Nguter Paling Rawan! 11 Kebakaran Lahan Terjadi Selama Musim Kemarau dari Juni Hingga Agustus 2026
Vincentius Jyestha Candraditya August 03, 2026 05:15 PM


 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Kecamatan Nguter menjadi wilayah dengan jumlah kebakaran lahan tertinggi di Kabupaten Sukoharjo sepanjang musim kemarau tahun 2026.

Berdasarkan data Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sukoharjo, sejak 1 Juni hingga 2 Agustus tercatat 11 kejadian kebakaran lahan terjadi di wilayah tersebut.

Tingginya angka kebakaran di Nguter menjadi bagian dari meningkatnya kasus kebakaran lahan di Sukoharjo selama musim kemarau.

Secara keseluruhan, tercatat 61 kejadian kebakaran lahan dan semak (land clearing/open space) dalam periode 1 Juni hingga 2 Agustus 2026.

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN - Ilustrasi kebakaran lahan di Kabupaten Sukoharjo saat musim kemarau, beberapa waktu lalu. Musim kemarau yang berlangsung sejak awal Juni 2026 memicu lonjakan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Sukoharjo. Dalam kurun waktu 1 Juni hingga 2 Agustus 2026, Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sukoharjo mencatat sebanyak 61 kejadian kebakaran lahan dan semak, sementara potensi kebakaran diperkirakan masih tinggi seiring cuaca panas yang terus berlangsung.
KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN - Ilustrasi kebakaran lahan di Kabupaten Sukoharjo saat musim kemarau, beberapa waktu lalu. Musim kemarau yang berlangsung sejak awal Juni 2026 memicu lonjakan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Sukoharjo. Dalam kurun waktu 1 Juni hingga 2 Agustus 2026, Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sukoharjo mencatat sebanyak 61 kejadian kebakaran lahan dan semak, sementara potensi kebakaran diperkirakan masih tinggi seiring cuaca panas yang terus berlangsung. (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Sukoharjo, Margono, mengatakan kondisi cuaca yang panas dan minim curah hujan membuat lahan kering, semak belukar, serta ilalang menjadi sangat mudah terbakar.

"Berdasarkan rekapitulasi kami, sejak 1 Juni sampai 2 Agustus terdapat total 61 laporan kebakaran lahan. Kami terus mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati karena musim kemarau masih berlangsung dan potensi kebakaran masih cukup tinggi," ujarnya, Senin (3/8/2026).

Data menunjukkan lonjakan kejadian paling tinggi terjadi selama Juli. Dalam sebulan, petugas menangani 35 kebakaran lahan dan 11 kebakaran barongan atau tumpukan jerami maupun limbah pertanian, sehingga menjadi periode tersibuk bagi personel pemadam kebakaran.

Sementara itu, pada Juni tercatat tujuh kebakaran lahan tanpa laporan kebakaran barongan. Memasuki awal Agustus, hingga 2 Agustus, sudah terjadi tujuh kebakaran lahan dan satu kebakaran barongan.

Sebagian Besar Dipicu Vegetasi Mengering

Menurut Margono, sebagian besar kebakaran dipicu kondisi vegetasi yang mengering sehingga api mudah merambat ketika muncul sumber panas.

Baca juga: Kronologi Kebakaran di Ngawen Boyolali, Berawal dari Teriakan Anak-anak yang Sedang Bermain

Selain faktor cuaca, kebiasaan membakar sampah, sisa tanaman, maupun membuang puntung rokok sembarangan juga diduga menjadi penyebab sejumlah kejadian.

Setelah Nguter yang mencatat 11 kejadian, Kecamatan Grogol berada di posisi kedua dengan 10 kebakaran lahan.

Selanjutnya disusul Kartasura delapan kejadian, Kecamatan Sukoharjo tujuh kejadian, Bendosari lima kejadian, Tawangsari lima kejadian, Baki lima kejadian, Weru tiga kejadian, serta masing-masing dua kejadian di Bulu, Mojolaban, dan Polokarto.

Adapun Kecamatan Gatak menjadi wilayah dengan jumlah kebakaran paling sedikit, yakni satu kejadian.

Minta Tak Bersihkan Lahan dengan Dibakar

Melihat tren tersebut, Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Sukoharjo meningkatkan kesiapsiagaan personel dan armada untuk mengantisipasi potensi kebakaran hingga puncak musim kemarau. Patroli, sosialisasi, dan edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan.

Margono mengimbau masyarakat, khususnya petani dan pemilik lahan kosong, agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar. Menurutnya, api kecil dapat dengan cepat membesar akibat hembusan angin dan kondisi rumput yang kering sehingga berpotensi merambat ke permukiman maupun fasilitas umum.

Baca juga: Ngeri! Kemarau Belum Usai, Sukoharjo Dilanda 61 Kebakaran Hutan dan Lahan Cuma dalam Dua Bulan

"Kami berharap masyarakat ikut berperan dalam pencegahan. Jangan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar. Jika melihat titik api, segera laporkan kepada petugas agar dapat segera ditangani sebelum meluas," katanya.

Dengan musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung, masyarakat diminta terus meningkatkan kewaspadaan. Upaya pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kebakaran lahan yang sebagian besar dipicu oleh kelalaian manusia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.