Hitoshi Imamura, salah satu tokoh militer Jepang saat menginvasi Indonesia pada 1942 yang berhasil diwawancara oleh Nugroho Notosusanto.
Penulis: Nugroho Notosusanto | Tayang di Majalah Intisari edisi Agustus 1976 dengan judul "Berwawancara dengan Tokoh-tokoh Jepang yang Dulu Berkuasa di Indonesia"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sebagai seorang sejarawan saya biasa berwawancara dengan tokoh-tokoh yang pernah berperanan di dalam sejarah. Tetapi jika yang diwawancarai adalah orang asing, maka ada suatu aspek khusus yang terdapat pada wawancara-wawancara itu.
Apalagi jika peranan itu menyangkut suatu peristiwa konflik antara bangsa asing yang bersangkutan dengan bangsa kita.
Hal itu saya alami ketika saya berwawancara dengan beberapa tokoh Jepang yang dulu, selama Perang Pasifik, berkuasa di Indonesia.
Seperti kita ketahui, zaman pendudukan Jepang di Indonesia merupakan suatu zaman yang penuh dengan duka-nestapa bagi rakyat Indonesia, penuh dengan penderitaan dan kenang-kenangan pahit. Namun, tidak dapat dipungkiri, bahwa dengan segala kekejamannya, orang Jepang di Indonesia bukannya tidak memberi pengaruh yang positif pada beberapa bidang tertentu.
Salah satu pengaruh positif kehadiran orang Jepang di Indonesia selama Perang Pasifik, adalah inspirasi yang diberikannya kepada bangsa kita untuk memiliki kepercayaan kepada diri-sendiri, untuk membebaskan diri dari kompleks inferioritas terhadap bangsa-bangsa Barat, khususnya orang Belanda yang pada waktu sesudah Perang bermaksud menjajah kita kembali.
Seorang Saiko Shikikan dan dua orang Gunseikan
Karena ruang lingkup studi yang saya lakukan terbatas kepada pulau Jawa, maka yang saya wawancarai hanyalah beberapa tokoh yang dulu berkuasa di Jawa saja.
Seperti kita ketahui, pulau Jawa pada waktu itu diperintah oleh Tentara Ke-16 dari Angkatan Darat (Rikugun) Jepang. Panglima (Saiko Shikikan) Tentara Ke-16 di Jawa selama zaman pendudukan berganti tiga kali, berturut-turut Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, Letnan Jenderal Kumakichi Harada, dan Letnan Jenderal Yaiciro Nagano.
Adapun Kepala Staf daripada Tentara Keenambelas merangkap sebagai Kepala Pemerintahan Militer atau Gunseikan, secara berturut-turut mereka itu adalah para Mayor Jenderal Seizaburo Okazaki, Shinshichiro Kokubu, dan Moichiro Yamamoto.
Dari ketiga ex-panglima itu yang masih sempat saya wawancarai sebelum meninggal pada 1968, adalah Jenderal Imamura. Sedangkan di antara para gunseikan, yang masih sempat saya temui dan masih hidup sampai tulisan ini dibuat (1976) adalah Kokubu dan Yamamoto.
Di antara mereka bertiga, saya paling terkesan oleh Imamura. Orangnya kecil, tingginya kira-kira hanya 1,6 m, tetapi sikapnya tidak menimbulkan kesangsiang bahwa dia adalah seorang pemimpin.
Pada waktu mau meninggalkan restoran tempat dia saya wawancarai, ternyata kendaraan atase pertahanan kita belum siap, sehingga kami harus menunggu. Imamura tidak mau diajak masuk kembali ke restoran, meskipun hujan sedang turun rintik-rintik: ia memilih berdiri di depan pintu.
Maka berdirilah dia di sana di samping saya dan atase pertahanan, dengan punggung yang tegak dan bertopang pada tongkatnya dengan kedua belah tangannya. Selama seperempat jam dia yang telah berusia 80 tahun lebih itu tidak bergerak-gerak apalagi beranjak dari tempatnya.
Dan saya teringat kepada cerita-cerita mengena Imamura ketika memimpin tentara Jepang di daerah Rabaul sesudah dia dipindahkan ke sana dari Jawa. Dia memimpin kurang lebih 100.000 prajurit dalam kampanye itu dan kehilangan lebih daripada separuh pasukannya karena gempuran-gempuran angkatan perang Amerika Serikat yang mempunyai keunggulan dalam daya-tembak.
