SDN 1 Gujeg Cirebon Tolak MBG, Orang Tua Siswa Sebut Makanan Kerap Bermasalah, Bukan Sekali Dua Kali
taufik ismail August 04, 2026 09:11 PM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Gujeg, Desa Gujeg, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat ternyata bukan hanya dipicu oleh satu kejadian.

Seorang orang tua siswa mengaku anaknya sudah sejak awal enggan mengonsumsi makanan MBG karena diduga beberapa kali menemukan kondisi lauk yang bermasalah hingga membuatnya merasa mual.

Pengakuan tersebut disampaikan Turkanih, orang tua siswa kelas III SDN 1 Gujeg bernama Herdiansyah, saat diwawancarai media, Selasa (4/8/2026).

Turkanih mengaku, putranya hampir tidak pernah menyantap makanan dari Program MBG sejak pertama kali diterima di sekolah.

"Anak saya kan Herdiansyah, kelas 3. Kalau MBG enggak pernah dimakan, Pak. Mual-mual mulu, jadi enggak pernah diambil. Dikasih temannya," ujar Turkanih.

Menurutnya, makanan tersebut bahkan kerap berakhir di tempat sampah karena anaknya tidak sanggup memakannya.

"Jadi dibuang terus, enggak dimakan. Dari awal tuh memang enggak pernah dimakan," ucapnya. 

Ia menjelaskan, anaknya hanya pernah mau mengonsumsi menu MBG ketika makanan yang dibagikan berupa roti.

Namun, sejak menu berganti menjadi nasi beserta lauk, anaknya memilih tidak menyentuh makanan tersebut.

"Kalau waktu roti dia mau dimakan. Nah, kalau sekarang yang pakai nasi enggak pernah dimakan sama sekali, dibuang," kata dia.

Saat ditanya alasan anaknya selalu menolak makanan MBG, Turkanih mengaku beberapa kali mendapati lauk yang diduga tidak layak dikonsumsi.

"Alasannya kadang-kadang tempenya tuh berjamur. Kadang-kadang baunya berjamur, ayamnya juga begitu. Jadi total enggak dimakan sama sekali," katanya.

Menurut Turkanih, kondisi makanan tersebut membuat anaknya merasa mual bahkan hanya dengan melihat tampilannya.

"Malah lihatnya aja udah mual, Pak. Apalagi dimakan," ujarnya.

Ia menegaskan, anaknya tidak pernah mengalami muntah akibat mengonsumsi MBG karena memang sejak awal memilih tidak memakannya.

"Mualnya mual sendiri. Mual-mual dari lihat makannya tuh dianya enggak bisa. MBG dari awal emang enggak pernah dimakan," ucap Turkanih.

Turkanih juga mengaku sempat melihat sendiri beberapa menu yang menurutnya bermasalah.

"Ada sempat. Tempe, tahu, kadang-kadang ayam," kata dia.

Ketika ditanya apakah makanan tersebut berbau, ia menjawab singkat. "Ya itu, berjamur lah," katanya.

Sebagai orang tua, ia memilih tidak mengambil risiko terhadap kesehatan anaknya.

"Takutnya kan keracunan, Pak. Sebagai orang tua kan takut. Kalau keracunan siapa yang rugi? Kita juga kan sebagai orang tua. Nah, mendingan saya dikasih makan saya sendiri aja, alhamdulillah mau," ujarnya.

Karena alasan tersebut, sebelum berangkat ke sekolah Herdiansyah selalu makan terlebih dahulu di rumah.

"Ya di rumah aja makannya. Sebelum berangkat sekolah dikasih makan dulu. Semaunya dia apa, saya bikinin," ucap Turkanih.

Turkanih pun mengaku mendukung keputusan hasil musyawarah yang menyatakan SDN 1 Gujeg tidak lagi menerima penyaluran MBG.

"Iya, mendukung banget lah. Soalnya kan enggak nyaman bagi anak-anak kitanya," jelas dia.

Bahkan ketika ditanya apakah tetap bersedia menerima MBG jika kualitas makanan diperbaiki, Turkanih menyampaikan pendapatnya secara tegas.

"Yang penting dihapus bae, enggak usah pakai MBG, wis," katanya.

Tangkapan layar sebuah video berdurasi 26 detik yang memperlihatkan seorang perempuan menunjukkan nampan makanan sambil berulang kali mengatakan, 'mambu ayam (bau ayam)' mendadak viral di media sosial. Video itu memicu perhatian publik setelah dikaitkan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Gujeg, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon.
Tangkapan layar sebuah video berdurasi 26 detik yang memperlihatkan seorang perempuan menunjukkan nampan makanan sambil berulang kali mengatakan, 'mambu ayam (bau ayam)' mendadak viral di media sosial. Video itu memicu perhatian publik setelah dikaitkan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Gujeg, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon. (Istimewa)

Sebelumnya Viral Video dan Surat Penolakan MBG

Sebelumnya, sebuah video berdurasi 26 detik yang memperlihatkan seorang perempuan menunjukkan nampan makanan sambil berulang kali mengatakan 'mambu ayam' atau bau ayam viral di media sosial.

Video tersebut dikaitkan dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 1 Gujeg, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, dan memicu perhatian publik.

Tak lama setelah video itu beredar, muncul pula surat pernyataan bertanggal 3 Agustus 2026 yang ditandatangani Kepala SDN 1 Gujeg, Dedi Sutardi, S.Pd. berisi keputusan sekolah tidak lagi menerima penyaluran MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalianyar.

Surat tersebut menyebut keputusan diambil berdasarkan hasil rapat bersama orang tua siswa, komite sekolah, pemerintah desa dan pihak sekolah. 

Beberapa alasan yang dicantumkan antara lain kekhawatiran terhadap mutu makanan, beban tambahan guru dalam distribusi makanan, serta komunikasi yang dinilai kurang responsif dari pihak SPPG.

Saat dikonfirmasi di sekolahnya, Selasa (4/8/2026), Kepala SDN 1 Gujeg Dedi Sutardi menegaskan pihaknya tetap mendukung Program MBG sebagai program pemerintah.

"Sebenarnya kami masih mendukung program pemerintah, niat baik dari Presiden untuk memberi makan anak-anak. Tetapi kenyataannya di bawah seperti ini, kualitas makanannya yang menurut saya kurang sekali," ujar Dedi.

Menurutnya, puncak persoalan terjadi pada Rabu (29/7/2026), ketika sekitar 70 porsi menu ayam disebut berbau sehingga tidak dimakan para siswa.

"Kemarin kejadian hari Rabu tanggal 29 Juli 2026 itu hampir 70 masakan ayam bau. Sehingga anak-anak tidak ada yang makan," katanya.

Dedi mengungkapkan, persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi. 

Ia mengaku sebelumnya sekolah juga pernah menemukan ulat pada mi dan sayuran, apel yang sudah busuk, hingga adanya staples di dalam makanan.

"Dari awal adanya ulat di mi, ulat di sayuran, kemudian apel yang benar-benar sudah busuk, kemudian adanya staples di makanan. Terus terang itu yang membuat kami dan mungkin orang tua akhirnya memutuskan menolak," jelasnya.

Ia juga menyoroti minimnya respons dari pihak SPPG Kalianyar meski sekolah telah beberapa kali menyampaikan keluhan.

Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi agar informasi tersaji secara berimbang.

Baca juga: Mambu Ayam, Viral Video Makanan Bau di Cirebon, SDN 1 Gujeg Kini Tolak MBG

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.