TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Puluhan warga Desa Bujak, Lombok Tengah, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan yang diduga akibat konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Distribusi menu MBG yang diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan ini dilakukan pada Kamis, 30 Juli 2026.
Namun, dampaknya baru dirasakan para korban pada keesokan harinya, Jumat (31/7/2026).
Salah satu orang tua korban, Januar, mengungkapkan bahwa anaknya yang masih balita mengalami gejala mencret setelah mengonsumsi menu yang dibagikan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa reaksi tubuh terhadap makanan tidak muncul secara instan, melainkan berselang satu hari.
"Kamis kita terima, Jumat paginya itu baru ada reaksi mencret-mencret itu," ucap Januar saat ditemui TribunLombok.com, Selasa (4/8/2026).
Baca juga: 22 Penerima MBG di Lombok Tengah Alami Gangguan Pencernaan, Sampel Makanan Diuji Laboratorium
Menurutnya, kondisi serupa dialami secara merata oleh banyak penerima manfaat lain di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan kelompok balita yang menerima menu sama pada hari tersebut.
Kabar mengenai gejala ini kemudian menyebar cepat di kalangan warga desa melalui percakapan dari mulut ke mulut.
"Ibu-ibu yang balita juga pengakuannya sama. Gak tahu sih yang tingkat SD, PAUD, TK itu gak tahu," katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun TribunLombok.com, total terdapat 22 warga terdampak, terdiri dari kelompok ibu-ibu dan anak-anak balita (B3), yang merasakan sakit perut, pusing, hingga diare setelah mengonsumsi paket makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Para korban mulai merasakan gejala beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi menu MBG pada malam hari.
Surveiler dari Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Salman, menjelaskan bahwa gejala yang dialami warga cukup bervariasi.
"Ada yang hanya sakit perut saja, pusing, muntah. Sakit perut melilit perutnya bukan mencret," tandasnya.
Sebagian besar korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat, termasuk di Pustu Bujak dan beberapa rumah sakit.
Meski jumlah korban cukup signifikan, sebagian besar warga yang sempat dirawat telah diperbolehkan pulang.
"Yang berobat ke Pustu Bujak itu barusan saya ke sana kurang lebih ada 12. Totalnya yang saya dapatin itu tadi 22. Ada ibu, ada anak juga kan B3 ini. Gejalanya hampir sama semua," ungkap Salman.
Kecurigaan warga tertuju pada menu sate ayam dengan bumbu kacang yang disajikan pada hari distribusi.
Berdasarkan pengamatan langsung orang tua korban, terdapat indikasi bahwa pengolahan bumbu kacang tersebut tidak dilakukan dengan sempurna.
"Kalau kita lihat kacangnya itu mentah gak digoreng dulu gitu. Dan baunya sudah gak enak," terang Januar.
Januar menyoroti kebijakan pihak dapur yang menyamakan menu untuk balita dengan menu siswa sekolah dasar.
Masalah utama yang dikeluhkan adalah rasa makanan yang dianggap terlalu pedas untuk sistem pencernaan anak usia dini.
"Masak menu bayi balita itu pedas, sama disamakan dengan yang SD. Gak ada klarifikasi dari pihak dapur, hanya permohonan maaf saja," keluh Januar.
Menanggapi laporan tersebut, tim dari Dinas Kesehatan Lombok Tengah segera turun tangan melakukan investigasi dan mengamankan barang bukti.
Petugas langsung menuju dapur SPPG terkait untuk mengambil sampel makanan cadangan guna memastikan penyebab.
Salman menjelaskan bahwa langkah pengamanan sampel dilakukan melalui bank sampel yang tersedia di masing-masing SPPG.
"Kita mau mengamankan sampel Bang soalnya sampel yang tim kami yang di Puskesmas itu sampelnya kan tidak ditemukan di masyarakat. Jadinya yang kita amankan di sini adalah bank sampel. Di SPPG itu masing-masing mempunyai bank sampel," ucap Salman saat mengunjungi dapur MBG terkait, Selasa (4/8/2026).
Adapun menu MBG yang dikonsumsi warga pada hari Kamis tersebut terdiri dari nasi dengan lauk pauk yang cukup beragam.
Sampel yang diamankan petugas meliputi seluruh komponen makanan yang disajikan pada tanggal kejadian.
"Di sini ada sate lengkap dengan bumbunya, terus ada tahu ada nasi, semangka sama ada timun," urai Salman.
Seluruh sampel makanan tersebut kini telah dikirim ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram untuk dilakukan pengujian toksikologi dan mikrobiologi.
Meskipun indikasi awal mengarah pada dugaan keracunan makanan, pihak otoritas kesehatan berhati-hati dalam memberikan label resmi sebelum hasil uji laboratorium keluar.
"Bukan keracunan, tapi keamanan pangan di sini. Jadinya kita gak bisa bilang keracunan makanan. Gak bisa. Cuma kita akan periksa, nanti hasil lab yang berbicara di sana," tegas Salman.
Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Lombok Tengah, Muhammad Ihsan, menegaskan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan insiden ini sebagai kasus keracunan sebelum ada hasil pemeriksaan laboratorium yang komprehensif.
"Kita belum bisa ya kita sebutkan keracunan, karena keracunan itu harus kita cek lab, kemudian banyak ceknya baru kita bisa menyampaikan keracunan atau apa," ungkap Ihsan.
Sebagai dampak dari peristiwa ini, aktivitas di dapur pendistribusian yang berlokasi di jalan raya utama dekat Desa Bujak terpantau berhenti total tanpa ada kegiatan operasional.
Ihsan mengonfirmasi bahwa penghentian ini dilakukan atas arahan langsung dari pihak pusat.
"Memang tidak dioperasionalkan, Bang. Karena arahan dari pusat jangan dulu dioperasionalkan. Masih menunggu arahan atau petunjuk dari pusat," sebutnya.
Sebagai informasi, Dapur Bujak 1 melayani sekitar 2.000 penerima manfaat yang mencakup berbagai tingkat pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga Madrasah Aliyah (MA).
Dengan dihentikannya operasional dapur ini, segala bentuk pembelanjaan bahan baku dan distribusi makanan turut dihentikan sementara.
Ihsan mengungkapkan bahwa pihaknya telah melayangkan laporan pendahuluan terkait insiden ini kepada Koordinator Pelaksana Program Gizi (KPPG) dan pimpinan pusat BGN.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti dari keluhan kesehatan yang dialami warga.
Terkait kemungkinan adanya sanksi apabila terbukti terjadi kelalaian atau unsur kesengajaan dalam pengolahan makanan, Ihsan menegaskan bahwa hal tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan kebijakan pimpinan pusat berdasarkan hasil laporan tim khusus yang bekerja di lapangan.
Saat ini, validasi data korban masih terus dilakukan bersama pihak Kelompok Sasaran Penerima Gizi (KSPG) guna memastikan jumlah pasti warga yang terdampak insiden ini.
Dinas Kesehatan Lombok Tengah maupun Korwil BGN Lombok Tengah meminta masyarakat untuk tetap tenang sembari menunggu hasil pengecekan laboratorium dari BBPOM Mataram, yang nantinya akan menjadi dasar bagi pernyataan resmi terkait penyebab pasti insiden dugaan keracunan MBG di Desa Bujak ini.
(*)