Tak Ada Kepastian Kompensasi, Korban Kebakaran Aspol Panularan Solo Kini Pilih Sewa Kos
Vincentius Jyestha Candraditya August 04, 2026 08:14 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Para korban kebakaran Asrama Polisi (Aspol) Panularan di Solo, Jawa Tengah, mulai menyewa kos hingga ikut keluarga setelah tak ada kepastian mengenai kompensasi yang diharapkan.

Kepala Aspol Panularan Solo, Ngatmin mengungkapkan saat ini tersisa 2 kepala keluarga (KK) yang juga akan segera pindah.

“Warga udah pada mencar semua. Ada yang ikut anaknya, ada yang kos,” jelas Ngatmin, saat ditemui TribunSolo, Selasa (4/8/2026).

LUDES TERBAKAR - Suasana di sekitar lokasi kebakaran Asrama Polisi (Aspol) Panularan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (4/8/2026). Aspol Panularan mengalami musibah kebakaran pada Jumat (31/7/2026). Sejumlah korban kebakaran Aspol Panularan enggan menerima bantuan rumah susun (rusun) untuk hunian sementara. Para korban yang mayoritas lansia keberatan jika menempati lantai atas.
LUDES TERBAKAR - Suasana di sekitar lokasi kebakaran Asrama Polisi (Aspol) Panularan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (4/8/2026). Aspol Panularan mengalami musibah kebakaran pada Jumat (31/7/2026). Sejumlah korban kebakaran Aspol Panularan enggan menerima bantuan rumah susun (rusun) untuk hunian sementara. Para korban yang mayoritas lansia keberatan jika menempati lantai atas. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Dalam pantauan TribunSolo.com, balai pertemuan warga yang terakhir dipakai pengungsian kini sudah lengang.

Bahkan, hanya tersisa sejumlah barang-barang milik pengungsi yang sudah dikemas.

Sebelumnya mereka menempati guest house Loji Gandrung. Namun, pada Senin (3/8/2026) mereka diminta segera mengosongkan tempat tersebut.

Akhirnya mereka pun kembali menuju balai pertemuan di dekat lokasi kebakaran.

Baca juga: Korban Kebakaran Aspol Panularan Solo Minta Kompensasi untuk Kontrak Rumah Setahun

“Masih ada 2 keluarga di sini. Kalau kemarin di Loji Gandrung ada yang suplai. Di sini sendiri-sendiri,” tutur Ngatmin.

Pada saat di Loji Gandrung mereka dicukupi kebutuhannya. Namun, setelah pindah ke balai pertemuan mereka harus memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

“Udah ditolak, udah dibatasi dari kemarin harus keluar dari sana. Ya akhirnya ikut aturan. Dulu di Loji Gandrung pakaian sudah dibawa sini semua,” jelasnya.

Berharap Ada Kompensasi

Salah satu korban, Eko Agung Supriyadi, berharap adanya bantuan agar bisa memiliki tempat tinggal untuk berteduh anggota keluarganya.

Saat ini pemerintah belum menawarkan solusi untuk mengatasi masalah ini.

“Belum ada solusi. Sebenarnya kan kita minta kompensasi berapapun nominalnya minimal buat bisa ngontrak 1 tahun minimal itu ibarat ngontrak rumah 1 tahun biar kita bisa pulih lah. Harta benda kita kan habis semua enggak ada yang tersisa sama sekali,” jelasnya.

Menurutnya, jika ada semacam kompensasi, maka hal ini akan sangat membantu agar mereka segera pulih setelah mengalami bencana.

Baca juga: Korban Kebakaran Aspol Panularan Solo Tolak Tawaran Rusun, Respati Belum Berikan Alternatif Lain

“Kita kan belum punya rumah tinggal. Makanya kita minta tolong ada kompensasi berapa pun seenggaknya bisa buat sewa rumah di luar walaupun cuma 1 tahun dulu nanti kita kan bisa mungkin bisa mengembalikan ekonomi kita,” tuturnya.

Ia sendiri yang merupakan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus menghidupi ibu, istri, dan ketiga anaknya.

Dagangan kacamata yang menjadi sambilannya pun ludes dilalap api.

“Saya kan sedikit-sedikit jualan kacamata itu kacamata minus plus gitu. Kemarin saya habis kulakan satu minggu yang lalu sudah habis kebakar. Sudah memang enggak ada sama sekali enggak ada yang bisa kita bawa,” jelasnya.

Baca juga: Alasan Korban Kebakaran Aspol di Solo Tolak Tawaran Rusun, Banyak Lansia Kesulitan ke Lantai Atas

Warga lain juga senasib dengannya. Usaha-usaha mereka lenyap bersama dengan hangusnya 12 unit rumah.

“Tetangga sini usaha laundry juga kan mesin cucinya tiga habis semua itu kan,” ungkapnya.

Ia tak memungkiri adanya tawaran dari Pemerintah Kota Solo untuk menempati rumah susun (rusun). Namun, karena kamar yang ditawarkan berada di lantai atas mereka keberatan.

“Dari Pemkot menawari rusun di Baron, Mangkubumen, Jebres, Mojosongo, 5 kamar tapi di lantai atas semua. Padahal hampir rata-rata korban yang terdampak banyak lansianya. Otomatis kan nanti kalau naik ke atas pasti kan enggak kuat lah ibaratnya kayak gitu,” ungkapnya.

(*)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.