Tetapi dia tidak pernah mundur, sampai akhirnya pucuk pimpinan di Tokyo menyerah kepada Serikat. Di antara ketiga orang panglima di Jawa, Imamura dikenal sebagai "terlalu lunak" terhadap orang Indonesia di kalangan Jepang sendiri.
Memang dia “hanya memperoleh” hukuman penjara dari Amerika Serikat, berlainan dengan Jenderal Harada yang dihukum gantung, sedangkan Jenderal Nagano meninggal karena sakit.
Dalam kunjungan terakhir ke Jepang, saya berwawancara dengan dua orang gunseikan yang terakhir di Jawa, yakni dengan Kokubu dan Yamamoto.
Sebagai seorang anak, saya masih teringat, bagaimana pada zaman Jepang orang-orang menyebut nama kedua orang gunseikan itu dengan nada yang bukan main hormatnya. Meskipun wilayah kekuasaan Tentara Ke-16 masih kalah dengan wilayah wewenang Kowilhan II kita yang sekarang, namun pembesar-pembesar Kowilhan kita adalah manusiawi dibandingkan dengan pembesar-pembesar Tentara Keenambelas Jepang itu, yang sudah seolah-olah seperti dewa yang menentukan hidup-mati orang-orang Indonesia.
Tuan Yamamoto cukup terkemuka kedudukannya — setelah Perang — sebagai anggota Parlemen (dari partai Liberal Demokrat yang berkuasa), tetapi Tuan Kokubu sudah sama sekali pensiun. Keduanya sudah mendekati usia 80 tahun, dan gejala-gejala tua sudah nampak jelas.
Meskipun sikap militernya masih nampak, namun jalannya sudah sangat lambat. Wajahnya merupakan bayang-bayang dari foto-foto mereka 30 tahun yang lalu, ketika masih gagah dengan sorot mata yang jantan.
Sudah banyak yang mereka lupakan mengenai peranan mereka selama Perang di Jawa, dan mereka hanya dapat mengecheck beberapa fakta yang saya ajukan dengan agak susah-payah.
Tokoh-tokoh Nakamura Butai
Saya dapat bertemu pula dengan tokoh-tokoh apa yang di Jawa Tengah dikenal dengan nama Nakamura Butai.
Pertama kali dengan Mayor Jenderal Junji Nakamura, yang sudah berusia 82 tahun, namun masih dapat berjalan dengan normal. Dia adalah bekas panglima bo-eitai atau komando pertahanan Jawa Tengah yang terdiri hanya atas dua batalyon, yakni Batalyon Kido di sekitar Semarang dan Batalyon Yuda di sekitar Purwokerto.
Di antara ketiga mereka itu kiranya yang paling dikenal di Jawa Tengah adalah Mayor Kido yang pasukannya terlibat di dalam Pertempuran Lima Hari Semarang, salah satu pertempuran yang diabadikan di dalam Museum ABRI Satria Mandala sebagai peristiwa kepahlawanan pada masa awal Kemerdekaan.
Ketika memperkenalkan diri kepada saya, Mayor Kido berdiri tegak dan berkata: "Smarang no Kido desu!" (Saya Kido dari Semarang). Dia tampak lebih muda dibandingkan dengan usianya.
Badannya tegap dan senyumnya agak kemalu-maluan. Dia mulai bercerita mengenai Pertempuran Lima Hari Semarang, yang sudah barang tentu bukan di sini tempatnya untuk diuraikan.
Yang terpenting dalam uraiannya adalah, bahwa sebagian besar pasukan yang dikerahkan dalam Pertempuran itu bukanlah dari batalyonnya sendiri, melainkan dari batalyon "tamu" yang kebetulan sedang liwat dari Irian menuju ke Jakarta, lalu terdampar di Semarang karena penyerahan Jepang yang sekonyong-konyong.
Batalyon "tamu" itu dipimpin oleh Mayor Yagi.
