Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Imam Taufiq/Purwanto
SURYAMALANG.COM, MALANG RAYA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama kontraktor pelaksana langsung bergerak merespons cepat temuan kerusakan pada proyek revitalisasi Stadion Kanjuruhan pasca-sidak anggota DPRD Kabupaten Malang.
Sementara itu di Kota Malang, Pemerintah Kota mulai menguji coba pemasangan perangkat Global Positioning System (GPS) pada armada angkutan kota (angkot) untuk mendukung operasional layanan angkutan sekolah gratis bagi para pelajar.
Kedua isu pembangunan fasilitas publik dan pembaruan moda transportasi ini menjadi sorotan utama masyarakat Malang Raya.
Berikut ulasan selengkapnya:
Temuan anggota DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarrok, mengenai rusaknya sejumlah fasilitas dalam proyek revitalisasi Stadion Kanjuruhan langsung direspons cepat oleh Kementerian PUPR.
"Iya, saat ini kerusakan bangunan stadion itu mulai dikerjakan. Terlihat ada sejumlah pekerja yang sedang memperbaiki," ungkap Zulham Akhmad Mubarrok.
Baca juga: Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini Selasa 4 Agustus 2026: Cerah dan Kabut, Suhu Dingin 13 Derajat
Pengerjaan perbaikan ulang tersebut difokuskan pada titik-titik kerusakan yang ditemukan Zulham saat menggelar sidak empat hari sebelumnya.
Langkah sidak itu sendiri diambil Zulham setelah menerima aduan masyarakat terkait indikasi pengerjaan proyek pasca-Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 (seusai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya) yang dinilai amburadul.
Hasil pantauan di lapangan lantas membuat Wakil Ketua Fraksi PDIP tersebut prihatin, mengingat proyek revitalisasi fisik bangunan ini baru saja rampung dikerjakan selama setahun.
"Kami dapat laporan jika yang diperbaiki saat ini, sesuai temuan kami," ungkapnya.
Saat melakukan sidak, Zulham menemukan kerusakan parah pada lantai cor di area tribun penonton.
Kondisi lantai tidak sekadar retak dan pecah-pecah, melainkan ubin lantainya sudah mengelupas hingga mengeripik dan menyebar di bawah kursi tribun, sehingga berpotensi membahayakan kaki pengunjung jika terinjak.
"Wong, proyek senilai Rp 335 miliar, dan baru selesai dibangun, namun kok sudah rusak," tutur Zulham.
Sepintas, lanjut Zulham, kerusakan pada lantai cor tersebut diduga akibat komposisi campuran semen yang kurang memadai sehingga lapisan atasnya tidak merekat sempurna.
Tak berhenti di situ, kekecewaan Zulham bertambah saat menyusuri bagian dalam ruangan stadion.
Zulham menemukan kerusakan lain yang tak kalah parah, seperti plafon ruangan yang ambrol akibat rembesan air hujan.
Selain merusak estetika karena warna cat putih berubah menjadi belang-belontang kehitaman, plafon tersebut juga jebol hingga meninggalkan banyak lubang menganga.
"Saat ini, kerusakan itu mulai diperbaiki," tuturnya.
Di area plafon yang jebol tersebut, terlihat pula instalasi kabel yang semrawut, bergelantungan, hingga menjulur keluar.
"Itu harus ditata ulang biar tak menyebabkan konsleting atau membahayakan orang. Ini, proyek mahal dan dikerjakan kontraktor terkenal namun hasilnya kok nggak karuan seperti itu," tegasnya.
Kerusakan signifikan pada bangunan yang baru selesai dikerjakan ini memicu kecurigaan Zulham bahwa proses pengerjaannya dilakukan secara tidak profesional.
Alhasil, proyek revitalisasi Stadion Kanjuruhan pasca-tragedi maut yang menelan sekitar 127 korban jiwa tersebut justru mengalami kerusakan berat sebelum resmi diserahterimakan kepada Pemkab Malang.
Zulham mengingatkan, seluruh perbaikan ini masih menjadi kewajiban dan tanggung jawab pihak Kementerian PUPR.
Sementara itu, sejumlah angkutan kota (angkot) di Kota Malang mulai dipasangi alat pemantau lokasi berbasis GPS.
Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas program angkutan sekolah gratis bagi para pelajar di Kota Malang, di mana armada angkot dimanfaatkan sebagai sarana transportasi yang terhubung langsung dengan sistem pemantauan berbasis aplikasi.
Salah seorang pengemudi angkot jalur MK yang terlibat dalam program ini, Bung Ali, mengungkapkan armada angkotnya kini telah dipasangi perangkat pemantau digital tersebut.
