TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Memasuki awal Agustus yang biasanya menjadi momentum meningkatnya semangat masyarakat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, suasana tersebut belum sepenuhnya dirasakan para pedagang bendera Merah Putih di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Hingga beberapa pekan menjelang peringatan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026, sejumlah pedagang musiman mengaku penjualan perlengkapan kemerdekaan masih belum bergerak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi itu dirasakan langsung oleh Andrian Rizky, pedagang bendera musiman yang membuka lapak di Jalan Marsma R Iswahyudi, Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menurutnya, omzet penjualan yang diperoleh sejak awal Agustus mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca juga: Bendera Merah Putih Paling Diburu Jelang HUT RI di Balikpapan, Pembeli Kantoran Masih Mendominasi
Padahal, berdasarkan pengalamannya selama beberapa tahun terakhir, awal Agustus biasanya menjadi masa ketika masyarakat mulai membeli bendera Merah Putih dan berbagai perlengkapan kemerdekaan untuk dipasang di rumah, lingkungan permukiman, hingga perkantoran.
"Tahun-tahun kemarin tanggal 1 sampai tanggal 5 sudah lumayan pendapatannya, tapi sekarang agak turun. Tahun sekarang beda," ujar Andrian, Senin (3/8/2026).
Andrian mengatakan dirinya mulai berjualan sejak 24 Juli 2026 dan berencana membuka lapak hingga 16 Agustus 2026, sehari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan.
Sejak tahun 2020, ia rutin datang dari Bandung, Jawa Barat, untuk menjual perlengkapan HUT RI di Balikpapan.
Menurutnya, pada periode yang sama tahun lalu kondisi penjualan jauh lebih baik. Bahkan sejak awal Agustus, omzet hariannya mampu mencapai kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta.
Selama sekitar tiga pekan berjualan pada musim kemerdekaan tahun lalu, omzet kotor yang berhasil diperolehnya di Balikpapan bahkan mencapai sekitar Rp19 juta.
Namun, situasi berbeda terjadi pada tahun ini. Hingga awal Agustus 2026, pendapatan hariannya bahkan masih kesulitan menembus angka Rp1 juta.
"Kalau sekarang di bawah Rp 1 juta," ungkapnya.
Berdasarkan perhitungannya, penurunan penjualan pada awal Agustus tahun ini mencapai sekitar 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, Andrian masih berharap kondisi tersebut hanya bersifat sementara dan penjualan akan meningkat seiring semakin dekatnya puncak peringatan Hari Kemerdekaan.
Berharap Penjualan Meningkat Memasuki Pekan Kedua Agustus
Pengalaman selama enam kali berjualan di Balikpapan membuat Andrian memahami pola permintaan masyarakat terhadap perlengkapan kemerdekaan.
Ia menuturkan bahwa periode 1 hingga 10 Agustus umumnya menjadi masa paling ramai karena masyarakat mulai memasang bendera Merah Putih sesuai anjuran pemerintah sekaligus menghias lingkungan menjelang perayaan HUT RI.
Namun hingga awal Agustus tahun ini, lonjakan pembeli tersebut belum terlihat.
"Biasanya meningkat dari tanggal 1 sampai tanggal 10. Sekarang ada penurunan, enggak tahu besok. Mudah-mudahan ada peningkatan kayak dulu," tuturnya.
Harapan serupa kembali ia sampaikan agar penjualan perlengkapan kemerdekaan dapat meningkat hingga masa penutupan lapaknya pada 16 Agustus 2026.
"Mudah-mudahan mulai besok sampai 16 Agustus ada peningkatan," pungkasnya.
Bendera Ukuran Rumah Masih Menjadi Produk Favorit
Meski penjualan secara keseluruhan belum bergairah, Andrian mengatakan terdapat satu jenis produk yang masih paling banyak dicari masyarakat, yakni bendera Merah Putih ukuran standar untuk rumah.
Menurutnya, ukuran tersebut menjadi pilihan utama warga yang ingin mengibarkan bendera di halaman rumah menjelang Hari Kemerdekaan.
