TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Sebanyak 40 sekolah di wilayah Kota Padang, Sumatera Barat, dilaporkan terkena dampak banjir parah akibat luapan air sungai yang dipicu cuaca ekstrem.
Kepastian jumlah fasilitas pendidikan yang terdampak bencana tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, saat meninjau lokasi sekolah di SMPN 41 Padang, Selasa (4/8/2026).
Puluhan bangunan sekolah tersebut tergenang air hingga mengalami kerusakan fisik akibat tingginya endapan lumpur dan material banjir.
Dari puluhan tempat pendidikan yang diterjang banjir, bangunan SMPN 41 Padang tercatat sebagai lokasi dengan kerusakan terparah.
Fadly Amran menjelaskan bahwa posisi area sekolah yang berada tepat di tepi aliran sungai menjadi pemicu utama parahnya dampak yang ditimbulkan.
"Sekolah yang terdampak banjir saat ini ada sekitar 40 sekolah. Yang terdampak cukup parah itu SMPN 41 Padang yang kita kunjungi hari ini," ujar Fadly di lokasi peninjauan.
Baca juga: Ombudsman Sumbar Soroti Pendanaan Pendidikan Komite Sekolah, Rawan Pungli dan Korupsi
Akibat terendam air dan tertimbun sedimen banjir dalam jumlah besar, seluruh aktivitas Proses Belajar Mengajar (PBM) di 40 sekolah tersebut terpaksa dihentikan sementara.
Pemerintah Kota Padang mengambil langkah cepat meliburkan para siswa demi keselamatan serta kelancaran proses pembersihan fasilitas sekolah.
Fadly Amran menegaskan, pihak pemkot tengah mengupayakan percepatan pemulihan agar bangunan sekolah bisa kembali digunakan secara aman.
"Aktivitas sekolah yang terdampak, PBM-nya sudah diliburkan untuk penanganan ini. Kita usahakan dipercepat pembersihannya sehingga anak-anak bisa segera kembali belajar," tegas Fadly.
Baca juga: Aktivitas Belajar Lumpuh Usai Banjir, SMPN 41 Padang Butuh Air dan Alat Penyedot
Guna mengatasi kerusakan puluhan fasilitas pendidikan ini, Pemkot Padang mendorong adanya program rehabilitasi fisik yang menyasar gedung-gedung sekolah terdampak.
Perbaikan bangunan sekolah tersebut rencananya akan dipercepat melalui kolaborasi anggaran dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga anggaran kota.
Terkait peta persebaran banjir, luapan air dilaporkan meluas di 15 titik lokasi di Kota Padang.
Aliran air paling parah berasal dari limpahan Sungai Guo Batang Kuranji yang membentang deras hingga menerjang kawasan Dadok Tunggul Hitam.
Meski fokus pemulihan puluhan sekolah sedang berjalan, pemantauan BMKG menunjukkan tren cuaca di Kota Padang diprediksi mulai membaik dan relatif landai hingga akhir minggu.
Guna mengantisipasi dampak lanjutan, Pemkot Padang mengimbau seluruh warga dan komunitas sekolah untuk tetap siaga menghadapi potensi anomali cuaca di wilayah rawan bencana.
Setiap pijakan membutuhkan kecermatan ekstra agar tidak tergelincir di atas hamparan lumpur pekat yang melapisi pelataran hingga lorong-lorong kelas SMP Negeri 41 Padang.
Sisa-sisa air banjir masih menggenang di beberapa titik, memantulkan bayangan bangunan sekolah yang muram.
Tidak ada dering bel masuk kelas atau riuh suara proses belajar mengajar. Pagi itu, pakaian seragam sekolah yang bersahaja berganti dengan baju ala kadarnya yang kini berlepotan tanah cokelat.
Ember, sekop, dan serokan air menjadi pengganti buku dan pena dalam aksi gotong royong darurat pembersihan sekolah.
Baca juga: Update Banjir Dadok Tunggul Hitam: Sejumlah Rumah Masih Terendam, Warga Mulai Bersihkan Lumpur
Bencana itu datang melanda hanya sehari sebelumnya. Senin siang, sekitar pukul 12.30 WIB, banjir bandang secara mendadak menerjang kawasan sekolah.
Tanpa sempat dihadang, air bah yang membawa sedimen lumpur tebal menerobos masuk dan menerjang seluruh ruangan tanpa terkecuali.