"GPS ini dipasang untuk angkutan sekolah. Seminggu yang lalu dipasang, warnanya hitam di bawah dashborad mobil," ujar Bung Ali kepada SURYAMALANG.COM, Senin (3/8/2026).
Untuk mendukung operasional harian, jalur angkutan sekolah gratis ini telah disesuaikan dengan titik-titik sekolah yang menjadi target pemkot.
Pria yang telah melakoni profesi sopir angkot sejak tahun 1991 ini menjelaskan, rute yang ia tempuh melayani para siswa dari kawasan SMPN 24 Kota Malang hingga menuju SMPN 22 Kota Malang.
"Ini rutenya dari SMP 24, lanjut sampai Kampus Wishnuwardana, lalu naik ke Buring, SMP 22 Kota Malang," jelasnya.
Baca juga: Duel Pincang Persebaya Vs Arema FC di Semifinal Piala Presiden 2026, Sama-sama Tanpa Striker Andalan
Layanan ini diberikan sepenuhnya secara gratis bagi para siswa.
Terkait skema operasional dan kompensasi dari Pemkot Malang, terdapat mekanisme pembayaran khusus yang mengatur biaya operasional armada serta hak gaji pengemudi.
"Kalau bensin dan setoran dibayarkan oleh Pemkot setiap satu minggu sekali. Lalu gaji pengemudi dicairkan berkala setiap 20 hari sekali," tutur Bung Ali.
Melalui program kemitraan bersama pemerintah daerah ini, para pengemudi menaruh harapan besar agar kesejahteraan dan taraf hidup mereka dapat meningkat secara berkelanjutan.
"Harapannya ya supaya ada kemajuan lah untuk sopir angkot ini karena sudah digandeng pemerintah," tutur Bung Ali penuh harap.
Tak hanya itu, Ali juga berseloroh mengharapkan adanya program peremajaan armada di masa mendatang.
"Kalau bisa, mobilnya diganti yang baru, seperti Gran Max atau Luxio," kelakarnya sambil tertawa.
Sementara itu, Ketua Jalur Angkot MK, Rudi Wibisono (Budi), mengungkapkan uji coba pemasangan alat pemantau lokasi berbasis GPS tersebut sudah mulai diterapkan di sejumlah armada.
"Uji coba pemasangan GPS ini untuk memantau jalannya armada angkot gratis. Sementara dalam tahap awal ada enam angkot yang dipasang GPS," ujar Budi saat berada di Terminal Madyopuro, Kota Malang.
Adapun enam armada yang dipasang perangkat GPS dalam masa uji coba awal ini mewakili sejumlah rute strategis, yakni jalur ADL 1, AG 1, GA 1, AL 1, MK 1, dan MM 1.
Pemantauan pergerakan armada nantinya dilakukan melalui aplikasi khusus untuk memastikan para sopir menjalankan rute angkutan sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Baca juga: Kakek Meninggal Usai Ditabrak Sepeda Motor saat Hendak Menyeberang Jalan Ir Soekarno Kota Batu
"Aplikasinya nanti terintegrasi dengan Bus Trans Jatim. Jadi ada tambahan menu kata orang Dishub begitu," jelas Budi.
Terkait sistem skema pembayaran kepada para sopir, Budi menyebut belum ada keputusan final, namun opsi kuat yang diwacanakan oleh pihak terkait adalah pembayaran berbasis jarak tempuh.
"Wacana sebelumnya skema pembayaran melalui hitungan kilometer (kilometrase)," terangnya.
Budi menambahkan, seluruh armada yang berhak berpartisipasi dalam program angkutan gratis pelajar ini wajib memenuhi regulasi serta berbadan hukum, seperti Koperasi.
"Di paguyuban ini sendiri, dari total 36 armada yang ada, sebanyak 23 armada telah siap dan terdaftar untuk beroperasi dalam program angkutan sekolah gratis ini," urai Budi.
Mengenai respons para pengemudi, Budi menegaskan para sopir angkot menyambut positif program serta inovasi pemantauan digital ini.
Kondisi penurunan jumlah penumpang akibat tergerus moda transportasi lain membuat kepastian program angkutan pelajar menjadi angin segar bagi kelangsungan hidup mereka.
Jika tidak ada kendala, implementasi penuh program angkot gratis berbasis pemantauan GPS ini ditargetkan mulai beroperasi secara resmi dalam waktu dekat.
"Insya'Allah informasi terakhir dari pertemuan kemarin, paling lambat tanggal 10 Agustus 2026 sudah harus berjalan. Pelaksanaan dimulai dari titik-titik terminal yang telah ditentukan untuk rute angkutan sekolah," pungkas Budi.