Saya juga menerima keterangan, bahwa pasukan Jepang yang banyak menimbulkan korban di kalangan kita di Yogyakarta dalam Pertempuran Kotabaru, adalah juga suatu batalyon "tamu" yang sedang liwat dari Timor menuju ke Jakarta. Batalyon itu dipimpin oleh Letnan Kolonel Otsuka.
Tokoh ketiga dari Nakamura Butai yang tidak begitu dikenal di Indonesia, cq Jawa Tengah, adalah komandan batalyon yang bermarkas di Purwokerto, yakni Mayor Yuda.
Yuda badannya kecil dan agak rapuh dibandingkan dengan Kido, dan wajahnya juga bukan wajah militer, meskipun dia lulusan Akademi Militer. Dia lebih pantas menjadi seorang dokter — ternyata istrinya dan putrinya adalah dokter.
Berlainan dengan Kido yang berbenturan dengan pihak Indonesia. Yuda mempunyai hubungan yang sangat baik dengan pihak Indonesia yang diwakili oleh Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo (Residen Banyumas pada waktu itu) dan Pak Dirman (Daidancho Peta di Kroya).
Berkat saling pengertian itu, semua senjatanya diserahkan kepada pihak Indonesia, dan pihak Indonesia menjaga keselamatan mereka sampai mereka diangkut pulang ke Jepang melalui Singapura.
Beberapa tokoh pembina Tentara Peta
Saya juga telah melakukan wawancara dengan dua orang tokoh yang dikenal sebagai pembina-pembina Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau Tentara Peta. Mereka itu adalah ex-Mayor Yoshio Maruzaki dan ex-Kapten Kiso Tsuchiya.
Bersama dengan ex-Kapten Motoshige Yanagawa (yang kini menetap di Indonesia), mereka itulah yang paling dikenal di kalangan ex-perwira Peta di Indonesia.
Mayor Maruzaki kini menjadi seorang pendeta bagi salah satu aliran agama Jepang. Dia nampak tegap dan sehat dan wajahnya simpatik.
Pakaiannya sangat rapi. Kapten Tsuchiya badannya tinggi untuk ukuran orang Jepang generasi tua, kurang lebih sama dengan tinggi badan saya. Dia kini bekerja pada pabrik mobil sebagai ahli teknik sesuai dengan pendidikannya.
Berlainan dengan Maruzaki dan Yanagawa, Tsuchiya adalah seorang perwira wamil yang baru kemudian menjadi perwira-jabatan.
Baik dalam pembicaraan maupun dalam cara berpakaian dia nampak sangat sederhana. Dengan rendah hati dia bangga bahwa Pak Harto menjadi anggota kompinya ketika sedang menjalani pendidikan perwira Peta di Bogor.
Ketiga perwira ini adalah lulusan sekolah intelijen yang terkenal dengan sebutan Nakano Gakko. (Kebetulan selama di Jepang baru-baru ini saya tinggal di daerah kecamatan Nakano, sedangkan sekolah intelijen itu letaknya di belakang kantor kecamatan, meskipun sekarang gedungnya sudah tidak ada).
Nakano Gakko ini adalah sekolah intelijen yang pertama kali didirikan di Jepang dan lulusannya mempunyai esprit de corps yang kuat. Kebanyakan anggotanya memainkan peranan yang besar selama Perang di kalangan orang-orang Asia Tenggara, karena itu mereka mempunyai banyak "kenalan" di kalangan orang-orang Asia Tenggara sesudah Perang.
Maruzaki sebelum pecahnya Perang, sudah terlebih dulu di-"tanam" di konsulat Jepang di Surabaya. Dan ketika tentara Jepang masuk ke Jawa, dia dilepaskan dari tahanan Belanda dan diangkat menjadi kepala Beppan (seksi khusus) daripada Dinas Intelijen Tentara Keenambelas yang ditugaskan melatih calon-calon perwira Peta dan kemudian menyusun batalyon-batalyon (daidan) Peta di Jawa dan Bali.
Beberapa Shidokan
Saya telah pula menemui beberapa shidokan (pengawas) dari Tentara Peta, sorang yang pernah bertugas di Jawa Barat, yakni Soichi Matsumura (Rengasdengklok), di Jawa Tengah yakni Hidaka (Wates) dan Bali yakni Mishima.