"Rata-rata pada nyari ukuran yang kecil, yang buat dikibarkan di halaman rumah," ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Bendera ukuran rumah tersebut dijual dengan harga sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per lembar.
Selain itu, ia juga menyediakan berbagai perlengkapan kemerdekaan lainnya, mulai dari bendera kecil untuk kendaraan bermotor, umbul-umbul, bendera latar berukuran besar (background), hingga berbagai aksesori bertema kemerdekaan.
Umbul-umbul merupakan hiasan berbentuk kain memanjang yang dipasang secara vertikal sebagai dekorasi saat perayaan nasional maupun kegiatan tertentu.
Sementara bendera latar atau background adalah bendera berukuran besar yang umumnya digunakan sebagai dekorasi di kantor, instansi pemerintah, sekolah, maupun lokasi penyelenggaraan upacara.
Harga produk yang dijual bervariasi, mulai Rp10 ribu untuk bendera kecil hingga sekitar Rp400 ribu sampai Rp500 ribu untuk bendera latar berukuran besar.
"Macam-macam jenisnya. Ada yang bendera kecil yang biasanya untuk di motor, ada yang biasa buat di depan rumah, ada juga yang biasanya biaya di kantor-kantor," pungkasnya.
Pembeli Kantoran Masih Mendominasi Transaksi
Andrian menjelaskan, pembeli dari kalangan perkantoran dan instansi masih menjadi penyumbang transaksi terbesar setiap musim kemerdekaan.
Hal itu karena pembelian dari kantor umumnya dilakukan dalam jumlah lebih banyak dibandingkan masyarakat yang biasanya hanya membeli satu atau dua bendera untuk kebutuhan rumah tangga.
"Kantoran kebanyakan. Kalau masyarakat belinya satu-satu, tapi lumayan banyak," tambahnya.
Meski demikian, jumlah pembeli yang datang setiap hari masih belum dapat diprediksi.
Menurutnya, ada hari ketika lapaknya tidak memperoleh transaksi sama sekali, namun pada hari lain pembeli datang secara bergantian.
Seluruh produk yang dipasarkan berasal dari konveksi rumahan di Bandung yang dikelola oleh tetangganya sendiri.
Konveksi merupakan usaha yang memproduksi pakaian atau produk berbahan kain dalam jumlah tertentu, termasuk pembuatan bendera dan perlengkapan dekorasi.
Pernah Berjualan di IKN dan Meraih Omzet Lebih Tinggi
Sebelum kembali memilih Balikpapan sebagai lokasi berjualan, Andrian pernah mencoba peruntungan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada tahun 2023.
Saat itu berkembang informasi bahwa Presiden Joko Widodo akan melaksanakan upacara Hari Kemerdekaan di kawasan IKN sehingga banyak pedagang berharap permintaan perlengkapan kemerdekaan meningkat.
Menurut Andrian, hasil penjualan selama sekitar tiga pekan di kawasan IKN memang lebih besar dibandingkan ketika berjualan di Balikpapan.
Dalam kurun waktu tersebut, omzet kotornya mampu mencapai sekitar Rp22 juta.
"Pendapatannya pas disana, lumayan sih dibanding di sini (Balikpapan)," ujarnya.
Namun tingginya omzet tersebut ternyata diiringi tantangan yang tidak kecil.
Ia mengatakan banyak pedagang lain juga memilih membuka lapak di kawasan IKN sehingga persaingan menjadi jauh lebih ketat dibandingkan Balikpapan.
"Waktu itu yang dagang jadi banyak. Ada isu Jokowi mau ke IKN, mau upacara di sana," ujarnya.
Selain persaingan, biaya operasional selama berjualan di kawasan IKN juga dinilai lebih tinggi.
Menurutnya, biaya transportasi maupun kebutuhan sehari-hari seperti makan lebih besar dibandingkan ketika membuka lapak di Balikpapan.
