- Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas di tengah mandeknya berbagai upaya diplomasi.
Sejumlah pihak mengkhawatirkan konflik terbuka dapat kembali pecah dan memicu instabilitas baru di kawasan Timur Tengah.
Dalam episode kali ini, Tribunnews On Focus menghadirkan Dr. Dina Y. Sulaeman untuk membedah akar konflik AS-Iran, motif di balik kebijakan Presiden Donald Trump yang berubah-ubah, hingga posisi negara-negara Teluk, Rusia, dan Cina dalam pusaran ketegangan ini.
"Amerika Serikat itu menghadapi lawan yang belum pernah ada sebelumnya," ujar Dina, menjelaskan mengapa perang kali ini tak kunjung usai seperti yang diperhitungkan Washington sejak awal.
Dina juga menyoroti aliran dana kampanye dari kalangan pengusaha senjata dan minyak yang pro-Israel — termasuk donasi hingga 100 juta dolar AS dari salah satu donor kepada Trump — yang disebutnya ikut memengaruhi arah kebijakan AS terhadap Iran.
Tak hanya itu, ia mengungkap adanya peringatan dari CIA dan NSA agar AS tidak menyerang Iran, sebelum akhirnya diabaikan atas desakan dua orang dekat Trump.
Dina turut membahas strategi pertahanan Iran di Selat Hormuz yang ia sebut sebagai "armada nyamuk", serta klaim penyelundupan ratusan unit Starlink yang diduga digunakan untuk mendanai aksi-aksi tertentu di dalam negeri Iran.
Lalu, sejauh mana peluang perdamaian sesungguhnya bisa terwujud?
Dan apa dampaknya bagi Indonesia di tengah ketergantungan pada jalur distribusi minyak dunia?