Matsumura kini bekerja sebagai pegawai perusahaan real estate, Hidaka adalah seorang bankir terkemuka, sedangkan Mishima kini menjadi guru besar psikologi di Universitas Waseda.
Matsumura menceritakan, bagaimana dia ditahan oleh anak buahnya sendiri dari kompi Peta di Rengasdengklok selama penculikan Sukarno-Hatta menjelang Proklamasi.
Hidaka menceritakan pergaulan antara orang Indonesia dengan mereka orang Jepang di daerah Wates, di mana Pak Harto dulu menjadi shodanco. Sedangkan Mishima menceritakan pembentukan Tentara Peta secara khusus di pulau Bali, sesudah Tentara Peta di Jawa selesai tersusun.
Karena dia sendiri di kemudian hari menjadi guru besar, Mishima berminat mendengar hal-ihwal dua dokter-daidan yang dulu bertugas di Bali, yang kini juga menjadi guru besar, yakni Profesor Djamaluddin dari Universitas Indonesia dan Profesor Koestedjo dari Universitas Padjadjaran.
Tokoh-tokoh lain
Tokoh lain yang saya wawancarai untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai sesuatu aspek zaman pendudukan Jepang di Indonesia adalah dua orang yang, kecuali menjadi pelaku, juga telah menulis buku mengenai pengalamannya. Mereka itu adalah Tuan Shigetada Nishijima dan ex-Letnan Kolonel Shizuo Miyamoto.
Nishijima selama Perang adalah pegawai sipil pada kantor penghubung Angkatan Laut di Jakarta yang dikepalai oleh Laksamana Muda Tadashi Maeda. Kelompok ini terkenal karena pada waktu Sukarno, Hatta dan Subarjo merumuskan naskah Proklamasi dan kemudian meminta persetujuan tokoh-tokoh Pergerakan Nasional dari generasi tua maupun muda, mereka diizinkan mempergunakan ruangan rumah laksamana tersebut untuk rapat, sehingga mereka aman dari penggerebekan oleh kempeitai.
Nishijima pada 1959 bersama dengan Koichi Kishi (yang dulu juga sepekerjaan dengannya) telah menuliskan satu-satunya buku oleh orang Jepang, dan di dalam bahasa Jepang mengenai sejarah pendudukan Jepang di Indonesia.
Kemudian Nishijima juga telah menerbitkan memoarnya yang juga meliputi pengalaman-pengalamannya selama Perang di Indonesia.
Miyamoto telah pula menerbitkan sebuah buku yang mengisahkan pengalamannya sebagai Perwira Operasi Tentara Keenambelas di Jawa, terutama saat-saat di sekitar kapitulasi. Amat menarik uraiannya mengenai sikap-sikap orang Jepang menghadapi proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia yang dilakukan melawan larangan dari pihak Jepang.
Selain mereka berdua, telah pula terbit, baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk artikel, pelbagai kenang-kenangan orang Jepang mengenai pengalaman mereka di Indonesia selama Perang.
Versinya pada umumnya agak jauh berlainan dengan versi umum di Indonesia. Kebanyakan di antara mereka pengalamannya terhenti pada tahun 1945 dan tidak menyadari bahwa dalam periode berikutnya, yakni antara 1945-1949 bangsa Indonesia telah mengalami revolusi dan perang Kemerdekaan yang dahsyat yang jauh lebih berkesan di dalam sanubari rakyat daripada pengalaman dalam zaman Jepang.
Sesungguhnya masuk akal juga jika mereka melebih-lebihkan pengaruh Jepang kepada Indonesia selama pendudukan 3 ½ tahun itu, itu adalah sesuai dengan subjektivitasnya. Kebanyakan mereka nampak menghadapi versi Indonesia mengenai pendudukan Jepang yang saya sampaikan, dengan sikap menerima sesuatu yang baru.
Namun untuk hubungan baik antara Indonesia dan Jepang, kiranya versi yang lebih lengkap dan mencakup mengenai pendudukan Jepang di Indonesia lebih baik daripada versi yang (untuk sebagian) ilusoris. Kesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh tersebut di atas dan tokoh-tokoh yang lain tidak dapat semuanya saya cantumkan di sini, telah saya pergunakan untuk melengkapi informasinya yang terhenti pada tahun 1945 itu.