SURYA.co.id, SURABAYA – Aroma masakan mulai memenuhi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Asemrowo 004 Surabaya sejak pagi hari.
Di tempat inilah ribuan porsi makanan disiapkan setiap hari untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari pelajar hingga kelompok rentan seperti balita serta ibu hamil dan menyusui.
Baru beroperasi sekitar satu bulan, SPPG yang dikelola Yayasan Tangan Berbagi Kasih itu kini mampu memproduksi sekitar 1.700 porsi makanan bergizi per hari.
Ketua Yayasan Tangan Berbagi Kasih, Fera Andriana, mengatakan operasional dapur MBG tersebut berjalan dengan mengikuti standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Berbagai fasilitas disiapkan, mulai dari dapur produksi, ruang penyimpanan bahan baku, area pengemasan, hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
"Kami menyiapkan seluruh fasilitas sesuai standar, mulai dari dapur, tempat penyimpanan bahan makanan, pengemasan, sampai IPAL. Alhamdulillah semuanya mendapat respons yang baik," ujar Fera saat dikonfirmasi SURYA.co.id, di Surabaya, Selasa (4/8/2026).
Baca juga: Warga Surabaya Usul Menu MBG Dibedakan Sesuai Usia, Ini Respon Anggota DPRD Jatim
Porsi makanan yang disiapkan juga dibedakan sesuai kebutuhan penerima manfaat.
Porsi besar diberikan untuk ibu hamil, ibu menyusui, siswa SD kelas 4–6, serta pelajar SMP. Sementara porsi kecil diperuntukkan bagi siswa SD kelas 1–3, TK, kelompok bermain, dan balita.
"Perbedaannya terutama pada jumlah nasi. Untuk lauk tetap kami jaga agar tidak berbeda jauh karena kebutuhan gizi tetap menjadi perhatian utama," jelasnya.
Dalam penyediaan makanan setiap hari, tim dapur juga berusaha menjaga variasi menu agar penerima manfaat tidak merasa bosan.
Menurut Fera, olahan ayam dan telur menjadi menu yang paling banyak disukai anak-anak.
Namun, karena telur menjadi salah satu bahan yang cukup sering digunakan, tim dapur harus kreatif mengolahnya dalam berbagai bentuk.
"Anak-anak biasanya paling suka ayam dan telur. Karena telur cukup sering menjadi menu, kami buat variasi olahan agar mereka tetap menikmati makanan yang diberikan," katanya.
Kualitas operasional SPPG Asemrowo juga mendapat perhatian dari Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS).
BHS memastikan seluruh proses, mulai dari penyimpanan bahan makanan, proses memasak, pengemasan, hingga pengelolaan limbah berjalan sesuai standar kebersihan dan keamanan pangan.
"Saya datang tanpa memberikan informasi terlebih dahulu. Ternyata kondisinya bersih dan sesuai SOP. Semua bagian saya cek, mulai dari IPAL, penyimpanan bahan, proses memasak, hingga pengemasan," ujar Bambang Haryo.
Ia bahkan menilai kualitas dapur tersebut dapat disejajarkan dengan standar restoran maupun hotel berbintang.
"Kalau melihat proses dan kebersihannya, kualitas dapur ini bisa bersaing dengan restoran maupun hotel berbintang. Saya juga mencoba langsung makanannya dan rasanya sangat baik," katanya.
BHS menilai SPPG Asemrowo layak menjadi contoh pengelolaan dapur MBG karena seluruh proses dinilai telah memenuhi standar yang ditetapkan.
Menurutnya, Program MBG memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.
Ia mencontohkan, dengan anggaran sekitar Rp10 ribu per porsi, anak-anak tidak hanya memperoleh makanan pokok dan lauk, tetapi juga sayur serta buah.
"Kalau uang Rp10 ribu diberikan sebagai uang saku, belum tentu anak mendapatkan makanan lengkap. Melalui program ini, mereka memperoleh nasi, lauk, sayur, dan buah yang lebih seimbang," ujarnya.
Ia berharap jumlah SPPG di Surabaya terus bertambah sehingga semakin banyak masyarakat, terutama anak-anak sekolah, mendapatkan akses makanan bergizi.
Pertumbuhan jumlah SPPG di Surabaya terus berlangsung. Berdasarkan data hingga 17 Juni 2026, terdapat 148 SPPG di Kota Pahlawan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 117 SPPG telah beroperasi, dengan 51 di antaranya sudah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Sementara sejumlah SPPG lainnya masih dalam proses pemenuhan persyaratan.
BGN juga terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG. Dapur yang tidak memenuhi standar operasional dapat dikenai penghentian sementara hingga perbaikan dilakukan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan penertiban dilakukan untuk menjaga kualitas program, terutama terkait kebersihan, sanitasi, kualitas makanan, dan kelayakan fasilitas pendukung.
"SPPG yang ditangguhkan benar-benar dihentikan operasionalnya sampai memenuhi standar yang telah ditetapkan. Ini merupakan bentuk ketegasan kami dalam menjaga kualitas Program MBG," tegas Sudaryono.
Selain penertiban terhadap dapur, BGN juga memberikan sanksi kepada pegawai yang terbukti melanggar aturan, mulai dari penangguhan pegawai non-ASN hingga proses terhadap pelanggaran disiplin berat.