Mataram (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mengatakan paradigma cagar budaya perlu diubah agar warisan sejarah dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

"Cagar budaya bisa menjadi destinasi wisata, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, dan menghasilkan pendapatan daerah, pendekatan seperti itulah yang harus kami bangun," ujarnya di Mataram, Selasa.

Perubahan paradigma dalam memandang cagar budaya yang tidak hanya berorientasi pelestarian berguna agar pemerintah kabupaten/kota memiliki alasan yang lebih kuat untuk mendukung pelestarian cagar budaya melalui kebijakan dan penganggaran.

Iqbal menegaskan keberhasilan pelestarian cagar budaya tidak mesti hanya diukur dari banyak objek yang mendapatkan status cagar budaya, tetapi dari keseriusan pemerintah dalam merawat dan memanfaatkan cagar budaya tersebut.

"Lebih baik sedikit (cagar budaya), tetapi benar-benar terurus daripada mengejar status, setelah ditetapkan justru tidak dirawat dan tidak dimanfaatkan," ucap dia.

Cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya hingga kawasan cagar budaya.

Regulasi mengamanatkan pelestarian lantaran cagar budaya memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, maupun kebudayaan melalui proses penetapan.

Cagar budaya yang dikelola secara tepat dapat menjadi simpul pengetahuan sekaligus sumber pengembangan ekonomi lokal melalui aktivitas pariwisata budaya, pendidikan, penelitian, hingga aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan cagar budaya.

Iqbal mencontohkan kawasan Kota Tua Ampenan di Kota Mataram memiliki nilai sejarah tinggi sebagai pintu perdagangan dan tempat perjumpaan berbagai bangsa sekitar abad ke-19 di Pulau Lombok.

Menurut dia, pengembangan kawasan tersebut harus dilakukan secara hati-hati agar aktivitas ekonomi dan pariwisata tidak menghilangkan karakter serta keaslian sejarah kawasan.

"Jangan sampai revitalisasi justru memutus hubungan kawasan dengan sejarahnya. Semua harus didasarkan pada kajian sejarah, arkeologi, dan konservasi, sehingga identitas kawasan tetap terjaga," kata Iqbal.

Nusa Tenggara Barat memiliki cukup banyak cagar budaya, di antaranya Kompleks Taman Narmada di Kabupaten Lombok Barat, Taman Mayura dan Pura Meru Cakranegara di Kota Mataram, Masjid Kuno Bayan Baleq di Kabupaten Lombok Utara, dan Istana Asi Mbojo di Kota Bima.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menuturkan setiap program pembangunan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari aspek pembangunan manusia dan ekonomi.

"Warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi merupakan modal sosial dan modal budaya yang menentukan daya saing daerah di masa depan," ucap Ihwan.