Pangandaran Cemas, Siswa SD-SMP Mulai Terpapar Rokok dan Alkohol
Dedy Herdiana August 04, 2026 04:35 PM

 

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Fenomena pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang mulai terpapar perilaku negatif menjadi perhatian serius di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol hingga perilaku menyimpang lain disebut mulai ditemukan di kalangan anak usia sekolah.

Kondisi itu memicu keresahan para orang tua yang khawatir anak-anak mereka ikut terpengaruh oleh pergaulan yang tidak sehat.

Seorang Ibu di Kecamatan Padaherang, Mardiana (33), mengaku prihatin karena masih menemukan anak-anak yang diduga merokok di lingkungan sekitar sekolah.

"Sudah banyak. Kadang mereka merokok di pojok sekolah atau di kebun dekat lingkungan sekolah. Padahal usianya masih kecil," ujar Mardiana kepada Tribun Jabar di rumahnya, Selasa (4/8/2026) menjelang siang.

Baca juga: Kasus Kekerasan Seksual Anak di Pangandaran Meningkat, Pelaku Mayoritas Orang Terdekat

Ia mengaku khawatir kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar akan terbawa pergaulan negatif tersebut.

"Jangan sampai anak saya ikut-ikutan. Memang harus benar-benar dijaga. Tapi saat mereka berada di luar rumah atau di sekolah, pengawasan dari pihak sekolah juga harus lebih ketat," katanya.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran, Soleh Supriadi, mengakui fenomena itu tidak bisa diabaikan.

"Saya tidak bisa menutup mata. Di era sekarang, dengan perkembangan zaman, memang ada anak-anak yang masih duduk di bangku SD maupun SMP melakukan hal-hal yang tidak seharusnya," ucap Soleh.

Sebagai langkah pencegahan, Disdikpora akan menggandeng berbagai pihak untuk melakukan pembinaan kepada pelajar di seluruh wilayah Pangandaran.

Menurutnya, pemerintah telah berkoordinasi dengan para camat, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), Koramil, Polsek hingga pemerintah desa agar pembinaan dilakukan secara serentak.

"Kami sudah berembuk. Ke depan akan berkolaborasi dengan camat, Forkopimcam, Koramil, Polsek, dan kepala desa untuk melakukan pembinaan khusus kepada anak-anak usia sekolah dasar," ujarnya.

Program tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2026 di seluruh kecamatan, mulai dari Mangunjaya hingga Cimerak.

"Dengan langkah ini kami berharap bisa meminimalisasi pergaulan yang tidak semestinya dilakukan oleh anak-anak sekolah, seperti merokok maupun perilaku negatif lainnya," ucapnya.

Soleh menilai derasnya arus digitalisasi turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku anak. Akses terhadap telepon genggam membuat anak lebih mudah meniru berbagai konten tanpa memahami dampaknya.

"Sekarang hampir semua anak sudah mengenal handphone. Mereka bisa meniru hal-hal yang sebenarnya tidak layak ditiru," kata Soleh.

Untuk itu, ia menegaskan upaya mencegah kenakalan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau pemerintah. 

Peran orang tua dinilai menjadi kunci utama dalam membimbing dan mengawasi anak, baik di rumah maupun saat bergaul di lingkungan masyarakat.

"Pengawasan dan pendampingan dari keluarga menjadi benteng pertama agar anak-anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan negatif," ujarnya. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.