Menguak 3 Peninggalan Bersejarah di Malang Raya: Situs Pemandian Kuno hingga SD Tertua Abad ke-19
Sarah Elnyora Rumaropen August 03, 2026 06:00 PM

Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Luluul Isnainiyah/Dya Ayu/Benni Indo

SURYAMALANG.COM, MALANG RAYA - Kawasan Malang Raya menyimpan jejak peradaban panjang yang membentang dari era kerajaan nusantara hingga masa kolonial.

Tiga cagar budaya unik, mulai dari Situs Patirtaan Ngawonggo di Tajinan, bangunan peninggalan era Jepang di Desa Tlekung, hingga SDN Kidul Dalem 1 di Kota Malang, menjadi saksi bisu sejarah wilayah ini.

Keberadaan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut kini tidak hanya menjadi warisan edukasi, tetapi juga dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang memikat.

Berikut ulasan selengkapnya:

1. Situs Patirtaan Ngawonggo

MATARAM KUNO - Situs Patirtaan Ngawonggo di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang merupakan peninggalan sejarah Mataram Kuno. Di tangan pemuda desa, situs yang awalnya tak terawat kini menjadi wisata.
MATARAM KUNO - Situs Patirtaan Ngawonggo di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang merupakan peninggalan sejarah Mataram Kuno. Di tangan pemuda desa, situs yang awalnya tak terawat kini menjadi wisata. (SURYAMALANG.COM/Luluul Isnainiyah)

Situs Patirtaan Ngawonggo yang terletak di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, merupakan peninggalan sejarah dari era Kerajaan Medang atau Mataram Kuno.

Situs berupa pemandian bersejarah ini awalnya berada dalam kondisi tidak terawat dan dipenuhi semak belukar.

Lokasinya berada di tengah pedesaan, tepat di pekarangan rumah warga dan di tebing sungai, sehingga pengunjung harus berjalan turun untuk mencapainya.

Peninggalan ini sebenarnya sudah diketahui oleh warga setempat secara turun-temurun. Namun, karena kurangnya pengetahuan mengenai tata cara perawatan dan pengelolaan cagar budaya, lokasi tersebut sempat dibiarkan dan hanya dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

Baca juga: Cerita Sopir Selamatkan 30 Penumpang saat Bus Gunung Harta Tiba-tiba Terbakar di Tol Nganjuk

Perubahan terjadi pada tahun 2017 ketika seorang warga lokal bernama Rahmad Yasin bersama rekannya berinisiatif membersihkan area situs dan mengunggah kegiatannya ke media sosial Facebook.

Unggahan tersebut mendadak viral hingga menarik perhatian publik, akademisi, serta instansi terkait.

"Langsung di situ viral kemudian mendapatkan tanggapan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, kemudian para ahli sejarah atau arkeolog, pecinta sejarah, hingga pecinta cagar budaya untuk berbondong-bondong datang ke sini," kata Yasin kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (2/8/2026).

Penilaian akademisi dari Universitas Negeri Malang (UM) menguatkan patirtaan ini merupakan peninggalan era Mataram Kuno.

Satu bulan pascaviral, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur menindaklanjutinya dengan melakukan proses ekskavasi hingga kawasan tersebut menjadi lebih tertata.

Kini, Situs Patirtaan Ngawonggo berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi yang dikunjungi 500 hingga 1.000 wisatawan per bulan, baik lokal maupun mancanegara.

Selain menjadi tempat wisata, warga memanfaatkan situs ini untuk ritual selamatan pergantian Tahun 1 Suro, penyucian diri, hingga meditasi.

2. Pabrik Era Kolonial Belanda

PENINGGALAN KOLONIAL - Penampkan stoom atau cerobong asap kuno yang ada di Dusun Krajan Kidul, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur. Cerobong ini dulunya merupakan bagian dari fasilitas pengolahan atau pabrik kulit yang menggunakan tenaga uap.
PENINGGALAN KOLONIAL - Penampkan stoom atau cerobong asap kuno yang ada di Dusun Krajan Kidul, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur. Cerobong ini dulunya merupakan bagian dari fasilitas pengolahan atau pabrik kulit yang menggunakan tenaga uap. (SURYAMALANG.COM/Dya Ayu)

Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menjadi kawasan lain di Malang Raya yang kaya akan peninggalan era kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.

