Adu Biaya Murah OKI vs Mesuji: Duel Dua Lumbung Pangan di Perbatasan Sumsel-Lampung
Yandi Triansyah August 04, 2026 03:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Terpisah oleh aliran Sungai Mesuji dan dihubungkan oleh denyut koridor Jalan Lintas Timur (Jaliteng) Sumatera, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) di Sumatera Selatan dan Kabupaten Mesuji di Lampung berbagi banyak kemiripan.

Keduanya merupakan benteng pertahanan pangan di provinsi masing-masing OKI sebagai penghasil padi raksasa di Sumsel, dan Mesuji sebagai salah satu lumbung pangan utama di Lampung.

Namun, di balik potensi agraris yang sama-sama melimpah, bagaimana tingkat keterjangkauan biaya hidup bagi masyarakat yang tinggal di kedua wilayah perbatasan ini? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, perbandingan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan menyajikan potret dinamika ekonomi warga yang menarik untuk diulas.

Sebagai wilayah yang sama-sama mengandalkan komoditas pertanian, beras, hingga perkebunan sawit dan karet, ketersediaan bahan pangan primer di OKI maupun Mesuji relatif melimpah. 

Baca juga: Adu Perkasa Daerah Tetangga: Menakar Kemajuan Mesuji vs OKI di Perbatasan Sumsel-Lampung

Meski demikian, pola konsumsi dan struktur pengeluaran masyarakatnya menunjukkan karakteristik yang cukup kontras, khususnya antara porsi belanja makanan dan non-makanan.

1. Kabupaten Mesuji: Lebih Hemat Sektor Pangan, Belanja Non-Makanan Tinggi

Di Kabupaten Mesuji, rata-rata pengeluaran per kapita warga berada di angka Rp 1.057.670 per bulan.

Secara nominal total, Mesuji mencatatkan biaya hidup yang sedikit lebih murah dibandingkan tetangganya di utara.

Uniknya, dari total pengeluaran tersebut:

Pengeluaran Makanan: Rp 562.933 per bulan

Pengeluaran Bukan Makanan: Rp 494.736 per bulan

Proporsi pengeluaran non-makanan di Mesuji terbilang lumayan tinggi (mendekati 47 persen dari total pengeluaran).

Hal ini mengindikasikan bahwa akses atau harga kebutuhan pangan dasar di Mesuji sangat terjangkau, namun kebutuhan sekunder seperti jasa, energi, maupun transportasi memiliki porsi anggaran yang hampir seimbang.

2. Kabupaten OKI: Belanja Pangan Dominan, Non-Makanan Lebih Efisien

Sementara itu di Kabupaten OKI, rata-rata pengeluaran per kapita tercatat sedikit lebih tinggi, yakni Rp 1.088.277 per bulan (selisih sekitar Rp 30.607 dari Mesuji).

Komposisi pengeluaran warga OKI menunjukkan pola khas wilayah pedesaan-agraris:

Pengeluaran Makanan: Rp 661.783 per bulan

Pengeluaran Bukan Makanan: Rp 426.493 per bulan

Di OKI, porsi belanja pangan mendominasi lebih dari 60?ri total pengeluaran bulanan.

Sebaliknya, biaya kebutuhan non-pangan di OKI justru tercatat lebih murah dibandingkan Mesuji dengan selisih sekitar Rp 68 ribu per bulan.

Perbedaan struktur pengeluaran ini memberikan gambaran bahwa secara keseluruhan total angka, Mesuji menawarkan biaya hidup sedikit lebih murah untuk kebutuhan harian, terutama berkat efisiensi biaya belanja pangan.

Namun, OKI memiliki keunggulan pada efisiensi biaya non-makanan, seperti tempat tinggal, utilitas, dan sarana pendukung lainnya.

Bagi masyarakat di kawasan perbatasan Sumsel-Lampung ini, interaksi ekonomi yang saling melengkapi di sepanjang koridor Sungai Mesuji dan Jalinbar/Jaliteng tetap menjadi penopang utama daya beli dan kesejahteraan warga di kedua kabupaten.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.