SURYA.CO.ID, BONDOWOSO - Gunung Piramid di Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, dikenal luas sebagai salah satu gunung dengan jalur pendakian paling menantang.
Bentuk punggung gunung yang sempit dan memanjang membuatnya dijuluki Punggung Naga oleh para pendaki.
Julukan tersebut muncul karena kontur puncaknya yang menyerupai piramida dengan jalur menanjak tajam dan memanjang layaknya punggung seekor naga.
Keunikan itulah yang selama bertahun-tahun menarik perhatian para pencinta alam, meski kawasan tersebut tidak pernah dibuka sebagai jalur pendakian resmi.
Dari kawasan puncak, pengunjung dapat menikmati panorama perbukitan di sekitar Bondowoso, hamparan lahan pertanian, hingga pemandangan matahari terbenam yang menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa titik di sepanjang jalur juga dikenal memiliki latar yang menarik untuk berfoto.
Akses menuju titik awal pendakian relatif dekat dari pusat Kota Bondowoso. Salah satu jalur yang kerap digunakan berada di Dusun Tegal Tengah, Kelurahan Curahdami, Kecamatan Curahdami.
Walaupun ketinggiannya hanya sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, karakter medannya didominasi tanjakan curam dan jalur sempit sehingga membutuhkan kemampuan teknis serta pengalaman mendaki yang memadai.
Baca juga: Sosok Pendaki Perempuan Usia 51 Tahun Hilang di Gunung Piramid, Ini 2 Kasus Serupa Berujung Duka
Di balik keindahan alamnya, Gunung Piramid menyimpan risiko yang tinggi.
Karena alasan keselamatan, KPH Perhutani telah lama melarang aktivitas pendakian di kawasan tersebut. Bahkan, gunung ini sebenarnya tidak pernah dibuka sebagai jalur pendakian resmi.
Larangan itu semakin diperketat setelah tragedi yang menimpa pendaki remaja Thoriq Rizki Maulidan.
Peristiwa tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah proses pencarian hingga penemuan jasad korban.
Meski demikian, masih ada sejumlah orang yang nekat mendaki secara diam-diam.
Pada Agustus 2020, seorang remaja asal Bondowoso bernama Multazam dilaporkan terjatuh dan ditemukan meninggal dunia.
Kini, insiden kembali terjadi. Dua orang pendaki dilaporkan hilang kontak saat berada di Gunung Piramid.
Kedua survivor tersebut adalah Maliya Finda (51), warga Surabaya, dan pemandu lokal Erfan (35), warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Keduanya mulai mendaki pada Minggu (2/8/2026).
Mereka terakhir kali terlihat berada di puncak Gunung Piramid sekitar pukul 14.00 WIB pada hari yang sama. Hingga Selasa (4/8/2026), keduanya masih dalam proses pencarian.
Kapolres Bondowoso, AKBP Aryo Dwi Wibowo, menegaskan bahwa aktivitas pendakian di Gunung Piramid memang sudah lama dilarang.
"Pendakiannya, informasi dari pihak kecamatan, jalur pendakian ini bukan jalur yang resmi," pungkasnya.
Ia menambahkan, pemerintah kecamatan bersama Forkopimca telah berulang kali menyampaikan imbauan sekaligus larangan kepada masyarakat agar tidak melakukan pendakian di kawasan tersebut.