Dunia pendakian tengah berduka. Pendaki Nepal, Nirmal Purja atau Nims Dai jadi salah satu korban longsoran salju (avalanche) di Broad Peak, Pakistan. Sosoknya abadi.
Tim ekspedisi beranggotakan 10 orang itu tersapu longsoran saat berada di ketinggian sekitar 6.600 meter. Setelah beberapa hari pencarian yang terkendala cuaca ekstrem, otoritas Pakistan memastikan seluruh anggota tim, termasuk Nims Dai, meninggal dunia.
Kabar ini mengejutkan komunitas pendaki dunia mengingat Purja dikenal sebagai salah satu mountaineer paling berpengaruh dalam sejarah modern. Bagi banyak orang, sosok Nimsdai dikenal luas melalui film dokumenter 14 Peaks: Nothing Is Impossible.
Film produksi Netflix tersebut tak hanya menampilkan aksi ekstrem di pegunungan tertinggi dunia, tetapi juga memperlihatkan semangat pantang menyerah seorang pendaki yang mengubah sejarah mountaineering.
Dirilis pada 29 November 2021, 14 Peaks: Nothing Is Impossible merupakan film dokumenter berdurasi sekitar 1 jam 41 menit yang disutradarai Torquil Jones. Film ini mengikuti perjalanan Nirmal Purja dalam misi ambisius bertajuk Project Possible, yakni mendaki seluruh 14 gunung berketinggian di atas 8.000 meter hanya dalam waktu tujuh bulan.
Saat itu, rekor dunia yang ada membutuhkan waktu hampir delapan tahun. Dokumenter ini masih dapat disaksikan melalui Netflix. Sepanjang film, penonton diajak mengikuti perjuangan Purja dan tim Sherpa menghadapi badai salju, jalur es yang berbahaya, hingga keterbatasan dana.
Tak hanya berfokus pada pencapaian pribadi, dokumenter tersebut juga menyoroti peran besar para Sherpa Nepal yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung ekspedisi Himalaya, tetapi kerap luput dari sorotan dunia.
Lalu, siapa sebenarnya Nims Dai?
Nirmal Purja lahir di Nepal pada 25 Juli 1983. Sebelum dikenal sebagai pendaki, ia lebih dulu berkarier di militer Nepal dan kemudian bergabung dengan Special Boat Service (SBS), pasukan elite Angkatan Laut Inggris.
Ia menjadi orang Nepal pertama yang diterima di satuan khusus tersebut, sebuah pencapaian yang menunjukkan kemampuan fisik dan mentalnya jauh sebelum menorehkan sejarah di dunia pendakian.
Purja mulai serius menekuni pendakian gunung pada awal dekade 2010-an. Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil mendaki sejumlah gunung tertinggi di Himalaya dan Karakoram.
Namanya melejit pada 2019 ketika menyelesaikan Project Possible dengan menaklukkan seluruh 14 gunung di atas 8.000 meter hanya dalam 189 hari atau sekitar enam bulan lebih. Rekor tersebut menghancurkan catatan sebelumnya yang bertahan selama bertahun-tahun dan dianggap nyaris mustahil dipecahkan.
Tak berhenti di sana, Purja juga dikenal karena aksi penyelamatan di pegunungan. Dalam beberapa ekspedisi, ia membantu evakuasi pendaki yang mengalami masalah di zona maut.
Salah satu foto paling ikonik yang pernah diabadikannya adalah antrean panjang pendaki menuju puncak Everest pada 2019, gambar yang kemudian menjadi simbol kepadatan jalur pendakian tertinggi di dunia.
Lewat 14 Peaks: Nothing Is Impossible, Nimsdai menunjukkan bahwa pendakian bukan sekadar soal mencapai puncak. Baginya, gunung menjadi tempat untuk membuktikan bahwa keterbatasan bisa dilampaui dengan keberanian, disiplin, dan kerja sama.
Kini, Nirmal Purja memang telah tiada. Namun setiap langkahnya di lereng Himalaya akan terus hidup lewat rekaman 14 Peaks, mengingatkan dunia bahwa beberapa orang tidak hanya menaklukkan gunung, tetapi juga mengubah cara manusia memandang batas kemampuan dirinya sendiri.





