Terkait Dugaan Korupsi, Pemkot Surabaya Pastikan Satwa KBS Tak Ada yang Mati Karena Kelaparan
Eko Darmoko August 02, 2026 09:35 PM

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Pemkot Surabaya memastikan dugaan korupsi pengelolaan keuangan Kebun Binatang Surabaya (KBS) tidak berdampak pada kesejahteraan satwa.

Pemkot menegaskan, tidak ada satwa yang mati akibat kekurangan pakan maupun kelalaian sejak pengelolaan KBS berada di bawah pemerintah daerah.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengatakan, kematian satwa yang sempat ramai diperbincangkan publik mayoritas terjadi sebelum KBS dikelola sebagai Perusahaan Daerah (PD) BUMD milik Pemkot.

Menurutnya, sejak pembenahan pengelolaan dilakukan pada era Wali Kota Tri Rismaharini, kondisi satwa terus membaik.

"Sejak zaman Bu Risma sudah tidak ada hewan yang mati karena kelaparan atau kurus."

"Yang banyak menjadi catatan itu sebelum tahun 2016, bahkan sejak sebelum KBS menjadi perusahaan daerah," kata Cak Eri ketika dikonfirmasi SURYAMALANG.COM di Surabaya.

Pihaknya juga meminta masyarakat tidak mudah mempercayai foto-foto satwa kurus yang kembali beredar di media sosial.

Menurutnya, sebagian besar dokumentasi tersebut merupakan foto lama sebelum pengelolaan KBS dibenahi.

Baca juga: Diduga Korupsi Rp 10,2 Miliar, Choirul Anwar Mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya Jadi Tersangka

"Kalau ada foto satwa mati atau kurus, dilihat dulu tahunnya. Jangan langsung dikaitkan dengan kondisi sekarang," kata Wali Kota dua periode ini.

Sebagai bukti perbaikan pengelolaan, Eri menyebut KBS telah memperoleh akreditasi B dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Selain itu, kesejahteraan satwa diaudit secara rutin oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA).

"Setiap tahun ada audit kesejahteraan satwa oleh BKSDA. Mereka menilai apakah ada satwa yang sakit, kurus, atau mengalami perlakuan yang tidak layak."

"Hasilnya, nilai KBS termasuk sangat baik dan menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia," ujarnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai kematian anak gajah Sumatra Dumbo dan orangutan Damai pada 2021, Eri Cahyadi menegaskan setiap kematian satwa selalu melalui proses pemeriksaan oleh BBKSDA dan tim dokter hewan.

"Kalau ada satwa mati, pasti diaudit," katanya.

"Dilihat apakah karena usia, karena penyakit, atau karena kelalaian. Tidak ada laporan dari BKSDA yang menyatakan satwa mati karena kelalaian atau kekurangan pakan," katanya.

Dumbo diketahui mati pada usia pada 15 Desember 2021 atau pada usia 2,5 tahun akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).

Sedangkan Damai, orang utan betina koleksi KBS yang mati pada 28 November 2021 di usia 10 tahun akibat gangguan penyakit jantung dan fungsi hati.

Baca juga: Kebun Binatang Surabaya Sukses Rawat 8 Harimau, 7 Singa hingga Kucing Liar Afrika

Angka kematian tersebut relatif jauh lebih menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan kata lain, angka Kematian tersebut terjadi sebelum pembenahan besar-besaran pengelolaan KBS.

Sejumlah kematian satwa yang pernah menjadi sorotan, seperti jerapah Melani yang mati pada 2014 dengan sekitar 20 kilogram sampah di lambungnya serta singa Michael yang ditemukan mati terjerat sling baja pada Januari 2014.

Selain itu, beberapa kematian harimau Sumatra, komodo, dan orangutan yang sempat terjadi pada periode 2012–2014 turut menjadi alasan KBS kala itu mendapat sorotan luas dari masyarakat.

Pakan KBS menjadi salah satu pos Operasional yang cukup besar menarik anggaran perusahaan. Dari catatan laporan keuangan tahun berakhir 31 Desember 2023, biaya pakan satwa KBS menjadi komponen paling tinggi untuk beban konservasi, yakni mencapai Rp 5,9 miliar.

Dibandingkan tahun 2022 yang sebesar Rp 5,26 miliar, ada kenaikan sekitar Rp700 juta. Pos pakan satwa itu menjadi penopang utama operasional konservasi KBS, mengingat kebutuhan makan satwa harus dipenuhi setiap hari dengan standar tertentu.

Dengan memastikan pakan ternak, Perumda Kebun Binatang Surabaya (KBS) menegaskan seluruh satwa yang berada dalam pengelolaannya saat ini dalam kondisi sehat.

Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS, Nurika Widyasanti mengatakan, KBS sebagai lembaga konservasi memiliki komitmen untuk mengedepankan kesejahteraan satwa dalam setiap aspek pengelolaan.

"Kondisi satwa di KBS sampai dengan hari ini alhamdulillah dalam kondisi baik dan sehat. Kami selalu mengupayakan pemeliharaan maupun peningkatan kualitas secara berprogres dan berkelanjutan," kata Nurika ketika dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (28/7/2026).

Saat ini KBS memilikisekitar 230 spesies hewan dengan total populasi mencapai 2.230 ekor. Seluruh satwa tetap mendapatkan pakan, perawatan, dan pemeliharaan secara optimal sesuai prinsip animal welfare atau kesejahteraan satwa.

"Kami memberikan pakan, perawatan dan pemeliharaan satwa secara optimal sesuai dengan kaidah animal welfare atau kesejahteraan satwa," tegasnya.

Mengenai isu kematian satwa, Nurika menjelaskan angka mortalitas di KBS masih berada dalam batas kewajaran. Ia menyebut jumlah kematian dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan yang signifikan dan terjadi sebagai bagian dari siklus alami kehidupan satwa.

"Adapun terjadinya satwa mati itu pastinya sesuatu hal kematian yang normal, bukan menjadi suatu kematian yang dikarenakan kelalaian," ujarnya.

Baca juga: Kebakaran KMP Mutiara Santosa 2 di Perairan Sumenep Madura, 5 Orang Meninggal, 227 Selamat

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.