TRIBUNJATIM.COM - Bukan hanya tempat pelayanan administrasi warga, kantor Desa Kemutug Kidul, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kini menjadi bangunan yang mencuri perhatian.
Bentuknya yang menyerupai Istana Negara membuat kantor desa tersebut tampak berbeda dibandingkan bangunan pemerintahan desa pada umumnya.
Di balik desain megah itu, terdapat cerita tentang keterlibatan masyarakat yang ikut membangun kantor desa melalui semangat gotong royong.
Warga turut membantu proses awal pembangunan, mulai dari penyiapan hingga perataan lahan bekas lapangan desa yang menjadi lokasi bangunan baru tersebut.
Baca juga: Kantor Desa Beji Bakal Disulap Jadi Mall UMKM & Galeri Batik, Urusan Administrasi Dipindah
Kepala Desa Kemutug Kidul, Kardi Daryanto, mengatakan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam pembangunan kantor desa baru.
"Swadaya masyarakat berbentuk gotong royong dalam membangunnya," kata Kardi, Senin (3/8/2026).
Kardi menjelaskan, pembangunan kantor desa baru dilakukan karena gedung sebelumnya yang berada di pinggir jalan sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat.
Salah satu kendala utama adalah keterbatasan area parkir, terutama saat pemerintah desa menggelar kegiatan yang dihadiri banyak warga.
"Awalnya kantor Desa Kemutug Kidul berada di pinggir jalan. Tidak memadai, terutama untuk parkir kalau desa sedang ada kegiatan."
"Sehingga kami bersama pemerintah desa dan BPD mengusulkan pembangunan balai desa atau kantor desa baru yang lokasinya di bekas lapangan," ujarnya.
Pembangunan kantor Desa Kemutug Kidul tidak langsung selesai dalam satu tahap.
Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap selama tiga tahun dengan dukungan bantuan keuangan dari Bupati Banyumas.
Pada 2022, desa menerima bantuan sebesar Rp200 juta.
Kemudian pada 2023 kembali mendapatkan bantuan Rp300 juta, dan pada 2025 memperoleh tambahan Rp150 juta.
Total bantuan yang digunakan untuk pembangunan kantor desa tersebut mencapai Rp650 juta.
"Jadi anggarannya tiga kali. Totalnya Rp650 juta," jelasnya.
Baca juga: Kantor Desa di Probolinggo Disegel 9 Ahli Waris, Diduga Gunakan Tanah Sengketa
Kardi memastikan dana pembangunan tersebut berasal dari bantuan keuangan Bupati Banyumas, bukan dari Dana Desa.
Karena itu, pembangunan kantor desa tersebut tidak terdampak kebijakan pengurangan Dana Desa.
"Kebetulan tidak terdampak. Itu bantuan Bupati langsung, tidak terkait dengan Dana Desa ataupun anggaran yang lainnya."
"Kami mengajukan bantuan keuangan desa kepada Pak Bupati sebanyak tiga kali," katanya.
Selain lokasi baru, hal yang membuat kantor Desa Kemutug Kidul berbeda adalah konsep arsitekturnya.
Bangunan tersebut sengaja dirancang dengan tampilan yang mengingatkan pada Istana Merdeka atau Istana Presiden Republik Indonesia.
Kardi menyebut konsep tersebut dipilih agar kantor desa memiliki identitas tersendiri dan menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap fasilitas pemerintahan di wilayah mereka.
"Sekilas pembangunan kantor Desa Kemutug Kidul mengapa kami pilih seperti Istana Merdeka atau Istana Presiden Republik Indonesia, karena kami ingin bangunan yang berbeda."
"Sehingga ada kesan bagus, masyarakat juga merasa bangga melihat kantornya," ujarnya.
Baca juga: 1 Tahun Kantor Desa Tak Terawat hingga Jebol, Tidak Ada Pegawai, Kades sempat Dipanggil Dinas
Kantor desa tersebut dibangun dengan ukuran 13 x 18 meter.
Dalam proses pengerjaan, struktur bangunan turut mendapatkan pendampingan dari pendamping desa Kecamatan Baturraden, Udrianto.
Meski menghabiskan anggaran Rp650 juta, biaya tersebut belum menghitung kontribusi masyarakat melalui tenaga gotong royong.
Menurut Kardi, warga telah ikut berperan sejak tahap awal pembangunan, terutama ketika menyiapkan lahan bekas lapangan desa yang akan digunakan sebagai lokasi kantor baru.
"Belum dihitung tenaga swadaya masyarakat. Mereka bergotong royong untuk perataan lahan pada awal pembangunan," pungkasnya.