Kampung Mozaik Diluncurkan di Gresik, Warga Diajak Kurangi Sampah Plastik
Titis Jati Permata August 04, 2026 10:32 AM

 

SURYA.co.id, GRESIK – Menyelamatkan sungai dari ancaman sampah plastik tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas atau menggelar aksi bersih-bersih.

Perubahan justru dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, seperti memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, hingga tidak membuang sampah ke sungai.

Pesan itu menjadi semangat peluncuran Kampung Mission for Zero Plastic Leakage (Mozaik) yang digagas Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) di kawasan Kali Surabaya, Kabupaten Gresik, Senin (4/8/2026).

Baca juga: Data Ecoton: Udara Jombang Terkepung Mikroplastik, Jatirejo Paling Parah

Program ini diharapkan menjadi gerakan bersama masyarakat untuk menekan kebocoran sampah plastik ke sungai.

Hidupkan Kembali Kearifan Lokal

Direktur Eksekutif Ecoton, Dr. Daru Setyorini, mengatakan menjaga sungai tidak bisa dilepaskan dari perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak kearifan lokal yang selama ini terbukti ramah lingkungan dan perlu dihidupkan kembali.

"Dulu Kali Tebu merupakan sungai yang bersih. Kita memiliki banyak kebiasaan baik yang ramah lingkungan. Salah satunya, para ibu membiasakan anak menggunakan toilet sejak usia dini sehingga penggunaan popok sekali pakai dapat dikurangi. Kearifan seperti itu perlu kita hidupkan kembali sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah plastik," ujar Daru kepada SURYA.co.id, Senin (3/8/2026).

Ia menegaskan, perubahan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten di lingkungan keluarga.

Deklarasi dan Satgas Sungai Lestari

Sebagai puncak kegiatan, para camat dan lurah dari wilayah program di Kota Surabaya menandatangani Deklarasi Kampung Mozaik sebagai bentuk komitmen memperkuat pengelolaan sampah dari sumber serta menjaga Kali Tebu dari pencemaran plastik.

Komitmen tersebut ditandai dengan pemukulan kentongan dan dilanjutkan pelantikan Satgas Sungai Lestari Kali Tebu Surabaya. Satgas ini akan menjadi motor penggerak edukasi dan aksi pelestarian lingkungan di tingkat masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Ecoton juga meluncurkan Mobil Laboratorium Mikroplastik (Microplastic Journey) yang akan membawa edukasi mengenai bahaya mikroplastik lebih dekat kepada masyarakat.

Selain itu, layanan refilin turut diperkuat sebagai upaya mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai melalui sistem isi ulang.

"Bagi Ecoton, menjaga sungai tidak berhenti pada seremoni peluncuran program. Sungai yang bersih lahir dari kebiasaan sehari-hari, mulai memilah sampah dari rumah, mengurangi plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke sungai, hingga saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan. Kampung Mozaik kami harapkan menjadi contoh ketika masyarakat bergerak bersama, sungai bisa kembali menjadi ruang hidup yang bersih, sehat, dan lestari," jelas Daru.

Pemerintah Apresiasi Gerakan Masyarakat

Asisten Deputi Ekonomi Sirkular Dampak Lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Rofi Alhanif, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya yang terus mendorong pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

"Di Surabaya, pemilahan sampah dari rumah sudah mulai berjalan. Ecoton membantu kita memahami pentingnya menjaga sungai tetap bersih. Jika sungai bersih, berarti perilaku kita dalam mengelola sampah juga semakin baik," katanya.

Mikroplastik Jadi Ancaman Bersama

Project Lead Emirates Foundation, Hassan Ali Abdulla, mengaku terkesan dengan pendekatan edukasi yang dilakukan melalui Program Mozaik, terutama saat masyarakat diajak melihat secara langsung keberadaan mikroplastik di lingkungan sekitar.

"Saya baru mengetahui bahwa mikroplastik bahkan dapat ditemukan pada tangan kita. Ini menunjukkan plastik telah menjadi ancaman bagi semua orang. Karena itu, kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dan menjaga kebersihan lingkungan harus terus ditingkatkan," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.