TRIBUNWOW.COM – Misteri kematian satpam Sumarna yang ditemukan tewas dalam kondisi terborgol di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, masih terus diusut polisi.
Di tengah penyelidikan, muncul fakta baru bahwa korban diduga sempat membohongi istrinya beberapa jam sebelum ditemukan meninggal dunia.
Temuan itu diungkap saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berbincang dengan Komandan Regu (Danru) tempat Sumarna bekerja.
Sumarna Datang Terlambat ke Pos
Menurut Danru, pada hari kejadian Sumarna seharusnya mulai bertugas pukul 19.00 WIB.
Namun, ia baru melapor telah tiba di pos sekitar pukul 19.28 WIB melalui pesan WhatsApp disertai foto serah terima tugas.
"Laporannya kirim ke WA pribadi, 'Danru saya sudah di pos, izin telat'. Ngirim foto 19.28 serah terima sama yang bagian pagi," ujar Danru.
Kirim Foto Lama kepada Istri
Dedi Mulyadi kemudian menyinggung kebiasaan sebagian orang yang menyimpan foto untuk dikirim ulang sebagai bukti keberadaan kepada pasangan.
Baca juga: Istri Dibohongi! Danru Ungkap Satpam Sumarna yang Tewas Sempat Kirim Foto Stok 2025 untuk Laporan
Danru membenarkan bahwa hal serupa diduga dilakukan Sumarna.
Istri korban, Siti Maryam, mengaku sempat menelepon suaminya sekitar pukul 20.00 WIB sebanyak tiga kali, namun panggilannya ditolak.
Tak lama kemudian, Sumarna membalas pesan dengan mengirim foto bersama Danru.
"Katanya, 'lagi ada Danru, enggak enak ditinggalin'," kata Siti Maryam.
Padahal, Danru memastikan dirinya sama sekali tidak berada di pos pada malam itu.
"Padahal tidak bersama Danru," ujar Dedi Mulyadi.
Setelah diperiksa, foto tersebut ternyata merupakan foto lama yang diambil pada tahun 2025.
Diduga Tinggalkan Pos Sekitar Pukul 21.00 WIB
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, Sumarna diperkirakan sudah meninggalkan pos sekitar pukul 21.00 WIB.
Ketika anggota Linmas datang sekitar pukul 22.30 WIB, korban sudah tidak berada di lokasi.
Baca juga: Teriakan Satpam Sumarna Terdengar Warga tapi Takut Keluar Rumah
Sementara itu, Danru mengaku masih menerima laporan terakhir dari Sumarna melalui WhatsApp sekitar pukul 00.56 WIB yang juga disertai foto.
Namun, ia tidak mengetahui apakah foto tersebut merupakan dokumentasi terbaru atau foto lama.
Dedi Mulyadi Curiga Pelaku Orang Dekat
Dedi Mulyadi menduga foto terakhir yang dikirim kepada Danru juga bisa saja merupakan foto stok.
Menurutnya, penyidik perlu menelusuri pergerakan terakhir korban melalui data digital untuk mengetahui siapa saja yang ditemui sebelum meninggal.
"Tinggal dicek almarhum bertemu siapa, di mana, kan bisa dicek lewat data internet," kata Dedi.
Ia juga menduga pelaku kemungkinan merupakan orang yang dikenal korban.
"Kalau seperti itu menurut saya bisa jadi hanya di seputaran itu. Pelakunya bisa jadi orang yang dikenal," ujarnya.
Polisi: Bukan Motif Perampokan
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan menegaskan penyidik tidak menemukan indikasi motif perampokan.
Barang-barang milik korban, termasuk telepon seluler, dompet, sepeda motor, hingga perlengkapan satpam masih utuh.
Selain itu, polisi menduga borgol yang mengikat tangan korban bukan milik korban, melainkan dibawa oleh pelaku.
"Borgol yang digunakan pelaku ini bukan dari borgol korban, berarti dari pelaku," kata Hendra.
Polisi juga menduga pelaku lebih dari satu orang.
Dalam hasil penyelidikan terbaru, penyidik menemukan adanya kejanggalan pada rute perjalanan korban sebelum ditemukan meninggal.
Korban diketahui tidak langsung menuju lokasi tempat jasadnya ditemukan, melainkan sempat melewati kawasan perumahan yang minim penerangan sebelum akhirnya tiba di lokasi kejadian.