SURYA.CO.ID TRENGGALEK - Krisis air bersih akibat kemarau semakin meluas di Kabupaten Trenggalek dengan 15 desa di lima kecamatan terdampak. BPBD menggencarkan distribusi air bersih setiap hari agar kebutuhan warga tetap terpenuhi di tengah musim kering.
Bencana kekeringan mulai meluas di wilayah Kabupaten Trenggalek. Hingga awal Agustus 2026, tercatat sebanyak 15 desa yang tersebar di lima kecamatan mulai mengalami krisis air bersih.
Untuk meringankan beban masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek gencar melakukan pendistribusian (dropping) air bersih secara rutin setiap hari.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menyampaikan upaya pendistribusian air bersih ini telah berlangsung selama hampir sepekan.
Baca juga: Breaking News : 14 Daerah Jatim Krisis Air Bersih, 3 Kabupaten Status Tanggap Darurat Kekeringan
Bantuan pasokan air tersebut diperoleh dari sinergi bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Kecamatan yang paling banyak terdampak kekeringan saat ini adalah wilayah Kecamatan Panggul," ujar Triadi saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan warga di kawasan terdampak, BPBD memfokuskan armada truk tangki air di wilayah tersebut. Pihaknya mengerahkan sedikitnya dua unit truk tangki setiap hari.
"Untuk proses pendistribusiannya, kami mengerahkan dua armada tangki dengan rata-rata pengiriman minimal 10 ribu liter per hari," ulasnya.
Beliau mengaku pasokan ini disalurkan untuk desa-desa terdampak di wilayah Kecamatan Panggul dan kawasan yang berbatasan dengan Kecamatan Dongko.
Triadi menambahkan, sesuai informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau pada tahun 2026 ini diprediksi berlangsung lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Krisis Air Bersih Mengancam 89 Desa di Lamongan Saat Puncak Musim Kemarau
Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dalam menggunakan air serta memaksimalkan infrastruktur penampungan air yang ada.
Pria yang juga sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Trenggalek ini mengimbau warga agar mengantisipasi kemarau panjang ini dengan menghemat air.
Selain itu, dirinya juga berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk memfungsikan infrastruktur air seperti bendungan.
"Di sisi lain, kami menjalin kerja sama dengan Perum Perhutani untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," paparnya.
Berdasarkan data lapangan BPBD Trenggalek, aksi penyaluran bantuan air bersih mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Sabtu (1/8/2026).
Tim gabungan BPBD Trenggalek menyalurkan sebanyak 20.000 liter air bersih untuk 1.558 jiwa dari 554 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di lima desa di Kecamatan Panggul, meliputi Desa Nglebeng, Panggul, Ngrencak, Kertosono, dan Besuki.
Pasokan air bersih dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama BPBD Jatim tersebut didistribusikan langsung ke permukiman warga serta bak-bak penampungan air desa.
Berlanjut pada Minggu (2/8/2026), BPBD Trenggalek bersama personel TNI, Polri, dan perangkat desa setempat kembali melakukan dropping air bersih di Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul, serta Desa Cakul, Kecamatan Dongko.
"Kegiatan pendistribusian air bersih di lapangan berlangsung tertib dan disambut antusias oleh warga setempat. Karena mereka mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat menyusutnya sumber air baku," imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui BPBD mengapresiasi dukungan Pemprov Jatim dan seluruh elemen masyarakat yang berkolaborasi dalam penanganan dampak kemarau.
"Sinergi lintas sektor diharapkan terus terjaga demi memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak kekeringan dapat terpenuhi," tutupnya. (Madchan Jazuli)