TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat di Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, seiring memasuki puncak musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU Timur mencatat empat titik panas (hotspot) berkategori sedang (medium). Selain itu, kebakaran lahan skala kecil juga terjadi di Desa Saung Dadi, Kecamatan Buay Pemuka Peliung.
Meski kebakaran tersebut tidak meluas, kondisi ini menjadi sinyal meningkatnya potensi karhutla akibat cuaca yang semakin kering.
Pemerintah Kabupaten OKU Timur pun menetapkan status siaga karhutla sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD OKU Timur, Bambang Irawan, mengatakan kebakaran lahan di Desa Saung Dadi diduga dipicu api yang tidak sengaja menyebar hingga membakar area lahan.
"Kemungkinan api yang tidak sengaja menyebar lalu membakar lahan. Untungnya kebakaran masih dalam skala kecil sehingga dapat segera dikendalikan," katanya saat ditemui jurnalis Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di ruang kerjanya, Selasa (4/8/2026).
Selain menangani kebakaran lahan, BPBD OKU Timur terus memantau perkembangan titik panas melalui aplikasi Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) yang dikembangkan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, terdapat empat hotspot di wilayah OKU Timur dengan tingkat kepercayaan kategori medium atau ditandai warna kuning.
"Empat hotspot ini belum masuk kategori tinggi, tetapi tetap menjadi perhatian kami. Hotspot merupakan indikator awal sehingga harus dipantau secara terus-menerus agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar," jelas Bambang.
Baca juga: Karhutla Ancam Jalan Tol & Permukiman di Ogan Ilir, Personel Kodim 0402/OKI-OI Siaga Padamkan Api
Bambang mengatakan, berdasarkan informasi BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung mulai Agustus hingga Oktober 2026.
Sementara itu, curah hujan diprediksi kembali meningkat pada November hingga Desember. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan potensi karhutla di wilayah OKU Timur.
Bambang juga menyebut fenomena El Nino secara periodik diperkirakan berpotensi kembali terjadi pada 2027. Namun, prediksi tersebut masih bersifat sementara dan menunggu perkembangan data klimatologi.
Menurutnya, cuaca yang semakin panas menyebabkan vegetasi, semak belukar, hingga lahan kosong menjadi mudah terbakar. Karena itu, upaya pencegahan menjadi fokus utama BPBD dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi.
"Beberapa wilayah di OKU Timur masih memiliki kawasan rawa dan lahan yang mudah mengering saat musim kemarau. Daerah-daerah seperti ini menjadi perhatian khusus karena api lebih cepat menyebar ketika kondisi angin cukup kencang," ujarnya.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla, BPBD OKU Timur akan menggelar rapat koordinasi lintas sektoral bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Rapat tersebut akan membahas pemetaan wilayah rawan karhutla, kesiapan personel lintas instansi, pola pencegahan, hingga langkah penanganan apabila terjadi kebakaran maupun pascakebakaran.
"Penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kami ingin memastikan setiap instansi memahami tugasnya sehingga respons di lapangan bisa lebih cepat dan terkoordinasi," kata Bambang.
Selain koordinasi lintas sektor, BPBD melakukan pemantauan hotspot setiap hari sebagai sistem peringatan dini. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan wilayah yang harus mendapat pengawasan lebih intensif.
BPBD juga menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) selama 24 jam dengan peralatan yang tersedia. Tim tersebut akan segera bergerak apabila menerima laporan atau mendeteksi potensi kebakaran.
"Kami siaga selama 24 jam. Begitu ada laporan atau terdeteksi potensi kebakaran, personel langsung bergerak melakukan penanganan awal agar api tidak meluas," tegas Bambang.
Ia mengimbau masyarakat maupun perusahaan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Selain melanggar aturan, pembakaran lahan saat musim kemarau sangat berisiko memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.
Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan percikan api serta segera melapor kepada pemerintah desa atau BPBD apabila menemukan titik api.
"Karhutla sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Pencegahan akan jauh lebih efektif apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak membakar lahan. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga OKU Timur agar terhindar dari bencana karhutla," pungkas Bambang.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com