Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan kandidat obat penyakit infeksi berbasis kekayaan hayati Indonesia sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan farmasi nasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui International Symposium on Drug Discovery and Development di Jakarta, Selasa, yang mempertemukan peneliti Indonesia, Jepang, dan Malaysia untuk memperkuat fondasi ilmiah dalam pengembangan obat penyakit infeksi, mulai dari penemuan senyawa unggulan hingga pengujian keamanan praklinis.

"Indonesia adalah negara megabiodiversitas dengan potensi besar untuk menemukan senyawa terapeutik baru dari kekayaan sumber daya hayati. Namun, mentranslasikan potensi tersebut menjadi kandidat obat yang layak masih menjadi tantangan yang perlu dipercepat melalui riset dan pengembangan," kata Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian dalam keterangan tertulis.

Ia menilai penyakit infeksi masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan global. Indonesia sendiri masih menghadapi berbagai penyakit endemik seperti malaria, tuberkulosis, demam berdarah, dan amebiasis yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, globalisasi, serta meningkatnya resistansi patogen.

Amarulla menyebut penguatan kapasitas riset juga menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan farmasi nasional yang sejalan dengan prioritas strategis pemerintah. Saat ini, Indonesia masih mengimpor lebih dari 90 persen bahan baku dan bahan aktif farmasi yang digunakan oleh industri farmasi nasional.

Menurut dia, kondisi tersebut mendorong BRIN untuk terus mengoptimalkan pemanfaatan biodiversitas Indonesia sebagai sumber inovasi kesehatan.

"BRIN berkomitmen mengurangi ketergantungan tersebut dengan memanfaatkan biodiversitas Indonesia secara lebih optimal melalui pengembangan teknologi kesehatan dan inovasi yang mampu meningkatkan daya saing nasional sekaligus menjawab tantangan kesehatan masyarakat," ujarnya.

Amarulla menegaskan bahwa pengembangan obat merupakan proses yang kompleks sehingga tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.

Diperlukan kolaborasi lintas disiplin untuk menjembatani seluruh tahapan riset, mulai dari penemuan senyawa, optimasi senyawa unggulan (lead optimization), pengujian efektivitas in vivo, hingga evaluasi keamanan praklinis.

"Riset yang kita lakukan harus mampu menjembatani valley of death melalui riset translasional, optimasi senyawa unggulan, serta evaluasi keamanan dan efektivitas praklinis yang komprehensif," ucapnya.

"Kita perlu mentranslasikan biodiversitas lokal dan hasil riset tahap awal menjadi kandidat terapi yang layak bagi penyakit infeksi endemik sehingga memberikan dampak nyata bagi ketahanan kesehatan nasional dan berkontribusi pada penanganan krisis kesehatan global," tutur Amarulla Octavian.

Sementara itu, Senior Representative Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia Office, Hiroyuki Matsuda, menyampaikan bahwa penyakit infeksi masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia.

Ia menilai ancaman resistansi obat yang terus meningkat membuat pengembangan obat baru menjadi semakin mendesak.

"Penemuan obat tidak dapat dicapai oleh satu peneliti atau satu institusi. Dibutuhkan kolaborasi erat lintas disiplin ilmu dan kemitraan yang saling berbagi pengetahuan. Kami berharap simposium ini dapat memperkuat jejaring riset, khususnya bagi peneliti muda, serta melahirkan kolaborasi baru yang mendukung pengembangan obat penyelamat jiwa," tutur Hiroyuki Matsuda.