Ribuan Siswa Didorong Jadi Wirausaha Muda Lewat Program Student Company
rival al manaf August 04, 2026 07:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tantangan dunia pendidikan kini tidak hanya mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga menyiapkan generasi muda yang memiliki keterampilan berwirausaha dan mampu menjawab kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang.

Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia, pembelajaran berbasis pengalaman dinilai menjadi salah satu pendekatan yang dibutuhkan untuk membentuk karakter, kepemimpinan, serta pola pikir kewirausahaan sejak bangku sekolah.

Hal itu terlihat dalam program Student Company yang dijalankan Prestasi Junior Indonesia (PJI) melalui Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) dan Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program (SCYEP), dengan dukungan Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, Starbucks Indonesia, dan The Starbucks Foundation.

Sebanyak 1.173 siswa SMA dan SMK dari 45 sekolah di berbagai daerah di Indonesia berhasil membangun 45 perusahaan siswa (student companies) dan menghasilkan pendapatan kolektif lebih dari Rp483 juta.

Baca juga: Pemkot Semarang Libatkan BPOM Tangani Dugaan Keracunan MBG, Hasil Laboratorium Masih Ditunggu

Baca juga: Identitas Lansia Korban Tabrak Lari di Brebes, Subeqi Meninggal Usai Dapat Perawatan

Melalui program tersebut, para siswa memperoleh pengalaman langsung mendirikan dan mengelola bisnis. Mereka belajar mengidentifikasi kebutuhan pasar, mengembangkan produk dan merek, menyusun strategi pemasaran, mengelola keuangan, hingga mempresentasikan ide bisnis kepada pelanggan maupun investor.

Ketua Pengurus Prestasi Junior Indonesia, Pribadi Setiyanto, mengatakan pendidikan kewirausahaan perlu memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik, bukan sekadar pembelajaran di ruang kelas.

"Indonesia tidak kekurangan generasi muda kreatif. Tantangan kita adalah menghadirkan lebih banyak generasi yang mampu mengubah kreativitas menjadi inovasi, inovasi menjadi produk, dan produk menjadi nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, Student Company tidak kami rancang sebagai simulasi bisnis, melainkan sebagai ruang belajar yang mempertemukan pendidikan, dunia usaha, dan mentor profesional agar pelajar memperoleh pengalaman nyata membangun usaha sekaligus mengembangkan karakter, kepemimpinan, dan pola pikir kewirausahaan," ujarnya dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).

Program tersebut berpuncak pada Prestasi Junior Indonesia Company of the Year Competition (PJI COY) 2026 yang digelar di Senayan Park, Jakarta, Sabtu (1/8/2026) lalu. 

Kompetisi itu mempertemukan perusahaan-perusahaan siswa terbaik yang lahir dari proses pembelajaran kewirausahaan berbasis pengalaman.

Pelaksanaan program tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional. 

Berdasarkan Statistik Ekonomi Kreatif 2025, sektor ini menyumbang Rp1.757,87 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan pertumbuhan 6,86 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen, serta menyerap 27,4 juta tenaga kerja.

Pribadi menilai kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat pembelajaran yang mampu menghubungkan kreativitas dengan kebutuhan dunia kerja dan industri.

Semangat tersebut tercermin dalam sembilan perusahaan siswa finalis PJI Company of the Year 2026.

Berangkat dari berbagai persoalan di sekitar mereka, para pelajar menghadirkan solusi melalui pemanfaatan material lokal, penerapan ekonomi sirkular, serta inovasi berbasis desain.

Pelepah pisang diolah menjadi bioleather, serat daun nanas dimanfaatkan sebagai perlengkapan rumah tangga, sementara tempurung kelapa, plastik daur ulang, dan material alami lainnya dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah yang memiliki peluang di pasar.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, mengatakan pembentukan jiwa kewirausahaan perlu dimulai sejak usia sekolah agar generasi muda siap menghadapi tantangan masa depan.

"Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur. Namun menjadi entrepreneur bukan hanya sekadar mendirikan perusahaan, melainkan memiliki jiwa wirausaha dan tujuan yang jelas. Program seperti Student Company menjadi tempat belajar yang sangat baik bagi generasi muda untuk mencoba, berkolaborasi, menerima masukan, bahkan mengalami kegagalan saat masih muda. Justru dari proses itulah mereka belajar untuk bangkit kembali, terus memperbaiki diri, dan membangun karakter dan ketangguhan yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur di masa depan," katanya.

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Presiden Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan pembelajaran kewirausahaan akan semakin efektif apabila peserta didik memperoleh pengalaman langsung dari dunia industri.

"Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami juga memberikan pengalaman, jejaring, serta keahlian para karyawan kami melalui pendekatan skill-based volunteering agar siswa memperoleh perspektif nyata mengenai bagaimana sebuah bisnis dibangun, dikembangkan, dan bertahan di tengah perubahan. Kami percaya upaya ini dapat melahirkan talenta yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan sekaligus menciptakan dampak positif bagi masyarakat," ujarnya.

Senada, Senior General Manager Corporate Communications PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks Indonesia), Avolina Raharjanti, menilai pendidikan kewirausahaan juga harus mengajarkan peserta didik memahami kebutuhan masyarakat sebagai dasar lahirnya inovasi.

"Melalui Starbucks Creative Youth Entrepreneurship Program, kami ingin membantu generasi muda memahami bahwa inovasi yang baik selalu berawal dari pemahaman terhadap pelanggan. Ketika kreativitas dipadukan dengan empati, pengalaman, dan keberanian untuk mencoba, mereka akan mampu membangun produk yang relevan, memberikan nilai bagi masyarakat, sekaligus memiliki daya saing di pasar," katanya.

Pada PJI Company of the Year 2026, sembilan perusahaan siswa mempresentasikan perjalanan bisnis mereka melalui pameran produk, presentasi perusahaan, serta wawancara dengan dewan juri yang berasal dari kalangan pengusaha, pemimpin perusahaan, dan profesional lintas industri.

Penilaian dilakukan berdasarkan inovasi produk, model bisnis, keberlanjutan, kepemimpinan, kinerja perusahaan, hingga proses pembelajaran yang diperoleh peserta selama membangun usaha.

Dua perusahaan siswa terbaik nantinya akan mewakili Indonesia pada JA Asia Pacific Company of the Year Competition 2027 yang akan digelar di Bali pada Maret 2027.

Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi pelajar Indonesia untuk memperkenalkan inovasi, kreativitas, serta kemampuan kewirausahaan mereka di tingkat Asia Pasifik. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.