TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Perkembangan zaman dan pesatnya teknologi digital tidak hanya mengubah cara manusia berinteraksi, tetapi juga menggeser norma serta gaya berkomunikasi antar-generasi.
Generasi terdahulu yang tumbuh dalam budaya ramah-tamah dan sarat basa-basi, kini sering kali dihadapkan pada gaya komunikasi generasi muda (Gen Z) yang cenderung serba cepat, singkat, lugas, dan tanpa aling-aling.
Pergeseran fenomena sosial ini menjadi perhatian khusus bagi Dr. Nurly Meilinda, S.I.Kom., M.I.Kom., Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP sekaligus Kepala Kantor Humas dan Protokol Universitas Sriwijaya (Unsri).
Sebagai sosok akademisi muda yang saban hari berinteraksi dengan ribuan mahasiswa, Nurly tidak hanya mengamati fenomena ini secara teoritis, tetapi juga mengalaminya secara praktis.
Hadir dalam Podcast Women's Corner bersama pemandu acara Ray Happyeni di Gedung Graha Tribun beralamat Jalan Letjen H. Alamsyah Ratu Perwiranegara No. 120, Kecamatan Ilir Barat I, Dr. Nurly Meilinda, S.I.Kom., M.I.Kom membagikan pengalamannya.
Siapa Nurly Meilinda sebenarnya ?
Dr. Nurly Meilinda merupakan seorang akademisi dan praktisi kehumasan kelahiran Palembang.
Berasal dari keluarga yang kental dengan latar belakang dunia pendidikan, ibunya seorang dosen dan ayahnya seorang guru, lingkungan tumbuh kembangnya sangat mendukung tradisi belajar sejak dini.
Rekam jejak pendidikannya terbilang cukup istimewa. Nurly sudah mengecap bangku Sekolah Dasar (SD) saat masih berumur empat tahun, dimana usia tersebut masih sangat muda dibanding anak-anak pada umumnya.
"Saya masuk SD waktu itu emang umur 4 tahun, agak lebih awal diamana ibu saya mau nitip-nitip aja, niatnya untuk coba-coba ternyata bisa mengikuti," kenang Dr. Nurly saat menjadi narasumber dalam Women's Corner yang tayang di Youtube Tribun Sumsel, Senin (3/8/2026).
Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok anak yang aktif, ramah, dan sangat suka berbicara (talkative).
Potensi alami dalam berinteraksi tersebut kemudian menuntunnya untuk mendalami disiplin ilmu yang tepat.
Ia menempuh jalur pendidikan Ilmu Komunikasi secara linier di perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Dedikasinya sebagai tenaga pendidik di FISIP UNSRI dimulai sejak tahun 2013.
Momen kemenangannya menembus jenjang akademis ini diakui Nurly berawal dari kecintaannya pada dunia interaksi.
"Saya coba ikut mengajar juga di Universitas Sriwijaya. Ternyata passion ngomong ini tersalurkan melalui akademisi ini. Bisa ngajar, bisa berbagi, ketemu dengan teman-teman baru, bertemu dengan mahasiswa yang bermacam-macam ragamnya, yang posisinya waktu itu mungkin jarak mahasiswa saya dan saya itu hanya lima tahun" tutur Nurly menceritakan awal mula kariernya.
Berkat keaktifannya dalam kegiatan organisasi, ketajaman analisis sosialnya, serta keterampilannya di bidang komunikasi massa, ia dipercaya untuk mengemban amanah strategis sebagai Kepala Kantor Humas dan Protokol Universitas Sriwijaya (Unsri).
Berada di lingkungan akademis yang dinamis, Dr. Nurly mengamati adanya perbedaan kultur komunikasi yang sangat mencolok antara generasi tua dan muda.
Generasi terdahulu umumnya memegang teguh norma unggah-ungguh tradisional yang mengedepankan pembuka panjang atau basa-basi sebelum menyampaikan maksud inti.
Sebaliknya, mahasiswa dan anak-anak muda zaman sekarang cenderung mengadopsi pola komunikasi straightforward atau langsung pada poin utama tanpa membuang banyak waktu.
