Pengamat Sebut AS Hentikan Serangan ke Iran karena Benar-Benar Terdesak, Negara Teluk Kena Getahnya
Endra Kurniawan August 03, 2026 01:35 PM

TRIBUNNEWS.COM - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan besar-besaran terhadap Iran kali ini dinilai bukan sekadar strategi perang informasi atau taktik untuk mengecoh Teheran.

Dosen Hubungan Internasional BINUS University Tia Mariatul Kibtiah menilai AS benar-benar harus menahan serangannya setelah mendapat tekanan dari negara-negara Teluk yang khawatir menjadi pihak paling dirugikan apabila perang semakin meluas.

“Kali ini saya harus menyatakan bahwa ini bukan bagian daripada strategi Amerika Serikat. Ini adalah kemenangan diplomasi dari negara-negara Teluk,” kata Tia dalam dialog Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, negara-negara Teluk memiliki alasan kuat mendesak Trump menghentikan rencana serangan.

Sebab, jika AS dan Israel kembali menggempur Iran, Teheran hampir pasti akan melakukan pembalasan.

Namun, pembalasan Iran tidak diarahkan langsung ke wilayah Amerika Serikat.

Iran justru menyasar pangkalan militer AS dan berbagai kepentingan strategis AS yang tersebar di negara-negara Teluk.

"Kalau misalnya Amerika Serikat menyerang pihak Iran, itu langsung Iran seketika akan melakukan retaliation atau pembalasan, kan? Dan yang dibalas oleh Iran itu adalah bukan Amerika Serikat, tapi adalah militer basisnya Amerika Serikat yang ada di negara-negara Teluk. 

Situasi tersebut membuat negara-negara Teluk berada dalam posisi sulit.

Di satu sisi, sejumlah negara di kawasan merupakan mitra dekat AS.

Baca juga: Media Iran Ejek Keputusan Trump untuk Membatalkan Serangan: Retorika Presiden yang Gemar Berperang

Namun, di sisi lain, merekalah yang berpotensi terkena dampak langsung apabila perang AS dan Iran terus bereskalasi.

Bukan hanya pangkalan militer AS yang berisiko menjadi sasaran.

Menurut Tia, pusat-pusat energi di Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar juga dapat terancam apabila konflik semakin meluas.

Gangguan terhadap fasilitas tersebut pada akhirnya dapat memukul perekonomian negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada sektor energi.

Ancaman lain datang dari kemungkinan terganggunya jalur perdagangan minyak.

Tia mencontohkan dampak yang dapat terjadi apabila Iran meminta kelompok Houthi di Yaman menutup jalur Bab el-Mandeb.

"Bagaimana mereka bisa jualan kalau misalnya Iran betul-betul merealisasikan meminta Houthi yang di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandab misalnya. Itu saja satu. Maka mau ke arah mana lagi mereka akan menjual minyak Arab Saudi," ujarnya.

“Belum lagi nanti digempur pusat-pusat energi Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat, Qatar. Habis sudah."

Kekhawatiran terhadap dampak ekonomi inilah yang dinilai mendorong negara-negara Teluk aktif membujuk Trump agar tidak meneruskan serangan.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman disebut melakukan komunikasi langsung melalui telepon dengan Trump untuk mendorong deeskalasi konflik dan mengutamakan dialog.

Tia menilai AS kali ini tidak memiliki banyak pilihan selain mempertimbangkan permintaan tersebut.

Pasalnya, hubungan AS dengan negara-negara Teluk tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga investasi dan bisnis dalam jumlah besar.

Arab Saudi, Qatar, dan UEA telah menanamkan investasi besar di Amerika Serikat.

Mengabaikan kepentingan mereka berpotensi menimbulkan konsekuensi ekonomi bagi Washington.

"Kalau misalnya negara-negara Teluk meminta menegosiasi terhadap Amerika Serikat dan Amerika Serikat itu membiarkan atau ignore atau tidak memedulikan keinginan negara-negara Teluk, habis sudah selama ini berapa triliun yang diinvestasikan Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat di Amerika Serikat. Bisnis mereka itu banyak sekali," ujar Tia.

Karena itu, Tia menilai pembatalan serangan kali ini tidak bisa hanya dibaca sebagai taktik Trump untuk mengecoh Iran.

Menurutnya, Trump benar-benar harus mengalah terhadap desakan negara-negara Teluk dan pada saat bersamaan menekan Israel agar tidak memperluas serangan.

“Jadi mau enggak mau dia harus kali ini harus kalah dan harus menekan Israel. Dia harus ikut apa maunya negara Teluk,” katanya.

Baca juga: Israel Siaga Maksimum, Trump Dikabarkan Kian Dekat Putuskan Serangan Besar ke Iran

AS Semakin Tertekan 

Pada kesempatan yang sama, pengamat Timur Tengah Faisal Aseggaf juga menilai AS semakin tertekan dalam menghadapi Iran.

Selain risiko terhadap negara-negara Teluk, perang berkepanjangan disebut telah menguras sumber daya militer dan ekonomi AS.

Faisal menyoroti posisi Arab Saudi yang juga sedang menghadapi ketegangan dengan Houthi di Yaman serta milisi pro-Iran di Irak.

Jika AS kembali menyerang Iran dan Iran membalas dengan menggempur pangkalan Amerika di kawasan, Arab Saudi akan menghadapi tekanan keamanan yang semakin berat.

"Saya kira kalau misalkan Trump terus menyerang Iran dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer termasuk di Arab Saudi, maka konsentrasi Arab Saudi untuk melawan Al Houthi di Yaman maupun milisi di Irak akan terpecah atau tidak bisa apa terpusat untuk apa melawan kedua milisi itu tersebut” ujar Faisal.

Ia juga menilai Trump mulai menghadapi kebuntuan setelah ancaman dan serangan terhadap Iran terus mendapat pembalasan.

Menurut Faisal, AS telah menghabiskan sumber daya militer dan ekonomi yang tidak sedikit, sementara tekanan politik dari dalam negeri juga semakin besar.

“Trump juga sudah kebingungan, Trump juga sudah frustrasi karena ancaman ataupun serangan selalu dibalas dengan Iran,” katanya.

Meski serangan kali ini dibatalkan, penghentian konflik belum tentu bersifat permanen.

Tia memperkirakan AS dan Iran dapat kembali ke meja perundingan, tetapi potensi pecahnya serangan baru tetap ada apabila kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.

Namun untuk saat ini, menurutnya, keputusan Trump menahan serangan menunjukkan besarnya risiko yang harus ditanggung bukan hanya AS dan Iran, tetapi juga negara-negara Teluk dan perekonomian kawasan jika perang terus berlanjut.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.