Sempat Terbengkalai, Situs Patirtaan Ngawonggo di Malang Kini Jadi Destinasi Wisata
Eko Darmoko August 02, 2026 06:35 PM

SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Situs Patirtaan Ngawonggo di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang merupakan peninggalan sejarah Mataram Kuno.

Situs yang berupa pemandian ini awalnya tidak terawat, namun kini menjadi tempat wisata sejarah yang layak dikunjungi.

Berdasarkan pantauan SURYAMALANG.COM, situs tersebut berada di tengah pedesaan.

Lokasinya tepat berada di salah satu rumah warga. Untuk menuju ke situs, pengunjung harus turun ke bawah.

Suasana asri terasa ketika sudah memasuki kompleks pemandian.

Banyak pohon bambu yang tinggi dan pepohonan cocok untuk bersantai.

Sedangkan lokasi pemandian masih berada di bawah. Posisinya tepat di tebing sungai.

Baca juga: Cerobong Asap Kuno dan Gua Jepang Peninggalan Perang Dunia II, Bisa Jadi Potensi Wisata Kota Batu

Juru Pelihara (Jupel) Situs Patirtaan Ngawonggo, Rahmad Yasin, menjelaskan awal ditemukan kondisi patirtan atau pemandian itu dipenuhi semak belukar dan tidak terawat.

Oleh warga, pekarangan itu digunakan untuk bercocok tanam.

Peninggalan situs ini sudah diketahui warga sejak turun temurun.

Akan tetapi warga tidak memiliki pengetahuan bagaimana cara untuk merawat dan mengelola situs tersebut. Sehingga oleh warga dibiarkan begitu saja.

Pada 2017, Rahmad bersama temannya berinisiatif untuk membersihkan situsnya.

Aktivitas itu ia unggah di media sosial Facebook. Banyak warga yang hingga akademisi tertarik dengan peninggalan tersebut.

"Langsung di situ viral kemudian mendapatkan tanggapan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, kemudian para ahli sejarah atau arkeolog, pecinta sejarah, hingga pecinta cagar budaya untuk berbondong-bondong datang ke sini," kata Yasin kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (2/8/2026).

Yasin menyebutkan, dosen Universitas Negeri Malang (UM) mengeluarkan statement jika patirtaan di Desa Ngawonggo itu merupakan peninggalan era Kerajaan Medang atau dikenal Mataram Kuno.

Satu bulan kemudian, penemuan cagar budaya itu ditindaklanjuti oleh BPK Jawa Timur dengan dilakukan ekskavasi.

Setelah diekskavasi, kawasan tersebut menjadi lebih tertata.

Kini menjadi destinasi wisata sejarah yang dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Selain itu, warga juga memanfaatkan situs ini untuk selamatan warga desa di pergantian Tahun 1 Suro, ritual, mensucikan diri, kemudian meditasi.

"Rata-rata pengunjung ke Situs Patirtaan Ngawonggo ini sebanyak 500 sampai 1.000 orang per bulan baik wisatawan lokal maupun mancanegara," jelas pria berusia 34 tahun itu.

Setiap wisatawan diwajibkan untuk reservasi terlebih dahulu sebelum berkunjung. Jika tidak, petugas tidak bisa mendampingi.

Sebab, wisata tersebut mengusung konsep wisata edukasi.

Meskipun tidak dikenakan tiket masuk, di wisata ini disediakan kotak asih.

Pengunjung bisa memberikan kontribusinya secara sukarela. Namun ke depan, Yasin akan membuat konsep paket wisata.

"Di sini nggak ada tiket, tapi kami mau buat paket wisata."

"Dari paket itu kami gunakan untuk menyediakan suguhan makanan, seperti jajanan, minuman, perawatan fasilitas, dan untuk pemandunya," tegas Yasin.

Terpisah, Dyah Retnosari mengaku pertama kali mengunjungi Situs Patirtaan Ngawonggo. Warga Kota Malang itu merasa tertarik untuk mengetahui sejarah cagar budaya itu.

"Kebetulan suka wisata-wisata sejarah di Malang Raya, jadi saya berkunjung ke sini."

"Pengen tahu aja kayak apa sih situsnya. Sayangnya, saya nggak bisa mendekat ke pemandian soalnya lagi halangan," ujar Dyah.

Meskipun tidak bisa mendekat, Dyah mengaku cukup terkesan dengan wisata ini.

Selain sejuk dan asri, ia merasakan ketenangan jika berlama-lama tempat tereebut. Sebab, terdengar suara suara gemercik air sungai.

"Di sini rasanya adem, tenang, bisa buat healing juga. Terus bisa buat foto-foto," pungkasnya.

Baca juga: Dibangun pada Abad ke-19, SDN Kidul Dalem 1 Simpan Jejak Seabad Lebih Pendidikan di Kota Malang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.