Komisi II DPRD Lampung Minta PPL Aktif Dampingi Petani Hadapi Puncak Kemarau
Reny Fitriani August 03, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Mikdar Ilyas, meminta penyuluh pertanian lapangan (PPL) lebih aktif mendampingi petani menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.

Baca Juga: Pemprov Lampung Optimis Produksi Padi Tembus 3,4 Juta Ton Meski Kemarau, Ini Strateginya

Menurut anggota Fraksi Gerindra ini, pendampingan PPL menjadi kunci agar petani tidak mengalami gagal panen akibat salah memilih komoditas pada musim kemarau.

"Yang perlu ke depan, PPL harus aktif menyampaikan kepada kelompok tani dan petani tanaman apa yang cocok ditanam pada musim kemarau. Jangan sampai petani menanam komoditas yang membutuhkan banyak air di lahan tadah hujan, sehingga akhirnya gagal panen," kata Mikdar Ilyas saat diwawancarai Tribun Lampung, Senin (3/8/2026). 

Ia mengatakan, saat turun ke daerah pemilihan, banyak petani mengeluhkan gagal panen karena kekurangan pasokan air.

Padahal, kata dia, sebagian besar petani tetap berupaya mengolah lahannya agar tidak terbengkalai, meski dihadapkan pada kondisi cuaca yang tidak mendukung.

"Kalau musim kemarau seperti sekarang, menanam padi di lahan tadah hujan tanpa sumur bor tentu berisiko tinggi gagal panen. Begitu juga jagung, spekulasinya cukup tinggi. Karena itu harus ada arahan tanaman apa yang paling sesuai," ujarnya.

Menurut Mikdar, PPL memiliki pemahaman mengenai karakteristik wilayah dan kondisi iklim sehingga seharusnya mampu memberikan rekomendasi kepada petani mengenai jenis tanaman yang sesuai serta langkah antisipasi menghadapi kekeringan.

Ia juga meminta PPL aktif menginventarisasi kebutuhan infrastruktur pertanian di wilayah binaannya, seperti embung, sumur bor, hingga alat dan mesin pertanian.

"Kalau ada wilayah yang potensial dibangun embung atau membutuhkan sumur bor, itu harus segera disampaikan kepada dinas terkait, anggota dewan maupun kementerian. Begitu juga kalau petani membutuhkan traktor atau alat pertanian lainnya," katanya.

Menurutnya, usulan tersebut penting agar pemerintah pusat dapat memberikan dukungan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

"Petugas di lapangan harus benar-benar memperhatikan wilayahnya. Jangan sampai petani sudah mengeluarkan modal, tetapi bukan untung yang didapat, modal pun tidak kembali," tegasnya.

Mikdar mengungkapkan, persoalan dampak kemarau terhadap sektor pertanian juga telah dibahas Komisi II DPRD Lampung bersama Dinas Pertanian dalam rapat dengar pendapat (RDP).

Berdasarkan penjelasan Kepala Dinas Pertanian, kata dia, musim kemarau tahun ini masih diselingi hujan sehingga di sejumlah daerah petani masih memungkinkan menanam komoditas yang membutuhkan air.

Namun demikian, kondisi tersebut tidak terjadi di seluruh kabupaten di Lampung.

"Karena itu kami menyarankan daerah-daerah yang banyak memiliki lahan padi dan jagung, khususnya lahan tadah hujan, agar secara bertahap dibangun embung atau disediakan sumur bor supaya saat kemarau petani tetap memiliki sumber air," ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan sarana pendukung pertanian tersebut memang membutuhkan anggaran sehingga perlu dilakukan secara bertahap dengan dukungan pemerintah pusat.

Menurut Mikdar, Lampung memiliki peran strategis sebagai daerah penghasil tiga komoditas utama nasional, yakni padi, jagung, dan singkong.

Karena itu, pemerintah pusat diharapkan memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan sektor pertanian di Lampung.

"Lampung menjadi salah satu penopang kebutuhan nasional untuk padi, jagung, dan singkong. Karena itu pemerintah pusat tidak boleh tinggal diam. Tetapi kebutuhan daerah juga harus aktif disampaikan oleh PPL, dinas, kepala daerah maupun DPRD," katanya.

Mikdar juga mengapresiasi berbagai kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung yang dinilainya telah memberikan dampak positif bagi petani.

"Sekarang petani mulai bergembira. Harga komoditas membaik, produksi meningkat, didukung bantuan pupuk hayati cair serta peralatan pertanian seperti dryer atau mesin pengering. Tinggal bagaimana kita memperkuat kesiapan menghadapi musim kemarau," pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.