anak istri di wilayah tersebut. Sementara itu dua orang lainya merupakan warga luar.
"Jadi pada saat ada yang datang ke kontrakan, gak tahu mau apa lah kan itu, mau ngontrak atau apa, digerebek lah sama warga," katanya.
Setelah digerebek, warga membawa laki-laki tersebut ke balai desa untuk dilakukan tindak lanjut.
Sebelumnya
Gubernur Sumut menyoroti soal tingginya angka narkobda dan kasus lesbian, gay, biseksual, transgender serta queer (LGBTQ) di Sumut.
Menurut Bobby, kedua persoalan tersebut menjadi ancaman serius terhadap kualitas fisik dan mental generasi muda yang akan menentukan masa depan bangsa.
Untuk itu, Bobby mengajak, seluruh elemen masyarakat bersatu memerangi penyalahgunaan narkoba dan LGBTQ tersebut.
"LGBTQ itu menular dan bisa sangat cepat, begitu juga narkoba dan keduanya benar-benar merusak anak muda kita yang harusnya bisa membangun negeri ini,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).
Sorotan dua kasus tersebut disampaikan Bobby Nasution saat menghadiri Pelantikan Pengurus Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan Forum Alumni Himpunan Mahasiswa Islam-Wati (FORHATI) Sumut masa bakti 2026 - 2031.
Bobby menilai tingginya peredaran narkoba di Sumut serta ancauman LGBTQ merupakan persoalan yang perlu ditangani secara bersama-sama.
Baca juga: Sarang Narkoba di Tengah Kebun Sawit Langkat Digerebek, Seorang Pria Diamankan Polisi
Ia juga menyebut kedua isu tersebut termasuk ancaman nonmiliter sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.
“Ini tentang moral anak-anak muda kita yang mulai terkikis, masuk dalam ancaman nonmiliter yang diperkuat melalui Perpres. Saya optimis ini bisa kita tangani, tetapi kolaborasi dengan KAHMI terutama pergerakan dari presidium baru dan seluruh masyarakat akan lebih cepat,” jelasnya.
Menurut Bobby, upaya melawan kedua persoalan tersebut dapat dimulai dari lingkungan terkecil. Masyarakat diharapkan tidak menormalisasi perilaku yang dinilai menyimpang serta lebih peduli terhadap kondisi lingkungan masing-masing.
Senada dengan itu, Presidium Majelis Nasional (MN) KAHMI Ahmad Doli Kurnia Tanjung menegaskan, masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Karena itu, kualitas fisik dan mental mereka harus dijaga.
“Masa depan negeri kita ada di anak-anak muda kita, kalau fisik dan mentalnya rusak dia tidak akan bisa membangun negeri ini, dia akan menjadi anak yang lemah,” kata Ahmad Doli Kurnia Tanjung.
Doli berharap seluruh pihaknya dapat memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sumut.
“Saya harap KAHMI bisa berkolaborasi dengan Pak Gubernur membangun Sumut, menjadi organisasi yang akuntabel, hadir di tengah masyarakat dan modern,” jelasnya.
(*/Tribun-medan.com)