Salah satu peninggalan ikonik di desa ini adalah stoom atau cerobong asap kuno yang berdiri di Dusun Krajan Kidul, tepatnya di sebelah utara Makam Tlekung.

Kepala Desa Tlekung, Mardi, menjelaskan cerobong asap tersebut dulunya merupakan bagian dari fasilitas pengolahan atau pabrik kulit bertenaga uap yang diperkirakan beroperasi sejak tahun 1942 pada masa Jepang, dengan akar sejarah yang terhubung ke era Belanda.

“Jadi untuk setum (stoom) ini menjadi salah satu benda bersejarah di desa kami. Ini dulunya sejak zaman Belanda, Jepang, hingga sekarang masih ada. Lokasinya di utara Makam Tlekung,” kata Mardi kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (2/8/2026).

Berdasarkan pantauan di lokasi, cerobong asap kuno tersebut kini berdiri di tengah lahan pertanian warga dan dikelilingi kebun jeruk.

Pada bagian bawah cerobong, terdapat struktur bangunan yang sebagian telah tertimbun tanah.

Selain untuk pengolahan kulit, fasilitas ini dulunya juga difungsikan sebagai tempat pembakaran kaolin, bahan baku pembuatan keramik dan pecah belah.

“Ada salah satu cerita warga yang pernah memanjat sampai atas cerobong pernah menemukan tulisan Anno atau tahun pendirian dan juga ditemukan sejumlah peluru berukuran besar yang diduga berasal dari masa konflik pada era penjajahan,” ujarnya.

Baca juga: Diduga Kena Getaran Tambang, Rumah Lansia di Ponorogo Roboh Mendadak saat Pemilik Berada di Dalam

Tak jauh dari lokasi cerobong asap, terdapat jaringan Gua Jepang peninggalan Perang Dunia II yang berjarak sekitar 700 meter.

Gua ini memiliki lorong-lorong bercabang dengan sedikitnya empat mulut gua yang teridentifikasi, sementara beberapa mulut gua lainnya diperkirakan masih tertimbun tanah.

“Yang kami ketahui ada empat gua, mungkin masih ada yang lain tetapi sudah tertutup tanah,” jelasnya.

Kondisi lorong sebelah kanan gua kini menjadi habitat kelelawar, sedangkan jalur kiri cenderung lembap karena memiliki sumber mata air alami.

Demi alasan keselamatan pengunjung, sebagian besar akses masuk ke gua saat ini ditutup akibat terbatasnya sirkulasi udara dan minimnya pencahayaan.

Selain cerobong asap dan gua, Desa Tlekung juga memiliki Petirtaan Kaygun di Jalan Sumber Urip No 21.

Situs pemandian purbakala peninggalan kerajaan abad pertengahan ini sempat tertimbun material vulkanik sebelum akhirnya direnovasi pada tahun 2000-an dan diresmikan oleh Wali Kota Batu kala itu, Dewanti Rumpoko, pada Oktober 2020. 

Meskipun saat ini dikelola oleh BUMDes, pemandian tersebut tidak seramai dulu. Pemerintah Desa Tlekung kini tengah membuka peluang investasi untuk mengembangkan potensi cagar budaya di kawasannya.

“Rencana tersebut ada (dibuat jadi tempat wisata) tapi kami menunggu investor atau donatur untuk kerja sama dengan Pemdes,” tutur Mardi sembari mengonfirmasi bahwa saat ini belum ada investor yang resmi menjalin kesepakatan.

3. SD Tertua Abad ke-19 

KOTA MALANG - Sejumlah pelajar sedang bermain di SDN Kidul Dalem 1 Kota Malang, Kamis (30/7/2026). SDN Kidul Dalem 1 merupakan gabungan dari SD Mojopahit 1 dan SD Mojopahit 2.
KOTA MALANG - Sejumlah pelajar sedang bermain di SDN Kidul Dalem 1 Kota Malang, Kamis (30/7/2026). SDN Kidul Dalem 1 merupakan gabungan dari SD Mojopahit 1 dan SD Mojopahit 2. (SURYAMALANG.COM)

Di tengah modernisasi Kota Malang, SDN Kidul Dalem 1 tetap berdiri kokoh sebagai salah satu simbol perjalanan sejarah pendidikan yang telah melampaui usia satu abad.

ekolah ini diperkirakan telah ada sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20.

