TRIBUNTRENDS.COM - Misteri kematian Sumarna (42), petugas keamanan Perum Jasa Tirta (PJT) II, terus menyita perhatian publik.
Kasus yang terjadi di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, itu kini memasuki babak baru setelah muncul sejumlah kesaksian dari warga sekitar.
Korban diketahui ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan kedua tangan terborgol, sebuah fakta yang memunculkan banyak pertanyaan mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi sebelum kematiannya.
Di tengah proses penyelidikan yang masih berlangsung, warga yang bermukim tidak jauh dari lokasi kejadian mulai memberikan keterangan penting kepada aparat penegak hukum.
Beberapa warga mengaku sempat mendengar suara keributan pada dini hari. Tidak hanya itu, mereka juga mengaku mendengar teriakan minta tolong yang berasal dari sekitar area waduk sesaat sebelum jasad korban ditemukan.
Kesaksian tersebut menjadi perhatian serius penyidik karena diduga dapat membantu mengungkap rangkaian kejadian yang berujung pada kematian Sumarna.
Informasi dari warga kini sedang dicocokkan dengan temuan-temuan lain yang telah dikumpulkan selama proses penyelidikan.
Baca juga: Temuan Baru soal Kematian Sumarna Satpam Waduk Jatiluhur, Gelagat Aneh hingga Sosok Pemilik Borgol
Satreskrim Polres Purwakarta pun terus mendalami setiap petunjuk yang muncul guna mengungkap penyebab pasti kematian korban.
Keterangan para saksi dianggap penting karena dapat memberikan gambaran mengenai situasi yang terjadi menjelang ditemukannya jasad korban.
Hingga saat ini, polisi masih bekerja mengumpulkan bukti dan memeriksa berbagai pihak yang dianggap mengetahui peristiwa tersebut.
Dengan munculnya kesaksian baru dari warga, harapan untuk mengungkap tabir di balik kematian petugas keamanan itu semakin terbuka.
Perkembangan penyelidikan pun terus menjadi sorotan masyarakat yang menanti kejelasan atas kasus tersebut.
Polisi memastikan seluruh informasi yang diterima akan ditelusuri secara menyeluruh.
Ketua RW 07 Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur, Dadang, mengatakan informasi tersebut diperolehnya dari sejumlah warga yang berada di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).
Namun, tidak ada warga yang berani keluar rumah untuk memastikan sumber suara tersebut.
"Ada yang mengatakan mendengar suara kegaduhan seperti orang ribut. Ditambah lagi ada warga yang mendengar suara jeritan minta tolong. Tapi yang mendengar tidak berani keluar rumah, sehingga tidak melihat siapa yang berada di luar," kata Dadang di lokasi kejadian, Minggu (2/8/2026).
Menurut Dadang, peristiwa itu terjadi saat dini hari ketika sebagian besar warga masih beristirahat.
Karena khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan, warga yang mendengar suara tersebut memilih tetap berada di dalam rumah.
Selain itu, Dadang mengaku mendapat informasi dari warga lain yang sempat melihat korban sekitar pukul 02.30 WIB.
Saat itu, Sumarna disebut masih menjalankan tugas patroli di sekitar tanggul waduk.
Menurut keterangan yang diterimanya, korban terlihat sedang melakukan peregangan sebelum melanjutkan patroli.
"Ada warga yang melihat almarhum di ujung sebelah sana sekitar setengah tiga pagi. Informasi yang saya terima, saat itu almarhum sedang peregangan," ujarnya.
Baca juga: Titik Terang Pembunuh Satpam Waduk Jatiluhur, Keberadaan Sumarna saat Hilang 5 Jam, Rute Tak Wajar
Dadang juga mengaku sempat berbincang dengan korban beberapa hari sebelum peristiwa tersebut.
Dalam perbincangan itu, Sumarna bercerita telah menegur sekelompok pemuda yang melakukan vandalisme di kawasan tanggul waduk.
Namun, menurut Dadang, teguran tersebut dilakukan secara baik-baik sehingga tidak memicu perselisihan.
"Kalau masalah dari vandalisme, saya yakin ini bukan yang melibatkan dari vandalisme itu. Karena saya pernah ketemu dengan almarhum di hari Kamis, kisaran setengah empat pagi. Dia pernah bilang sudah menegur, tapi memang secara baik-baik. Terus juga kalau ibarat ada konflik, tidak ada konflik," katanya.
Dadang juga membenarkan adanya penemuan handy talky (HT) milik korban di atas sebuah perahu yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
"Yang saya tahu memang ada HT di atas perahu. Waktu saya mendapat informasi penemuan HT di sana, kondisinya bersih, tidak ada jejak-jejak kaki," ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Purwakarta AKBP Febri Nurzam mengatakan penyidik bersama Tim Inafis Polda Jawa Barat kembali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk memperkuat alat bukti.
"Di sini ada dari Inafis Polda, dari jajaran Reskrim juga ada, kami ada di sini untuk melakukan olah TKP ulang," kata Febri.
Ia mengajak masyarakat yang memiliki informasi terkait kasus tersebut agar menyampaikannya kepada penyidik.
"Apa yang Ibu dengar, apa yang Ibu lihat, apa yang Ibu ketahui, tolong disampaikan ke kami. Setidaknya bisa membantu keluarga korban cepat mendapatkan kepastian hukum," ujarnya.
Hingga kini, polisi telah memeriksa lebih dari 15 saksi serta mengumpulkan rekaman CCTV dari sejumlah titik di sekitar lokasi kejadian. Rekaman tersebut masih dianalisis untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang menyebabkan kematian Sumarna.
"Kalau untuk CCTV, kami sudah ada beberapa CCTV yang kami dapatkan dan ada hasil dari situ. Sekarang proses analisa CCTV pun juga masih berjalan," kata Febri.
Penyidik masih terus mengumpulkan berbagai alat bukti guna mengungkap penyebab pasti kematian Sumarna yang ditemukan meninggal dunia dengan kedua tangan terborgol di kawasan Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026).
(TribunTrends/TribunJakarta)