43 Kambing Mati Terpanggang, Kandang Ludes, Rugi Rp200 Juta, Supri Memilih Ikhlas dan Tak Menyerah
M Zulkodri August 02, 2026 08:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Bau hangus masih menyelimuti bekas peternakan kambing milik Edy Supryanto alias Supri di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (2/8/2026).

Di atas tanah yang menghitam, hanya tersisa tiang-tiang kayu yang hangus dan lembaran seng yang berserakan.

Kandang yang sebelumnya menjadi tempat Supri menggantungkan hidup kini rata dengan tanah.

Yang paling menyayat hati, 43 ekor kambing miliknya ditemukan mati terpanggang.

Tak ada satu pun yang berhasil diselamatkan dari kobaran api yang melahap kandang pada Sabtu (1/8/2026) malam.

Namun, di tengah kehancuran itu, Supri berusaha tetap tegar.

Dengan gerobak dorong roda tiga, ia mengumpulkan satu per satu bangkai kambing yang hangus.

Tidak ada amarah yang ditunjukkan. Tidak pula ada tangisan yang pecah.

Hanya wajah lelah seorang peternak yang baru saja kehilangan hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Padahal, peternakan itu bukan sekadar kandang bagi Supri. Di sanalah ia mencari nafkah dan menghidupi keluarganya.

"Ngopi dulu bang, santai. Habis itu baru kita berangkat ke kandang," ujar Supri saat menyambut kedatangan wartawan di rumahnya.

Kalimat sederhana itu seolah menggambarkan bagaimana dirinya berusaha menghadapi musibah besar yang baru saja terjadi.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Supri kemudian mengajak perjalanan menuju lokasi peternakan yang berada di kawasan hutan Dusun Rasau.

Akses menuju lokasi tidak mudah. Jalan tanah berpasir dan bergelombang harus dilalui menggunakan sepeda motor.

Begitu tiba, pemandangan memilukan langsung terlihat.

Area kandang seluas sekitar 15 x 20 meter telah berubah menjadi hamparan tanah hitam. Tiang-tiang bangunan hangus berdiri, sementara seng berserakan di berbagai sudut lokasi.

Di antara puing-puing itu, bangkai kambing masih terlihat.

Supri kemudian mengumpulkannya satu per satu.

Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata betapa besar kehilangan yang dialaminya.

Api Kecil yang Berubah Menjadi Bencana

Baca juga: Head to Head, Indonesia Vs Vietnam di Piala AFF, Serta Sejarah Pakansari Jadi Kenangan Manis

Kandang Kambing Terbakar
HANGUS TERBAKAR - Kandang ternak milik Supri yang rata dengan tanah usai kebakaran hebat di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Minggu (2/8/2026). Insiden yang menghanguskan lahan seluas 15 x 20 meter tersebut mengakibatkan 43 ekor kambing mati terpanggang dengan total kerugian diperkirakan menembus angka Rp200 juta lebih. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha)

Kebakaran itu menyisakan tanda tanya mengenai penyebabnya.

Danil (43), warga Desa Gantung, menjadi salah satu orang yang sempat melihat titik api sebelum peternakan tersebut terbakar hebat.

Sabtu (1/8/2026) malam sekitar pukul 21.00 WIB, Danil baru saja pulang memancing dari kawasan Air Itam.

Saat melintas di jalan perkebunan sawit yang berada di belakang kandang, ia melihat cahaya terang dari arah peternakan.

Awalnya, Danil mengira cahaya tersebut berasal dari lampu kandang yang memang biasa menyala pada malam hari.

Namun, setelah memperhatikan lebih dekat, ia melihat api kecil di sekitar bangunan.

"Ada api, tapi tak besar. Aku pikir itu biasa kan karena saat itu lampu di kandang juga masih menyala. Pokoknya masih normal lah kandang saat itu," kata Danil.

Saat itu, kondisi di sekitar kandang masih tampak tenang.

Tidak ada suara gaduh kambing. Asap tebal juga belum terlihat. Api yang muncul hanya tampak kecil, sehingga Danil menduga ada aktivitas membakar sampah.

"Tak ada suara kambing, belum terbakar semak-semak tuh. Asap belum ada juga, cuman ada api kecil-kecil, kayak membakar sampah," ujarnya.

Danil juga mengaku tidak melihat ada orang di sekitar lokasi.

Cuaca yang berangin malam itu diduga membuat api kecil tersebut dengan cepat membesar.

Tanpa disadari, kobaran api kemudian melahap kandang dan seluruh ternak yang berada di dalamnya.

Danil baru mengetahui bahwa api kecil yang dilihatnya malam itu telah berubah menjadi bencana besar setelah selesai menunaikan ibadah di masjid pada Sabtu pagi.

Di sana, ia mendengar kabar dari warga mengenai peternakan Supri yang telah musnah terbakar.

43 Kambing Tak Bisa Diselamatkan

Baca juga: Daftar Tiga Tim Sudah Tersingkir dari Piala AFF 2026, Indonesia Masih Berburu Tiket Semifinal

Supri sendiri baru mengetahui kandangnya terbakar pada Minggu pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Seperti biasa, ia hendak datang untuk memberikan pakan dan merawat ternaknya.

Namun, yang dilihatnya bukan lagi kandang yang berdiri kokoh.

Yang tersisa hanya puing-puing dan sisa asap.

"Kalau untuk tahunya itu yang jelas pagi tadi jam 7, waktu mau perawatan dan kasih makan. Ternyata sudah rata dengan tanah begini, ndak ada lagi tanda percikan api, tinggal sisa asap," tuturnya.