"Kedalaman air kali ini mencapai sekitar 40 centimeter, atau setinggi lutut orang dewasa. Seluruh ruangan kena," tutur Kepala SMPN 41 Padang, Amridas, saat ditemui di lokasi sekolah, Selasa (4/8/2026).
Bagi Amridas, bau amis lumpur dan kehancuran fasilitas belajar ini bukanlah pemandangan baru.
Baca juga: Update Banjir Kampung Guo Padang: Kondisi Air Surut, Warga Sempat Tak Bisa Mengungsi
Musibah ini menambah daftar panjang riwayat bencana yang harus ia hadapi selama memimpin sekolah tersebut.
Sejak ia dilantik dan menjabat di SMPN 41 Padang, ini merupakan kejadian banjir bandang ketiga yang melanda.
Peristiwa serupa sebelumnya pernah menerjang pada April 2024, dilanjutkan kembali pada November 2025, hingga akhirnya berulang pada Agustus 2026.
Dampak dari hempasan air bah tersebut memaksa aktivitas belajar mengajar (PBM) dihentikan total.
Pihak sekolah mengambil keputusan untuk meliburkan kegiatan tatap muka hingga kondisi lingkungan sekolah dinilai aman dan layak kembali.
Meski demikian, tidak semua siswa berdiam diri di rumah. Para murid yang tempat tinggalnya selamat dari dampak banjir dipanggil nuraninya untuk datang ke sekolah. Mereka bahu-membahu bersama para guru membersihkan sisa-sisa material banjir.
Mengenai kepastian kapan kegiatan belajar mengajar dapat dimulai kembali, Amridas mengaku belum bisa memberikan tanggal pasti.
Keberlanjutan PBM sepenuhnya bergantung pada kecepatan pemulihan fisik sekolah pascabencana.
"Tergantung situasi, belum bisa dipastikan kapan PBM dimulai. Jika penanganan cepat selesai, tentu proses belajar mengajar juga bisa cepat kita mulai kembali," jelas Amridas.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar Selasa 4 Agustus 2026: Waspada Hujan Lebat di Solok Selatan
Namun, upaya pembersihan masif tersebut tidak berjalan mulus karena terbentur kendala krusial. Pasokan air bersih di lingkungan sekolah saat ini padam total, membuat proses pembilasan sedimen lumpur yang menempel keras di dinding dan lantai menjadi sangat sulit.
Di tengah keterbatasan air, pihak sekolah mencatat sejumlah kebutuhan yang sangat mendesak. Keberadaan alat penyedot lumpur menjadi prioritas utama agar pembersihan kelas tidak memakan waktu berminggu-minggu.
Selain pengerjaan fisik bangunan, pembenahan sarana belajar juga mendesak untuk dilakukan. Banyak bangku dan meja belajar murid yang mengalami kerusakan berat akibat rendaman air dan beban tebal lumpur.
Di balik duka akibat kerusakan material tersebut, Amridas bersyukur tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Keputusan cepat yang diambil jajaran pendidik beberapa menit sebelum musibah menjadi penyelamat puluhan nyawa anak didik.
Kemarin, melihat debit dan arus sungai di dekat sekolah yang melonjak drastis, pihak sekolah segera memulangkan para siswa.
Hanya selang 20 menit setelah para murid melangkahkan kaki keluar gerbang, banjir bandang dahsyat langsung menghantam area sekolah.
Tanggung jawab para guru pun tidak berhenti saat murid dipulangkan. Para pendidik bertahan di sekolah hingga pukul 21.00 WIB untuk berkoordinasi dan memastikan seluruh siswa telah sampai di rumah masing-masing dengan selamat.
Menatap masa depan sekolah, Amridas berharap penanganan bencana ini tidak lagi sekadar pemadam kebakaran pasca-kejadian. Ia mendorong adanya langkah konkret dari pihak berwenang untuk merestrukturisasi bangunan sekolah.
Ia meminta agar bangunan sekolah ditinggikan dan ditata ulang secara terencana, bukan sekadar "sekolah tumbuh" yang terus rentan dihantam banjir berulang.
Selain penataan bangunan, infrastruktur penyelamat lingkungan juga menjadi harga mati.
Pembangunan batu bronjong di sepanjang aliran sungai dekat sekolah sangat diperlukan agar debit air tetap mengalir normal dan tidak lagi meluap merusak tempat anak-anak menimba ilmu.(*)