Mengenal Oversharing: Terlalu Banyak Bercerita, Wajar atau Tidak?
Hari Susmayanti August 04, 2026 05:03 PM

TRIBUNJOGJA.COM- Pernah tidak baru beberapa menit ngobrol dengan seseorang, tapi tiba-tiba dia sudah bercerita tentang masalah keluarga, kisah cintanya yang kandas, sampai pengalaman pahit yang belum pernah kamu tanyakan?

Atau justru kamu sendiri pernah mengalaminya? Niat awalnya cuma ingin mengobrol santai, tetapi entah bagaimana akhirnya semua unek-unek keluar begitu saja. 

Setelah sampai di rumah, baru muncul pikiran, "Lho, kok aku tadi cerita sebanyak itu, ya?"

Fenomena ini dikenal sebagai oversharing, yaitu kecenderungan membagikan informasi pribadi secara berlebihan kepada orang lain, baik secara langsung, lewat chat, maupun di media sosial. 

Banyak orang melakukannya tanpa sadar.

Oversharing Bukan Cuma Soal Media Sosial

Selama ini, oversharing sering dikaitkan dengan kebiasaan mengunggah kehidupan pribadi di media sosial. 

Padahal, fenomena ini juga sering terjadi dalam percakapan sehari-hari.

Misalnya, baru bergabung di organisasi atau baru kenal teman kuliah, tetapi sudah menceritakan konflik keluarga, trauma masa kecil, atau masalah asmara secara detail. 

Hal serupa juga bisa terjadi lewat chat atau grup percakapan, ketika seseorang membagikan cerita yang sangat personal kepada orang yang belum terlalu dekat.

Kenapa Seseorang Bisa Oversharing?

20260408- Oversharing
ILUSTRASI- seseorang menceritakan pengalaman pribadinya kepada teman. (Generated by ChatGPT)

Tidak sedikit orang yang menganggap oversharing sebagai tanda haus perhatian. Padahal, penyebabnya jauh lebih beragam.

Menurut berbagai penelitian, beberapa alasan seseorang melakukan oversharing antara lain:

  • Ingin merasa didengar, dipahami, atau mendapatkan dukungan emosional saat sedang menghadapi tekanan.
  • Menganggap membuka diri sejak awal bisa membuat hubungan terasa lebih akrab. Namun, jika dilakukan terlalu cepat kepada orang yang belum dekat, percakapan justru bisa terasa canggung.
  • Merasa kesepian. Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih terdorong untuk menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi.
  • Membutuhkan validasi dari orang lain. Sebagian orang berharap cerita yang dibagikan dapat membuat mereka merasa diterima atau dimengerti.
  • Terbiasa mengekspresikan emosi secara terbuka. Kebiasaan ini juga bisa membuat seseorang tanpa sadar membagikan terlalu banyak informasi pribadi.


Oversharing Berbeda dengan Curhat yang Sehat

Curhat adalah hal yang wajar dan bahkan bisa membantu mengurangi beban pikiran jika dilakukan kepada orang yang dipercaya. 

Namun, oversharing lebih berkaitan dengan batas.

Perbedaannya bukan pada banyaknya cerita, melainkan kepada siapa cerita itu disampaikan, kapan waktunya, dan apakah hubungan tersebut sudah cukup dekat. 

Misalnya, mengeluhkan hari yang melelahkan kepada sahabat tentu berbeda dengan menceritakan seluruh konflik keluarga kepada seseorang yang baru dikenal beberapa menit.

Tidak Selalu Buruk, tetapi Perlu Mengenal Batas

Membuka diri merupakan bagian penting dalam membangun hubungan. 

Namun, kepercayaan biasanya tumbuh secara bertahap, begitu pula cerita yang dibagikan. 

Tidak semua orang yang baru dikenal perlu mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.

Mengenali batas bukan berarti menutup diri. Justru dengan memahami kapan, kepada siapa, dan seberapa banyak bercerita, seseorang bisa merasa lebih nyaman sekaligus menjaga hubungan tetap sehat. 

Jadi, kalau suatu saat kamu merasa, "Kok aku tadi cerita kebanyakan, ya?", bisa jadi kamu hanya sedang membutuhkan tempat untuk didengar, tetapi tetap penting belajar menentukan batas dalam berbagi cerita.

