Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menegaskan capaian kinerja jajarannya diukur dari dua sumber utama Key Performance Indicator atau KPI.
Arahan ini disampaikan Sudaryono kepada seluruh jajaran BGN melalui unggahan di media sosialnya, dilansir Selasa (4/8/2026).
Ia menegaskan, rapat yang digelar berkali-kali tidak akan ada artinya jika KPI tersebut tidak tercapai.
Sumber KPI pertama, kata Sudaryono, berasal dari survei Kementerian Kesehatan terkait peningkatan gizi penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis.
Survei ini akan mengukur apakah angka stunting menurun dan status gizi anak-anak membaik.
Sumber KPI kedua berasal dari survei Dewan Ekonomi Nasional terkait multiplier effect program ini terhadap ekonomi kerakyatan.
Selain menegaskan dua sumber KPI, Sudaryono juga menyoroti tiga hambatan utama di internal BGN.
Ia menyebut budaya koruptif yang tengah diusut Kejaksaan sebagai bottleneck pertama yang harus segera dibenahi.
Bottleneck kedua adalah ketergantungan capaian kerja pada pemenuhan KPI itu sendiri, sementara bottleneck ketiga adalah komunikasi internal yang selama ini tertutup.
Sudaryono menegaskan, perintah kepada jajaran SPPG harus disampaikan jelas tanpa ambiguitas, lalu diawasi pelaksanaannya secara ketat.