"Transportasinya sama kebutuhannya buat makan disana lebih mahal daripada disini (Balikpapan)," jelasnya.
Atas pertimbangan tersebut, selama dua tahun terakhir Andrian kembali memilih membuka lapak di Jalan Marsma R Iswahyudi, Balikpapan Selatan karena biaya operasional dinilai lebih terkendali.
Menanti Lonjakan Permintaan Menjelang Hari Kemerdekaan
Meski penjualan pada awal Agustus 2026 masih mengalami penurunan sekitar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, Andrian tetap optimistis permintaan perlengkapan kemerdekaan akan meningkat mendekati puncak peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Pengalaman berjualan selama enam tahun di Balikpapan membuatnya berharap antusiasme masyarakat akan mulai terlihat pada pekan kedua Agustus hingga menjelang 16 Agustus 2026, ketika kebutuhan bendera Merah Putih, umbul-umbul, dan berbagai aksesori kemerdekaan biasanya meningkat.
Dengan tetap mengandalkan pasokan dari konveksi rumahan di Bandung serta pelanggan dari kalangan masyarakat maupun perkantoran, ia berharap musim kemerdekaan tahun ini masih mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan kondisi pada awal Agustus.
"Semoga dagangannya laris sampai di 16 Agustus nanti," pungkasnya.
Kisah Pedagang Bendera Lainnya
Pedagang bendera lainnya di Jalan MT Haryono, Suryadi (45), mengaku sudah lima tahun rutin datang ke Balikpapan setiap musim kemerdekaan.
Ia mengaku sengaja membuka lapak sejak akhir Juli karena biasanya permintaan mulai meningkat memasuki pekan pertama Agustus.
"Kalau sekarang memang masih banyak yang lihat-lihat. Biasanya mulai tanggal 1 sampai 15 Agustus pembeli semakin ramai, baik warga maupun kantor-kantor yang membeli dalam jumlah banyak," ujarnya kepada Wartawan Tribunkaltim.co, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, harga bendera yang dijual bervariasi mulai dari Rp20 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung ukuran. Sementara umbul-umbul dibanderol mulai Rp35 ribu hingga Rp80 ribu.
Suryadi berharap penjualan tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
"Harapannya semua dagangan habis sebelum tanggal 17 Agustus. Kalau cuaca mendukung dan masyarakat antusias pasang bendera, insyaallah rezekinya juga bagus," katanya.
Pedagang lainnya di Jalan Mulawarman, Rohman (39), mengatakan sebagian besar pembelinya berasal dari warga yang ingin mengganti bendera lama yang sudah kusam.
"Banyak yang datang bilang bendera di rumah sudah pudar atau robek, jadi sekalian beli yang baru. Ada juga RT yang beli umbul-umbul untuk lingkungan," tuturnya.
Rohman mengaku momen Agustus menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat dinantikan setiap tahun.
"Jualannya memang cuma sekitar tiga minggu, tapi kalau ramai hasilnya lumayan untuk kebutuhan keluarga. Setelah lewat 17 Agustus, kami kembali ke pekerjaan seperti biasa," ungkapnya.
Sementara itu, di Jalan Soekarno Hatta, Hasan (51) tampak sibuk menata puluhan bendera berbagai ukuran agar mudah dilihat pengendara yang melintas.
Ia mengaku sengaja memilih lokasi di tepi jalan dengan arus kendaraan padat agar lebih mudah menarik perhatian calon pembeli.
"Kalau tempatnya ramai, orang yang lewat biasanya berhenti. Apalagi kalau sudah ingat belum pasang bendera di rumah atau tempat usaha," katanya.
Hasan mengatakan, selain masyarakat umum, pelanggan tetapnya berasal dari sekolah, pelaku usaha hingga perusahaan yang ingin menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan.
"Setiap tahun suasananya selalu berbeda, tapi semangat orang untuk menyambut 17 Agustus tetap ada. Mudah-mudahan tahun ini lebih ramai," harapnya.
(TribunKaltim.co/Ardiana/Zainul)