"Kalau ngomong sama anak generasi yang paling muda-muda sekarang itu lebih sedikit basa-basinya. Saya lihat generasi anak saya ya langsung strike. Cenderung lebih cuek ya," ungkap Dr. Nurly
Menurutnya, perbedaan karakter ini sering kali menjadi pemicu kesalahpahaman atau benturan (clash) antargenerasi.
Dimana generasi senior kerap menganggap gaya komunikasi anak muda kurang sopan atau terlalu acuh, sementara generasi muda merasa pola komunikasi lama terlalu berbelit-belit dan lambat.
Apalagi di era digital, anak muda sangat terikat dengan perangkat selulernya. Namun, Nurly menegaskan bahwa kuncinya adalah mau menghargai perbedaan tersebut tanpa memaksakan ego.
"Diri kita pun harus selalu terbuka menerima kebaruan, menerima kenyataan bahwa yang sekarang anak-anak muda itu mereka akan terpaku sama handphone-nya terus. Anak muda sekarang mungkin akan cenderung lebih cuek ketimbang generasi diatasnya, kalo kita generasi sebelumnya sampe milenial lah mungkin masih ada ungah-unguhnya gitu kan. Itu kita hargai juga perbedaan itu. Jadi jangan memaksakan pemikiran kita dengan orang lain," paparnya.
Untuk menjembatani jurang komunikasi tersebut dan membangun hubungan interpersonal yang harmonis, baik di lingkungan kampus, tempat kerja, maupun kehidupan bermasyarakat Dr. Nurly Meilinda membagikan empat panduan utama yang bisa dimanfaatkan.
Langkah paling fundamental dalam setiap proses interaksi adalah kemampuan untuk berempati.
Seseorang perlu menempatkan pemikiran dan perasaannya di posisi lawan bicara sebelum merespons pesan yang diterima.
"Yang paling utama yang perlu kita catat tuh adalah yang penting empati dulu. Empati itu apa? Artinya kita memposisikan diri kita di posisi orang lain yang kita ajak bicara," jelasnya.
Dengan empati, seseorang tidak akan mudah memberikan penilaian negatif (judgment) terhadap cara bicara orang lain, melainkan berusaha memahami konteks di balik penyampaian pesan tersebut.
Komunikasi yang berhasil tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga situasi (situational awareness).
Seseorang harus bisa membaca keadaan untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk berbicara serius, menyampaikan kritik, bercanda, atau menahan diri.
"Selain empati tuh termasuk tahu waktu juga berarti ya, tahu tempat. Yang kedua itu memang enggak bisa dipungkiri praktis sih, latihan ya Mbak, kita jangan cepat puas dengan pencapaian kita karena itu juga tidak baik, karena ketika kita jalan lebih jauh maka masih banyak orang yang hebat-hebat lagi dari kita" tambah Nurly menekankan pentingnya membaca suasana.
Komunikasi bukanlah keahlian statis, melainkan keterampilan praktis yang membutuhkan latihan secara konsisten melalui proses trial and error.
Dr. Nurly mengimbau agar siapa saja tidak cepat puas dengan kemampuan komunikasinya saat ini dan memanfaatkan berbagai sumber belajar gratis yang ada di internet.
"Jangan terlalu cepat puas dengan pencapaian kita. Jadi memang perlu latihan, trial and error juga komunikasi itu. Sekarang kan gampang ilmu gratis di mana-mana," terangnya.
Perubahan budaya dan teknologi adalah hal yang mutlak terjadi.
Mempertahankan pemikiran kaku atau memaksakan standar lama kepada generasi baru hanya akan menciptakan kebuntuan dalam berinteraksi.
"Diri kita pun harus selalu terbuka menerima kebaruan. Jangan memaksakan ini pemikiran kita dengan orang lain karena ya jadinya batu sama-sama batu akhirnya terjadi clash seperti itu," pungkas Dr. Nurly.
Melalui kombinasi latar belakang akademis yang kuat dan fleksibilitas dalam menghadapi dinamika zaman, Dr. Nurly Meilinda menegaskan bahwa kunci keharmonisan komunikasi antargenerasi terletak pada kesediaan kedua belah pihak untuk saling mendengar, memahami, dan beradaptasi.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com