TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK – Bencana kekeringan mulai meluas di sejumlah wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Hingga awal Agustus 2026, sedikitnya 15 desa yang tersebar di lima kecamatan tercatat mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Untuk membantu masyarakat yang terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek terus menggencarkan pendistribusian atau dropping air bersih setiap hari ke desa-desa yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan penyaluran bantuan air bersih telah berlangsung selama hampir satu pekan terakhir.
Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BPBD Trenggalek, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas Kementerian PUPR, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Kecamatan yang paling banyak terdampak kekeringan saat ini adalah wilayah Kecamatan Panggul," ujar Triadi saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).
Baca juga: Video Kericuhan Saat Konser Musik Diduga di Tulungagung, Penonton Bertengkar di Tengah Acara
Menurut Triadi, BPBD memfokuskan penanganan di Kecamatan Panggul karena menjadi daerah dengan tingkat kekeringan paling tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan warga, pihaknya mengerahkan dua armada truk tangki air setiap hari.
"Untuk proses pendistribusiannya, kami mengerahkan dua armada tangki dengan rata-rata pengiriman minimal 10 ribu liter per hari," ulasnya.
Pasokan air bersih tersebut disalurkan ke sejumlah desa terdampak di Kecamatan Panggul maupun wilayah yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Dongko.
BPBD Trenggalek juga mengingatkan masyarakat agar mulai mengantisipasi dampak musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 berpotensi berlangsung lebih panjang sehingga masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan mengoptimalkan fasilitas penampungan air yang tersedia.
"Kami mengimbau warga agar mengantisipasi kemarau panjang ini dengan menghemat air," katanya.
Selain penanganan kekeringan, BPBD juga berkoordinasi dengan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air seperti bendungan dan sarana penampungan lainnya.
"Di sisi lain, kami menjalin kerja sama dengan Perum Perhutani untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," paparnya.
Ribuan Warga Terima Bantuan Air Bersih
Berdasarkan data BPBD Trenggalek, penyaluran air bersih mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pada Sabtu (1/8/2026), tim gabungan menyalurkan sebanyak 20.000 liter air bersih kepada 1.558 jiwa atau 554 kepala keluarga yang tersebar di lima desa di Kecamatan Panggul, yakni Desa Nglebeng, Panggul, Ngrencak, Kertosono, dan Besuki.
Bantuan air bersih dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama BPBD Jawa Timur tersebut didistribusikan langsung ke permukiman warga dan sejumlah bak penampungan desa.
Sehari berikutnya, Minggu (2/8/2026), BPBD Trenggalek kembali melakukan dropping air bersih bersama unsur TNI, Polri, dan perangkat desa di Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul, serta Desa Cakul, Kecamatan Dongko.
"Kegiatan pendistribusian air bersih di lapangan berlangsung tertib dan disambut antusias oleh warga setempat. Karena mereka mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat menyusutnya sumber air baku," imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui BPBD mengapresiasi dukungan dari Pemprov Jawa Timur, TNI, Polri, serta berbagai elemen masyarakat yang ikut terlibat dalam penanganan dampak kekeringan.
Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
"Sinergi lintas sektor diharapkan terus terjaga demi memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak kekeringan dapat terpenuhi," tutup Triadi.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)