PERIODE Panen Bawang Merah & Cabai Sebabkan Deflasi di Bali pada Juli 2026, Simak Penjelasannya!
Anak Agung Seri Kusniarti August 04, 2026 07:03 PM

TRIBUN-BALI.COM - Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, tanggal 3 Agustus 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Juli 2026 mengalami deflasi sebesar minus 0,51 persen (mtm), berbeda arah dibandingkan bulan Juni yang mengalami inflasi sebesar 0,71 % (mtm).

Deflasi bulanan Provinsi Bali, dipengaruhi masuknya periode panen beberapa komoditas hortikultura,
di antaranya bawang merah dan aneka cabai di Bali maupun secara nasional.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan menurun dari 3,27 % (yoy) pada Juni 2026 menjadi 2,42 % (yoy). Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,88 % serta berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 % .

Baca juga: INFLASI Tertinggi di Kota Denpasar, TPID Tawarkan Strategi 4K, Kondisi Bali-Nusra di Atas Nasional!

Baca juga: Gallery Kohinoor Hadirkan Program Undian Berhadiah Sambut HUT Ke-81 Proklamasi Kemerdekaan RI

Secara spasial, 4 (empat) kabupaten/kota IHK di Bali mengalami deflasi bulanan pada Juli 2026, yakni Kabupaten
Buleleng dengan deflasi bulanan terendah sebesar  minus 0,91 % (mtm) atau 1,89 % (yoy).

Selanjutnya, Kabupaten Badung mengalami deflasi bulanan sebesar minus 0,59 % (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,04 % (yoy), diikuti Kabupaten Tabanan dengan deflasi bulanan sebesar minus 0,56 % (mtm), atau inflasi tahunan sebesar 2,54 % (yoy), dan selanjutnya Kota Denpasar dengan deflasi bulanan sebesar minus 0,30 % (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,77 % (yoy). 

Berdasarkan komoditas, secara bulanan deflasi pada Juli 2026 bersumber dari penurunan harga cabai rawit, bawang merah, cabai merah, daging ayam ras, dan buncis. Deflasi yang lebih rendah tertahan oleh peningkatan harga bensin, beras, dan kenaikan biaya sekolah beberapa jenjang pendidikan (TK, SD, SMP, SMA), Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya
melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1 % .

Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode high season wisatawan mancanegara (Juli – September), ketidakpastian cuaca yang disertai potensi El Nino kuat yang dapat memengaruhi produksi pertanian, serta tetap tingginya biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan
inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Adapun langkah-langkah implementasinya, salah satunya melalui kegiatan Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) Balinusra 2026, termasuk di antaranya Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 % ±1 % . (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.