Salah seorang guru yang mengabdi sejak tahun 2004, Arif Wahyudi, menjadi salah satu sosok yang aktif menggali dan merawat sejarah sekolah tersebut.

Informasi mengenai usia sekolah pernah ia temukan dalam dokumen lama berupa agenda rapat guru dan komite saat pengajuan rehabilitasi bangunan.

"Dokumennya berupa buku agenda rapat. Di situ ada keterangan bahwa tahun berdirinya 1920," ujarnya, Minggu (2/8/2026).

Namun, dokumen sejarah tersebut kini hilang setelah adanya perpindahan ruang kerja kantor.

Arif menceritakan pada awal berdirinya, sekolah ini terbagi menjadi dua lembaga terpisah, yaitu SD Mojopahit 1 dan SD Mojopahit 2, sebelum akhirnya digabung menjadi satu nama hingga sekarang.

"Dulu sebenarnya ada två sekolah, SD Mojopahit 1 dan SD Mojopahit 2. Sempat mengalami beberapa kali perubahan nama, lalu digabung menjadi satu," ujarnya.

Baca juga: 3 Rekomendasi Spot Ngopi Senja Murah di Malang-Batu Mulai Rp5 Ribu, View Gunung Bikin Betah!

Secara fisik, sebagian besar bangunan SDN Kidul Dalem 1 telah mengalami pembaruan. Namun, dua struktur utama bangunan lama masih dipertahankan hingga kini.

Bangunan pertama difungsikan sebagai ruang kepala sekolah, ruang guru, dan ruang kelas V, sedangkan bangunan kedua digunakan sebagai musala.

"Yang paling tua itu bangunan yang sekarang ditempati ruang kepala sekolah, ruang guru sampai kelas lima. Kemudian gedung yang sekarang dipakai musala juga termasuk bangunan lama," katanya.

Sementara itu, gedung di sisi timur merupakan bangunan tambahan yang dulunya berupa lapangan terbuka di tepi sungai tempat siswa bermain.

Arif menambahkan, ciri khas utama arsitektur kuno bangunan sekolah ini terletak pada penggunaan struktur kayu jati asli yang menopang langit-langit, jendela, hingga pintu.

"Ciri khas bangunan lama itu penggunaan material kayu jati. Sokongan bangunannya dari kayu jati, pintu-pintu lama, jendela, sampai rangka di belakang juga masih asli," tegasnya.

Selain bangunan, aset bersejarah paling berharga yang berhasil diselamatkan adalah buku induk siswa sejak era SD Mojopahit 1 dan SD Mojopahit 2 masih berdiri terpisah.

"Yang paling saya tekankan ke teman-teman adalah menjaga aset sekolah. Salah satu aset yang paling berharga adalah buku induk. Alhamdulillah, buku induk sejak masih dua sekolah dulu masih ada," katanya.

Sebagai guru senior, Arif berharap sekolah dapat menggelar peringatan khusus atas perjalanan sejarahnya yang sudah melebihi seabad, meski gagasan tersebut saat ini masih berupa rencana yang belum terealisasi secara resmi.

"Masih sebatas angan-angan. Dulu sempat dibahas bersama tokoh masyarakat untuk membuat peringatan tahunan, tetapi belum terlaksana," ucapnya.

"Di satu sisi ada rasa bangga. Kita bisa mengabdi dan melihat sejarah yang begitu panjang selama satu abad. Yang terpertang sekarang adalah bagaimana kita menjaga aset-aset sejarah yang masih dimiliki sekolah ini," pungkasnya.

Sementara itu, referensi sejarah lain dari media anjani.id, mencatatkan riwayat yang lebih tua.

Sumber tersebut menyebutkan SDN Kidul Dalem 1 didirikan pada 1 Desember 1851 di bawah prakarsa Residen Pasuruan, Dirk Antonius Varkevisser, saat Kota Malang masih bagian dari Karesidenan Pasuruan.

Pendirian sekolah pada pertengahan abad ke-19 tersebut ditujukan untuk memfasilitasi pendidikan bagi anak-anak pejabat lokal, yang meletakkannya sebagai lembaga pendidikan tertua di Kota Malang bahkan disinyalir salah satu yang tertua di Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.