TRIBUNNEWS.COM - Pandangan menarik disampaikan oleh Achsanul Qosasi yang tak lain merupakan sosok Presiden klub Madura United ketika menyoroti laga semifinal Piala Presiden 2026.
Achsanul Qosasi berharap Piala Presiden 2026 seharusnya menjadi momentum perbaikan sepak bola di tanah air, khususnya antar suporter.
Pria yang pernah menjadi anggota DPR periode 2009-2014 itu juga meminta pihak penyelenggara turnamen untuk tidak bersikap overthinking.
Seperti diketahui, turnamen Piala Presiden 2026 yang diikuti 8 tim, akan segera memasuki babak baru yakni semifinal.
Dari total 8 tim yang diundang, sudah ada empat klub terbaik yang dipastikan bakal tampil di fase empat besar turnamen.
Persib Bandung, Arema FC, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta bakal menjadi aktor utama di semifinal Piala Presiden 2026.
Baca juga: Venue Semifinal & Final Piala Presiden 2026 Terjawab, 4 Besar Resmi Tanpa Penonton
Persib yang berstatus sebagai juara Grup A, dikonfirmasi akan berhadapan dengan Persija selaku runner-up Grup B yang menjadi rival klasiknya.
Sementara, Arema FC selaku runner-up Grup A, bertemu Persebaya sebagai juara Grup B, dalam tajuk laga Derby Jatim.
Laga semifinal yang mempertemukan Persib vs Persija dan Arema FC vs Persebaya dijadwalkan akan berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Selasa (4/8/2026) masing-masing jam 15.00 WIB dan 19.30 WIB.
Siapapun tim yang menjadi pemenang dari dua laga tersebut, berhak tampil di final Piala Presiden yang digelar Kamis (6/8/2026).
Fakta bahwa laga semifinal Piala Presiden tahun ini yang mempertemukan duel klasik antara Persib vs Persija dan Arema FC vs Persebaya pun menyisakan berbagai sorotan.
Salah satunya soal isu keamanan.
Ya, tak bisa disangkal jika isu keamanan kerapkali lebih banyak mendominasi pembicaraan di luar lapangan, ketika tim-tim tersebut bertemu.
Baik Persib dan Persija terhitung sudah beberapa kali harus bertanding dengan aturan SOP yang lebih ketat dibandingkan pertandingan lain.
Hal yang tak jauh berbeda juga mewarnai pertempuran Derbi Jatim antara Arema FC vs Persebaya di kompetisi apapun, apalagi sejak tragedi Kanjuruhan yang melibat dua tim tersebut.
Rivalitas kedua tim yang kerapkali memicu tensi panas sering dijadikan dasar pihak pemangku kepentingan mengeluarkan himbauan khusus.
Berbagai himbauan untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan pun seringkali muncul ketika tim-tim tersebut bentrok.
Mulai himbauan suporter tim tamu yang dilarang datang, hingga pengalihan venue pertandingan dengan dalih menjaga kondusifitas kemanan.
Terbaru, pihak penyelenggara Piala Presiden 2026 baru saja mengonfirmasi venue laga semifinal dan final Piala Presiden 2026 yang dipindah ke Stadion Kapten I Wayan Dipta, setelah bertemunya tim-tim tersebut di babak semifinal.
Bahkan, khusus laga semifinal, pihak penyelenggara tidak menjual tiket apapun kepada penonton untuk menyaksikan laga secara langsung di lapangan.
Berbagai sorotan tajam itulah yang akhirnya membuat Achsanul Qosasi angkat bicara.
Pemilik Madura United itu mengingatkan bahwa kehadiran suporter merupakan nyawa utama sebuah turnamen atau kompetisi.
Khususnya lagi di semifinal Piala Presiden 2026, Achsanul Qosasi tak segan menyebut bahwa empat tim yang akan berlaga di fase ini merupakan tim yang punya basis suporter yang sangat kuat.
Alhasil, Achsanul Qosasi merasa tidak elok jika pihak penyelenggara turnamen mendadak mengeluarkan berbagai kebijakan yang tak terduga, dengan alasan keamanan saja.
"Turnamen itu rame karena kehadiran suporter, mereka adalah tim terbaik dengan suporter terbesar yang terus berbenah," curhat Achsanul Qosasi lewat instagram pribadi.
"Musim lalu, mereka bermain di kandang masing-masing, seru, aman, dan nyaman,"
"Keberhasilan semacam itu jangan dihentikan, justri harus dilanjutkan agar menjadi suatu kebiasaan,"
Lebih lanjut, Achsanul Qosasi mendukung penuh agar pemangku kepentingan sepak bola Indonesia tidak terlalu overthinking tentang hal negatif yang akan terjadi, jika dua tim klasik saling bertemu di sebuah lapangan.
"Ujian jangan dihindari, hadapi saja, jika tak lulus, merekalah yang menanggung resikonya," tegas Achsanul Qosasi.
"Tapi kalau ujian kelasnya jauh, ujiannya tidak sempurna, kedamaian yang sudah ada bakal kembali menjadi sebuah kekhawatiran,"
"Klub dan suporter adalah koin mata uang, bolak-balik tetap satu, salam damai sepak bola Indonesia," tambahnya.
Curhatan yang disampaikan pemilik Madura United itu barangkali terasa wajar.
Karena sepak bola sejatinya harus bisa menjadi alat pemersatu bangsa, yang membuat semua komponen merasa aman, nyaman dan menikmati setiap pertandingannya.
(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)