Rupiah Diprediksi Melemah hingga Rp18.300 per Dolar AS, Pengamat Ungkap Pemicunya
Abdul Rosid August 02, 2026 09:01 PM

TRIBUNBANTEN.COM - Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan depan. 

Sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis diproyeksikan memengaruhi sentimen pasar sehingga rupiah berpotensi melemah hingga berada di kisaran Rp18.250-Rp18.300 per dolar Amerika Serikat (AS).

Meski berhasil menguat pada perdagangan harian terakhir, penguatan tersebut dinilai belum cukup untuk mengubah tren pelemahan rupiah secara mingguan.

Berdasarkan data pasar spot pada Jumat (31/7/2026), rupiah ditutup menguat 0,49 persen ke level Rp18.022 per dolar AS. 

Baca juga: PKH Agustus 2026 Cair? Begini Cara Cek Status Penerima Bansos Lewat NIK KTP

Namun jika dibandingkan dengan posisi sepekan sebelumnya, mata uang Garuda masih melemah sekitar 0,32 persen.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.058 per dolar AS, menguat tipis secara harian tetapi masih terkoreksi dibandingkan pekan sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi domestik yang segera diumumkan.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian utama pelaku pasar adalah neraca perdagangan Indonesia. 

Menurut Ibrahim, terdapat peluang neraca perdagangan periode Juni 2026 mencatatkan defisit sehingga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

"Pasar akan melihat banyak data yang akan dirilis di Indonesia, terutama neraca perdagangan yang kemungkinan besar pada Juni akan mengalami defisit. Hal ini juga akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan,” ujar Ibrahim, Minggu (2/8/2026). 

Selain itu, inflasi Indonesia diperkirakan melandai. Penurunan inflasi didorong turunnya harga sejumlah komoditas setelah adanya intervensi pemerintah di pasar. 

Ibrahim memperkirakan inflasi berada di bawah 3,34 persen. 

Perhatian pasar juga tertuju pada data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia. 

Ibrahim memperkirakan PMI masih berada di bawah level 50 atau tetap di zona kontraksi, meski lebih baik dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level 46,9. 

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas industri manufaktur belum pulih sepenuhnya. Situasi itu juga berdampak pada pasar tenaga kerja. 

"PMI manufaktur kemungkinan masih terkontraksi di bawah 50. Walaupun pada Juli diperkirakan berada di atas 46,9, tetapi masih menunjukkan kontraksi. Ini mengindikasikan kondisi tenaga kerja masih melemah dan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi di berbagai sektor,” paparnya.

Cadangan devisa Indonesia juga diperkirakan turun dibandingkan posisi Juni 2026 yang mencapai 145,6 miliar dollar AS. 

Penurunan tersebut membuat kemampuan pembiayaan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri berada di kisaran 4,9 bulan.

"Artinya, posisi tersebut masih berada di bawah standar yang umumnya digunakan untuk negara dengan peringkat utang BBB, yaitu sekitar lima bulan cadangan devisa,” sebutnya.

Ibrahim juga memperkirakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kembali melemah pada Juli 2026. Tren penurunan IKK, menurut dia, sudah berlangsung sejak awal tahun. 

IKK turun dari level 129 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026. Untuk Juli, Ibrahim memprediksi indeks tersebut kembali turun menjadi 116,6.

Menurut Ibrahim, seluruh data ekonomi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) pada pekan depan akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah. 

"Data-data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia pada pekan depan akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah,” kata Ibrahim.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.