Tidak Hanya Berdampak pada Diri Sendiri

20260408- Mendengarkan cerita
ILUSTRASI- lawan bicara yang kebingungan merespons cerita yang terlalu personal. (Generated by ChatGPT)

Saat sedang larut dalam emosi, seseorang sering kali tidak menyadari bahwa ia telah menceritakan hal-hal yang sebenarnya sangat pribadi. 

Setelah perasaan mulai mereda, barulah muncul rasa malu atau penyesalan karena merasa sudah membuka diri terlalu jauh.

Di sisi lain, lawan bicara juga bisa merasa bingung harus merespons. 

Apalagi jika hubungan yang terjalin masih sebatas kenalan. Mereka mungkin ingin membantu, tetapi tidak tahu harus berkata apa karena topik yang dibahas terlalu berat.

Dalam beberapa situasi, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi hubungan. 

Bukan karena orang lain tidak peduli, melainkan karena setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda saat mendengarkan cerita pribadi.

Oversharing Berbeda dengan Trauma Dumping

Belakangan, istilah trauma dumping juga mulai sering muncul di media sosial. Meski terdengar mirip, keduanya bukan hal yang sama.

Oversharing adalah kecenderungan membagikan terlalu banyak informasi pribadi.

Sementara itu, trauma dumping lebih mengarah pada kebiasaan meluapkan pengalaman traumatis atau beban emosional yang sangat berat kepada orang lain tanpa melihat apakah lawan bicara siap menerimanya.

Bukan berarti seseorang tidak boleh membahas pengalaman traumatis. 

Namun, penting juga mempertimbangkan kondisi orang yang mendengarkan. 

Sebab, tidak semua orang memiliki kapasitas emosional untuk menerima cerita yang berat secara tiba-tiba.

Jadi, Harus Memendam Semua Cerita?

Jawabannya tentu tidak.

Memendam semua cerita dan perasaan sendiri juga akan berdampak buruk bagi diri sendiri.

Jika sedang menghadapi masalah, bercerita kepada orang yang dipercaya justru dapat membantu mengurangi beban dan membuat sesorang merasa lebih didukung.

Yang perlu diperhatikan adalah memilih orang yang tepat, waktu yang tepat, serta memastikan lawan bicara memang bersedia mendengarkan. 

Kalimat sederhana seperti, "Kamu lagi ada waktu buat dengerin aku cerita, nggak?" bisa menjadi bentuk menghargai batas orang lain.

Cara Menghindari Oversharing Tanpa Harus Menutup Diri

20260408- Menulis Jurnal
ILUSTRASI- menulis jurnal sebagai cara mengekspresikan perasaan sebelum memutuskan untuk curhat. (Generated by ChatGPT)

Kalau kamu sering merasa baru sadar sudah kebanyakan bercerita, jangan khawatir. Kebiasaan ini bisa dilatih sedikit demi sedikit.

Beberapa hal yang bisa dicoba antara lain:

  • Kenali hubunganmu dengan lawan bicara. Tidak semua orang perlu mengetahui cerita yang sama.
  • Beri waktu sebelum menceritakan hal yang sangat pribadi. Biarkan kepercayaan tumbuh secara alami.
  • Perhatikan respons lawan bicara. Jika terlihat tidak nyaman atau kesulitan merespons, mungkin sudah waktunya menghentikan cerita.
  • Saat sedang sangat emosional, coba tuliskan dulu perasaanmu di jurnal atau catatan pribadi sebelum memutuskan untuk curhat.

Berbagi Cerita Itu Perlu, Menjaga Batas Juga Penting

Tidak ada yang salah dengan ingin didengar. Semua orang pasti pernah berada di titik ketika mereka membutuhkan tempat untuk bercerita.

Namun, hubungan yang sehat tidak hanya dibangun dari keberanian untuk membuka diri, tetapi juga dari kemampuan menghargai batas, baik batas diri sendiri maupun batas orang lain. 

Dengan memilih waktu, tempat, dan orang yang tepat, curhat bisa menjadi pengalaman yang melegakan tanpa membuat diri sendiri atau lawan bicara merasa terbebani.

Jadi, sebelum mulai menceritakan sesuatu yang sangat personal, tidak ada salahnya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, "Apakah ini memang waktu dan orang yang tepat?"

Pertanyaan sederhana itu bisa membantu kita berbagi cerita dengan lebih nyaman, sekaligus menjaga hubungan tetap sehat.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.