Peternakan yang berada cukup jauh di kawasan hutan membuat tidak ada warga yang mengetahui secara pasti kapan api mulai membesar.

Biasanya, lokasi tersebut tidak pernah benar-benar kosong pada malam hari. Supri maupun kedua anaknya bergantian menginap untuk menjaga peternakan.

Namun, malam itu menjadi pengecualian.

Tidak ada seorang pun yang berjaga.

"Ndak ada yang melihat kalau saat kejadian. Cuma sekitar jam 9 malam kemarin ada kawan-kawan sini pulang mancing, liat kobaran api kecil. Dikiranya bakar sampah, apalagi saat itu lampu di kandang ini masih terang dan hidup," kata Supri.

Supri juga membantah jika kebakaran terjadi akibat kelalaiannya.

Ia mengatakan selama musim kemarau tidak pernah melakukan aktivitas pembakaran di sekitar kandang.

Kalaupun membakar sampah, lokasinya berada sekitar 20 meter dari kandang dan api dipastikan telah benar-benar padam sebelum mereka meninggalkan tempat.

Namun, apa pun penyebabnya, kerugian sudah terlanjur terjadi.

Sebanyak 43 ekor kambing miliknya mati.

"Kondisi kambing waktu saya datang pagi tadi ya sudah mati semua, hangus semua tak ada yang tersisa sama sekali," ucapnya.

Baca juga: Kasus Kematian Sutrimo di Klinik Kecantikan Diusut, Polisi Periksa 5 Saksi dan Amankan Barang Bukti

Kehilangan Lebih dari Rp200 Juta

Edy Supriyanto Pemilik kandang kambing yang terbakar
TERIMA KEADAAN - Edy Supryanto saat diwawanvarai di lokasi bekas terbakar kandangnya di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (2/8/2026). Meski diterpa musibah, Supri memilih pasrah dan enggan melaporkan insiden tersebut ke aparat penegak hukum guna menghindari perselisihan.

Musibah tersebut bukan hanya menghilangkan puluhan ternak.

Supri juga kehilangan bangunan kandang yang selama ini menjadi bagian penting dari usaha peternakannya.

Jika dihitung dari nilai kambing dan bangunan, kerugiannya ditaksir mencapai lebih dari Rp200 juta.

"Total kerugian material kalau dari nilai kambing saja saat ini dikalikan Rp5 juta sudah sekitar Rp160 jutaan. Untuk fisik bangunan kandang kemarin habisnya Rp100 juta lebih. Jadi totalnya bisa Rp200 juta lebih," ungkapnya.

Bagi seorang peternak, angka tersebut bukanlah kerugian kecil.

Itu merupakan modal yang dikumpulkan melalui kerja keras bertahun-tahun.

Namun, Supri memilih tidak larut dalam kesedihan.

Ia masih ingin kembali beternak.

Hanya saja, untuk saat ini, keterbatasan modal membuat rencana tersebut harus ditunda.

"Kalau semangat dan optimis, saya tetap semangat karena jalan satu-satunya kami cari makan ya cuma ini. Cuma berkenaan sekarang ada keterbatasan modal, ya masih tertunda dulu sambil nunggu rezeki," katanya.

Memilih Menerima, Tak Ingin Menambah Masalah

Di tengah ketidakpastian penyebab kebakaran, Supri juga mengambil keputusan yang cukup mengejutkan.

Ia mengaku tidak berniat melaporkan peristiwa tersebut kepada aparat penegak hukum.

Baginya, musibah itu ingin diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

"Ndak, ndak ada berniat melapor ke mana-mana," ujarnya.

Supri mengatakan dirinya sempat dihubungi pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Kepala Desa Gantung terkait kejadian tersebut.

Namun, ia menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah desa mengenai langkah selanjutnya.

Ia tidak ingin proses penyelidikan justru menimbulkan kecurigaan atau persoalan baru.

Apalagi, hingga kini belum ada saksi yang mengetahui secara pasti bagaimana api pertama kali muncul.

Bagi Supri, kehilangan 43 kambing dan kandang senilai ratusan juta rupiah sudah cukup berat untuk dihadapi.

Ia tidak ingin musibah tersebut berujung pada perselisihan.

"Yang jadi masalah itu kan kalau di-sidik-sidik, terus ketemu pelakunya atau penyebabnya. Kalau saat ini kan aku nrimo (menerima), sabar," katanya.

Namun, di balik sikap pasrah tersebut, ada kekhawatiran yang juga ia simpan.

Supri takut jika suatu hari penyebab kebakaran benar-benar diketahui dan orang yang dianggap bertanggung jawab ditemukan.

"Cuman kalau ketemu nanti, kan ndak tahu reaksi aku gimana. Masalahnya aku takut di situ," tambahnya.

Kini, yang tersisa bagi Supri hanyalah tanah hitam, puing kandang, dan kenangan tentang 43 ekor kambing yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Namun, ia masih menyimpan satu hal yang belum terbakar oleh api: harapan.

Dengan modal yang terbatas dan usaha yang harus dimulai kembali dari awal, Supri memilih untuk tetap bertahan.

Sebab bagi dirinya, peternakan bukan sekadar usaha.

Itulah jalan yang selama ini dipilihnya untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga.

Dan dari tengah puing-puing kebakaran itu, Supri kembali menunggu datangnya rezeki untuk membangun semuanya dari awal.(*)

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.