TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Kekhawatiran petani tebu terhadap tren penurunan harga gula semakin meningkat di tengah berlangsungnya musim giling 2026. Kondisi tersebut mendorong Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengusulkan kenaikan harga acuan pembelian gula di tingkat petani dari Rp14.500 menjadi Rp16.875 per kilogram.
Usulan tersebut mendapat dukungan dari para petani tebu di berbagai daerah, termasuk wilayah kerja Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo, Kabupaten Kediri. Mereka menilai penyesuaian harga acuan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tani tebu di tengah meningkatnya biaya produksi.
Ketua APTR PG Ngadiredjo, Mujianto, mengatakan aspirasi petani dari berbagai daerah telah disampaikan kepada DPN APTRI untuk diteruskan kepada pemerintah pusat.
Menurutnya, petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar harga gula tidak terus tertekan dan tetap memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
Baca juga: Viral Pemain Jaranan Kesurupan Pukul Motor Pengendara, Berujung Kericuhan
"Petani berharap pemerintah segera mengambil keputusan agar harga gula di tingkat petani tetap memberikan keuntungan yang layak. Kalau tidak ada respons, DPP APTRI akan menyampaikan aspirasi langsung kepada Presiden," kata Mujianto, Selasa (4/8/2026).
Ia menjelaskan, harga acuan pembelian gula di tingkat petani tidak mengalami perubahan selama tiga tahun terakhir. Sejak 2024 hingga 2026, pemerintah masih menetapkan harga acuan sebesar Rp14.500 per kilogram.
Padahal dalam periode yang sama, berbagai komponen biaya produksi terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Harga Lelang Gula Turun, Margin Petani Menipis
Di sisi lain, harga lelang gula justru menunjukkan tren penurunan selama musim giling tahun ini.
Berdasarkan hasil lelang terbaru, harga gula hanya berada pada kisaran Rp15.300 hingga Rp15.350 per kilogram. Meski masih berada di atas harga acuan pemerintah, margin keuntungan yang diperoleh petani dinilai semakin tipis.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran harga gula akan terus melemah seiring meningkatnya volume produksi selama musim giling 2026.
Bahkan, sebagian kelompok petani mulai memilih menjual gula secara mandiri di luar mekanisme lelang karena menilai harga yang terbentuk belum mampu memberikan keuntungan yang memadai.
Mujianto mengungkapkan pengalaman musim giling tahun 2025 menjadi pelajaran penting bagi petani tebu.
Saat itu, sebagian gula hasil produksi sulit terserap melalui mekanisme lelang sehingga akhirnya dijual dengan harga yang lebih rendah.
"Permintaan kenaikan harga acuan bukan semata-mata untuk meningkatkan keuntungan, melainkan agar mampu menutup lonjakan biaya produksi yang terus meningkat sepanjang tahun ini," ungkapnya.
Biaya Produksi Naik hingga 20 Persen
Menurut Mujianto, kenaikan biaya produksi menjadi salah satu alasan utama mengapa petani meminta penyesuaian harga acuan gula.
Saat ini, biaya pengolahan lahan menggunakan jasa traktor mencapai Rp2 juta hingga Rp3,5 juta per hektare.
Selain itu, biaya tebang dan angkut tebu juga mengalami kenaikan dan kini berkisar antara Rp15,4 juta hingga Rp16,5 juta per hektare.
"Biaya-biaya tersebut naik sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu. Belum lagi kenaikan harga solar nonsubsidi yang ikut menambah beban operasional petani," jelasnya.
Kenaikan berbagai biaya tersebut membuat petani merasa semakin tertekan ketika harga gula di pasaran justru menunjukkan tren penurunan.
SGN Siap Jaga Komunikasi dengan Petani
Menanggapi aspirasi tersebut, Regional Head Jawa Timur 1 PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Wayan Mei Purwono, menegaskan pihaknya menghormati setiap masukan yang disampaikan petani melalui organisasi resmi seperti APTRI.
Menurutnya, SGN akan terus membangun komunikasi yang terbuka dengan petani dan seluruh pemangku kepentingan untuk mencari solusi terbaik bagi industri gula nasional.
"Kami menghormati setiap aspirasi yang disampaikan petani melalui organisasi resmi seperti APTRI. Sebagai perusahaan yang bermitra dengan petani tebu, SGN berkomitmen menjaga komunikasi yang terbuka dan konstruktif guna mencari solusi terbaik bagi seluruh pihak. Sinergi antara petani, pabrik gula, dan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan industri gula nasional," pungkas Wayan.
(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)