Potensi Ziswaf di Indonesia Hampir Rp400 Triliun, BWI Dorong Perluasan ke Wakaf Energi
Wahyu Aji August 03, 2026 01:32 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Wakaf Indonesia (BWI) menyebut potensi Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) di Indonesia diperkirakan hampir mencapai Rp400 triliun per tahun. 

Komisioner sekaligus Ketua Lembaga Kenazhiran BWI, M. Ali Yusuf, mengatakan potensi wakaf uang yang diperkirakan mencapai Rp181 triliun harus dioptimalkan.

Menurutnya, diperlukan inovasi agar masyarakat semakin tertarik menyalurkan wakaf sesuai kebutuhan yang dirasakan langsung.

"Kalau wakaf hari ini baru wakaf uang. Kalau wakaf tanah banyak sekali, nilainya bisa sampai Rp2.000 triliun. Tantangannya sekarang bagaimana potensi wakaf uang sekitar Rp180 triliun itu bisa benar-benar terkumpul, bukan hanya tercatat sebagai potensi," kata Ali dalam diskusi Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Ali menilai isu lingkungan dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berwakaf. 

Selain program wakaf hutan, ia menyebut ke depan akan muncul konsep wakaf energi sebagai instrumen baru pembiayaan energi terbarukan.

"Dukungan publik akan lebih mudah didapat ketika ajakan berwakaf nyambung dengan kepentingan masyarakat. Salah satunya isu lingkungan seperti solar panel, wakaf hutan, dan saya kira ke depannya juga ada wakaf energi," ujarnya.

Menurut Ali, pemasangan panel surya di masjid melalui skema wakaf hijau menciptakan penghematan yang dapat dialihkan untuk pemberdayaan ekonomi umat dan berbagai program sosial.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Bidang Percepatan Isu Strategis Sektor ESDM, M. Pradana Indraputra, mengatakan pemerintah terus meningkatkan porsi energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). 

Namun, ia menegaskan target transisi energi tidak dapat dicapai hanya mengandalkan APBN maupun investasi besar.

"Salah satunya adalah porsi bauran energi terbarukan. RUPTL tahun pendahulunya, itu porsinya 52 persen kalau tidak salah. RUPTL yang sekarang kalau tidak salah 73%, itu plus baterai dan lain-lain," ungkap Pradana.

Deputi Direktur Program Just Energy Transition MOSAIC, Reka Maharwati, mengatakan pemasangan PLTS di rumah ibadah memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar penghematan biaya listrik. 

Menurutnya, masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan energi bersih.

"Listrik berbasis surya di masjid bukan sekadar menghemat energi, tetapi menghidupkan ruang-ruang pemberdayaan masyarakat," kata Reka.

Dari sisi implementasi, Indonesia memiliki lebih dari 750.000 masjid dan musala yang dinilai berpotensi menjadi pusat pengembangan energi bersih berbasis komunitas. 

Baca juga: Momen Zikir dan Doa Kebangsaan, BAZNAS Ajak Umat Pererat Persatuan Melalui Gerakan Zakat

Bahkan, jika sekitar 200.000 masjid memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 5 kW, maka dapat menghasilkan sekitar 1 gigawatt (GW) energi bersih yang berkontribusi pada percepatan transisi energi nasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.